Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026.

Tabooo.id – Suara gamelan belum menggema ketika puluhan Abdi Dalem melangkah keluar dari kompleks Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Mereka membawa dua gamelan pusaka, Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari, menuju Masjid Ageng Kraton Surakarta.

Prosesi Miyosaken Gongsa Sekati menjadi bagian dari rangkaian Garebeg Mulud Sekaten Be 1960 Tahun Jawa atau 2026 Masehi.

Kraton membuka rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui perjalanan dua gamelan pusaka itu.

Dua gamelan tersebut tidak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Keduanya membawa sejarah panjang Sekaten yang terus hidup di Solo.

Ini Belum Selesai

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Canthik Rajamala: Wajah Garang yang Menjaga Perjalanan Jawa

Dua Gamelan Keluar dari Kraton

KGPH Panembahan Adipati Dipokusumo, yang akrab masyarakat sapa Gusti Dipo, menjelaskan perjalanan kedua gamelan pusaka tersebut.

Puluhan Abdi Dalem membawa Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari keluar dari kompleks Kraton Surakarta menuju Masjid Ageng Kraton Surakarta.

“Kedua gamelan tersebut dikeluarkan dari kompleks Kraton Surakarta dan dibawa menuju ke Masjid Ageng Kraton Surakarta. Kedua gamelan tersebut kemudian diletakkan di Pagongan yang berada di halaman depan sisi Selatan dan Utara dari Masjid Ageng Kraton Surakarta,” ujar Gusti Dipo.

Setelah tiba di Masjid Ageng, rombongan menempatkan kedua gamelan di Pagongan.

Kanjeng Kyai Guntur Madu menempati Pagongan di satu sisi. Kanjeng Kyai Guntur Sari menempati Pagongan lainnya.

Kedua Pagongan berada di halaman depan Masjid Ageng Kraton Surakarta, pada sisi selatan dan utara.

Dari tempat inilah, suara Gongsa Sekati kemudian mengiringi rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Abdi Dalem Membawa Pusaka dengan Khidmat

Prosesi Miyosaken Gongsa Sekati berlangsung khidmat.

Puluhan Abdi Dalem membawa setiap bagian gamelan dengan penuh perhatian. Mereka mengatur langkah dan menjaga perjalanan kedua pusaka tersebut hingga tiba di Masjid Ageng.

Tidak ada gerakan yang tergesa-gesa.

Pemandangan itu menunjukkan posisi penting gamelan Sekati dalam tradisi Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari bukan sekadar alat musik. Keduanya membawa jejak sejarah dan menjadi bagian dari warisan budaya Kraton Surakarta.

Masyarakat Kraton terus menjalankan tata cara yang mereka warisi dari generasi sebelumnya.

Ini bukan sekadar perjalanan gamelan. Ini adalah cara tradisi terus menjaga dirinya tetap hidup.

Gamelan Menjadi Jalan Syiar Islam

Gusti Dipo menyampaikan, dua set gamelan Sekaten memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Jawa pada era Wali Sanga.

Pada masa itu, para penyebar Islam memakai bunyi gamelan untuk menarik masyarakat.

Masyarakat datang ke kawasan masjid setelah mendengar suara gamelan. Para ulama kemudian menyampaikan syiar agama kepada mereka.

Cara tersebut menunjukkan pendekatan dakwah yang memakai akulturasi budaya.

Wali Sanga tidak menjauhkan masyarakat dari budaya yang telah mereka kenal. Mereka memakai budaya sebagai jalan untuk mengenalkan ajaran Islam.

“Istilah Sekaten berasal dari syahadatain atau dua kalimat syahadat. Zaman dulu, Wali Sanga melakukan syiar agama menggunakan akulturasi budaya untuk menarik masyarakat. Salah satunya dengan menabuh gamelan,” ujar dia.

Dinasti Mataram Islam kemudian melanjutkan tradisi tersebut. Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat hingga kini masih menjalankan tradisi itu dalam rangkaian Sekaten.

Di sinilah Sekaten menunjukkan lapisan maknanya.

Sekaten bukan sekadar pesta budaya. Tradisi ini membawa jejak syiar Islam yang tumbuh bersama budaya Jawa.

Pukul 13.00 WIB, Gongsa Sekati Mulai Berbunyi

Usai prosesi Miyosaken Gongsa Sekati, Kraton melanjutkan acara dengan Ngungelaken Gongsa Sekati.

Tepat pukul 13.00 WIB, para pengrawit mulai menabuh kedua gamelan pusaka.

Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari kembali mengeluarkan suaranya.

Tabuhan pertama menandai dimulainya rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam tradisi Sekaten.

Sebelumnya, puluhan Abdi Dalem membawa kedua gamelan dari dalam kompleks Kraton Surakarta menuju Masjid Ageng. Setelah itu, rombongan menempatkan kedua gamelan di dua Pagongan.

Saat waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, suasana memasuki babak berikutnya.

Sekaten mulai terdengar.

Suara gamelan mengisi kawasan Masjid Ageng Kraton Surakarta. Tabuhan itu juga menghubungkan masyarakat hari ini dengan sejarah panjang syiar Islam di Jawa.

Gamelan Akan Berbunyi Selama Tujuh Hari

Ketua Lembaga Dewan Adat atau LDA Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koes Moertiyah, yang masyarakat kenal sebagai Gusti Moeng, menjelaskan tujuan penabuhan gamelan Sekaten.

Menurut Gusti Moeng, Kraton menggelar penabuhan gamelan untuk memperingati Sekaten dan menyambut bulan kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW.

Para pengrawit akan memainkan gamelan pusaka itu setiap hari selama tujuh hari berturut-turut.

Namun, jadwal penabuhan pada hari pertama memiliki aturan tersendiri.

Khusus Kamis, para pengrawit memainkan gamelan hingga pukul 15.00 WIB. Setelah itu, mereka menghentikan penabuhan karena memasuki malam Jumat atau prei.

Mereka akan kembali memainkan gamelan pada Jumat siang setelah masyarakat menyelesaikan salat Jumat.

“Mulai ditabuh jam setengah dua siang. Besok [Kamis] hanya sampai jam tiga sore, karena masuk malam Jumat jadi libur [prei]. Nanti Jumat sehabis selesainya salat Jumat, baru mulai ditabuh lagi,” ujar Gusti Moeng saat ditemui awak media, Rabu (19/8/2026).

Selama tujuh hari, suara Gongsa Sekati akan mengiringi rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sekaten Berawal dari Syahadatain

Gusti Moeng mengatakan masyarakat telah menjalankan tradisi Sekaten secara turun-temurun sejak era Kesultanan Demak.

Kraton Surakarta kemudian meneruskan tradisi tersebut sebagai kerajaan Islam dan memakainya sebagai salah satu sarana syiar agama.

Menurut Gusti Moeng, nama Sekaten berasal dari kata Syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat.

Pada masa lalu, masyarakat datang ke kawasan masjid untuk mendengarkan gamelan. Para ulama kemudian mengajak mereka mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Dulu untuk syiar Islam, semua masyarakat yang masuk ke kawasan masjid untuk mendengarkan gamelan diharuskan untuk membaca dua kalimat syahadat. Itulah maknanya,” paparnya.

Gamelan menjadi daya tarik. Syahadat menjadi pesan.

Dari pertemuan keduanya, lahir tradisi Sekaten yang terus berjalan hingga hari ini.

Ini bukan sekadar suara dari gamelan. Setiap tabuhan membawa jejak pertemuan antara budaya Jawa dan syiar Islam.

Puncak Sekaten pada 26 Agustus

Rangkaian Sekaten 2026 akan mencapai puncaknya pada 26 Agustus 2026.

Kraton akan menggelar Grebeg Maulid di halaman Masjid Agung Solo.

Keluarnya gunungan akan menjadi penanda utama puncak rangkaian tersebut.

Selama beberapa hari ke depan, masyarakat masih dapat datang ke kawasan Masjid Ageng untuk mendengarkan suara Gongsa Sekati dan menyaksikan rangkaian tradisi.

Dari dalam Kraton menuju halaman Masjid Ageng, perjalanan dua gamelan pusaka itu membawa satu cerita panjang.

Abdi Dalem membawa pusaka.

Para pengrawit menghidupkan suara gamelan.

Masyarakat datang dan memenuhi kawasan Sekaten.

Kraton meneruskan tradisi.

Tradisi tidak bertahan hanya karena usia. Tradisi bertahan karena selalu ada orang yang datang, menjalankan, dan meneruskannya.

Saat Gongsa Sekati kembali berbunyi di Solo, sejarah tidak tinggal diam di masa lalu. Ia kembali bersuara.@eko

Tags: Kraton SurakartaMasjid AgengMaulud NabiPasar SekatenSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Canthik Rajamala: Wajah Garang yang Menjaga Perjalanan Jawa

Canthik Rajamala: Wajah Garang yang Menjaga Perjalanan Jawa

by eko
Agustus 20, 2026

Canthik Rajamala menyimpan cerita tentang perjalanan, perlindungan, dan identitas budaya Jawa. Mengapa wajah garang ini menempati bagian depan perahu? Tabooo.id...

Gamelan Berbunyi, Tradisi Nginang Kembali Mengikat Kenangan

Gamelan Berbunyi, Tradisi Nginang Kembali Mengikat Kenangan

by eko
Agustus 20, 2026

Lastri, 65 tahun, warga Sukoharjo, terus mengikuti tradisi nginang saat Sekaten sejak sang ibu mengenalkannya pada usia 15 tahun. Tabooo.id...

Viral Pasangan di Balekambang, Pemkot Solo Perketat Patroli Sore

Viral Pasangan di Balekambang, Pemkot Solo Perketat Patroli Sore

by eko
Agustus 17, 2026

Video pasangan diduga berbuat mesum di Balekambang Solo viral. Pemkot memberi teguran dan memperkuat patroli di titik rawan. Tabooo.id: Surakarta...

Next Post
Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

Miyos Gangsa Sekati Memanas, Dua Kubu Keraton Beda Klaim

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id