Tabooo.id: Nasional – Universitas Gadjah Mada langsung menindaklanjuti teror terhadap Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Teror muncul setelah Tiyo menyuarakan kasus tragis seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, menyatakan pimpinan universitas segera menghubungi Tiyo. UGM juga menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk memantau dan melindungi Ketua BEM. Andi menegaskan UGM bertanggung jawab melindungi seluruh civitas akademika dari ancaman atau teror dari pihak mana pun.
Ancaman yang Mengintai Ketua BEM
Tiyo menghadapi intimidasi berupa ancaman langsung, penguntitan, dan pemotretan oleh orang tak dikenal pada 9-11 Februari 2026. Salah satu pelaku mengirim pesan dari nomor tak dikenal yang berisi ancaman penculikan. Tiyo menyampaikan hal itu kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Pada 11 Februari 2026, dua pria dewasa bertubuh tegap menguntit Tiyo di sebuah kedai. Tiyo sempat mengejar mereka, tetapi keduanya berhasil melarikan diri. Ia menggambarkan kedua pria tersebut bertubuh tegap, masih relatif muda, dan memotretnya dari jarak jauh.
Suara Kebenaran yang Memicu Respons
Tiyo menyampaikan kasus bunuh diri anak di NTT ke media nasional. Pernyataannya kemudian memicu reaksi dari pihak tertentu. Meski menerima intimidasi, Tiyo menegaskan sikapnya tidak berubah.
Melalui akun pribadinya di Instagram, Tiyo menulis bahwa ia dan BEM UGM tidak akan takut atau gentar. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang memberi dukungan moral sehingga ia tetap kuat menghadapi tekanan.
Perlindungan dan Refleksi Publik
Kasus ini menegaskan peran universitas dalam melindungi mahasiswa yang berani menyuarakan isu sosial sensitif. UGM menempatkan perlindungan mahasiswa sebagai tanggung jawab moral sekaligus kewajiban institusi.
Kasus ini juga mengingatkan publik bahwa aktivisme sering menghadapi tekanan tersembunyi. Ancaman terhadap mahasiswa menunjukkan kerentanan mereka saat memperjuangkan kebenaran di tengah kompleksitas sosial dan politik. Keberanian bersuara memang bisa memicu kegelisahan sebagian pihak, tetapi langkah itu sering menjadi bagian dari perjuangan menegakkan keadilan. @dimas




