Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Aspirasi Harus Berkali-kali Menegaskan Diri Tak Ditunggangi

by eko
Agustus 26, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Warga Pati ke DPR dan menolak tudingan gerakannya ditunggangi. Mengapa aspirasi rakyat selalu harus membuktikan dirinya murni?

Tabooo.id – Lima bus bergerak dari Pati menuju Jakarta. Tujuan mereka jelas, yakni Gedung DPR RI.

Mereka membawa tuntutan yang tak ringan. Warga mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset. Mereka juga mendorong hukuman mati bagi koruptor.

Namun, sebelum tuntutan itu sampai ke parlemen, muncul pertanyaan lain. Siapa sebenarnya yang berdiri di belakang gerakan ini?

Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, langsung membantah dugaan tersebut. Ia menegaskan AMPB tidak menjadi kendaraan kelompok politik tertentu.

Botok juga membantah hubungan AMPB dengan kelompok yang ia sebut sebagai “geng Solo” maupun kelompok penguasa.

Ini Belum Selesai

Saat Komunitas Bikers Tak Cuma Gas Bareng

Program Sipil Bernuansa Militer, Disiplin atau Politik Loyalitas?

Menurutnya, keresahan warga melahirkan gerakan itu. Bukan ruang rapat elite. Bukan pula pesanan politik.

“Ini murni gerakan rakyat, rakyat biasa yang berasal dari kampung,” kata Botok di depan Gedung DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Kenapa Harus Berkali-kali Membantah?

Di titik ini, muncul pertanyaan yang menarik.

Kenapa gerakan warga harus berkali-kali menegaskan bahwa tidak ada pihak yang menungganginya?

Pertanyaan itu mungkin menggambarkan wajah politik kita hari ini. Ketika warga bergerak, publik sering mencari bayangan elite di belakang mereka.

Seolah masyarakat tidak bisa marah sendiri, seolah warga tidak mampu berkonsolidasi dan seolah setiap gerakan harus memiliki sponsor politik.

Padahal, keresahan bisa tumbuh tanpa instruksi dari siapa pun.

AMPB juga membantah hubungan dengan kelompok lain yang pernah mengatasnamakan masyarakat Pati saat menggelar aksi di DPR RI.

Botok mengatakan AMPB telah bergerak langsung di Pati sejak 13 Agustus. Mereka menggelar aksi di Kantor Bupati Pati dan DPRD Kabupaten Pati.

Karena itu, ia meminta publik tidak menyamakan AMPB dengan kelompok lain hanya karena sama-sama membawa nama Pati.

“Kita tidak kenal dengan mereka. Selama aksi di Pati mulai 13 Agustus sampai sekarang, kami tidak pernah melihat mereka membuat aksi. Mereka bukan bagian dari AMPB,” ujarnya.

Dari Kampung ke Senayan

Mobilisasi menuju Jakarta menunjukkan satu hal. Keresahan lokal kini ingin mengetuk pintu politik nasional.

Lima bus membawa massa dari Pati pada Rabu siang. Mereka memperkirakan tiba di Jakarta pada malam hari.

Sebagian massa bahkan sudah lebih dulu berada di Ibu Kota.

Botok mengatakan persiapan aksi hampir selesai. AMPB juga telah membangun konsolidasi dengan warga dari berbagai daerah.

“Kalau terkait demo, tinggal eksekusi. Kami sudah konsolidasi dengan kawan-kawan di berbagai daerah,” katanya.

Namun, perjuangan turun ke jalan tidak sesederhana meneriakkan tuntutan.

Massa harus mengatur perjalanan. Mereka juga harus mencari tempat beristirahat dan menyiapkan kebutuhan logistik selama berada di Jakarta.

Sebagian anggota AMPB sebelumnya sempat bermalam di kediaman keluarga Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Namun, mereka kemudian mencari tempat singgah lain. Keluarga Gus Dur dijadwalkan berangkat ke Jombang untuk menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Botok mengatakan warga dan masyarakat membantu memenuhi kebutuhan biaya rombongan melalui swadaya dan donasi.

Di sinilah perdebatan soal “siapa yang menunggangi” kembali menghadirkan ironi.

Gerakan warga harus menjelaskan asal biaya, jaringan, bahkan tempat mereka beristirahat. Mereka harus membuktikan bahwa keresahan itu benar-benar lahir dari warga.

Seolah suara rakyat baru sah setelah mereka membuktikan bahwa tidak ada orang kuat yang berbisik dari belakang layar.

Tuntut Perampasan Aset dan Hukuman Mati Koruptor

AMPB menjadwalkan aksi di depan Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026).

Mereka membawa dua tuntutan utama. Pertama, DPR dan pemerintah harus segera mengesahkan RUU Perampasan Aset.

Kedua, mereka mendorong penerapan hukuman mati bagi koruptor.

Botok menegaskan massa tidak datang untuk membuat kerusuhan. Ia juga mengatakan AMPB tidak memiliki agenda untuk menjatuhkan pemerintahan.

“Yang kami bawa adalah aspirasi pemberantasan korupsi. Tidak ada agenda lain di luar itu,” ujarnya.

Tuntutan hukuman mati bagi koruptor tentu akan memicu perdebatan.

Sebagian orang melihat tuntutan itu sebagai bentuk kemarahan publik terhadap korupsi yang terus berulang. Namun, sebagian lainnya mempertanyakan efektivitas hukuman ekstrem.

Masalah korupsi memang tidak hanya bergantung pada berat atau ringannya hukuman.

Korupsi tumbuh ketika celah kekuasaan terbuka. Korupsi juga berkembang saat pengawasan melemah dan pelaku merasa kebal terhadap hukum.

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menaikkan ancaman hukuman. Negara juga harus menutup celah yang memungkinkan korupsi terus tumbuh.

Ini Bukan Sekadar Demo, Ini Soal Kepercayaan

Aksi warga Pati membawa persoalan yang lebih besar dari demonstrasi satu hari.

Ini bukan sekadar kejadian. Ini pola.

Masyarakat berkali-kali melihat kasus korupsi muncul dengan wajah berbeda. Perlahan, kepercayaan terhadap sistem ikut terkikis.

Ketika rakyat merasa jalur biasa tidak cukup mendengar suara mereka, jalanan kembali menjadi ruang untuk berbicara.

Lalu muncul pertanyaan lain. Apakah setiap suara rakyat harus lebih dulu dicurigai sebagai kepanjangan tangan elite?

Kecurigaan tentu penting dalam politik. Politik penuh kepentingan dan publik berhak mempertanyakan siapa pun.

Namun, kecurigaan yang berlebihan juga bisa membuat kita melupakan satu kemungkinan sederhana: rakyat bisa bergerak karena mereka memang benar-benar resah.

AMPB telah menyampaikan sikapnya. Mereka menyebut warga melahirkan gerakan tersebut dan membiayai perjalanan melalui swadaya serta donasi masyarakat.

Kini, panggung berikutnya berada di depan Gedung DPR RI.

Pertanyaannya bukan hanya soal berapa banyak massa yang akan datang.

Pertanyaan yang lebih besar adalah: setelah warga membawa keresahan dari kampung ke Senayan, apakah ada yang benar-benar mau mendengar?

Atau, kita akan kembali sibuk mencari siapa yang menunggangi, lalu lupa mendengar alasan kenapa rakyat memilih bergerak?

Tags: AMPBBotok PatiRUU Perampasan AsetWarga Pati

Kamu Melewatkan Ini

Sibuk Cari Penunggang, Lupa Dengar Tuntutan

Sibuk Cari Penunggang, Lupa Dengar Tuntutan

by eko
Agustus 26, 2026

Sibuk Cari Penunggang, Lupa Dengar Tuntutan Warga Pati ke DPR membawa isu korupsi, tetapi publik justru lebih sibuk mencari siapa...

Empat Suara Menuju Senayan, DPR Jadi Titik Temu Tuntutan dan Dukungan

Empat Suara Menuju Senayan, DPR Jadi Titik Temu Tuntutan dan Dukungan

by dimas
Agustus 26, 2026

Empat kelompok dengan tuntutan berbeda akan menuju Senayan pada 27 Agustus 2026. Dari RUU Perampasan Aset hingga dukungan MBG, DPR...

27 Agustus Belum Revolusi: Membaca Politik Indonesia lewat Aksi Massa Tan Malaka

27 Agustus Belum Revolusi: Membaca Politik Indonesia lewat Aksi Massa Tan Malaka

by Tabooo
Agustus 26, 2026

Menjelang 27 Agustus 2026, tekanan politik meningkat, tetapi Indonesia belum berada dalam situasi revolusioner. Lewat Aksi Massa, Tan Malaka justru...

Next Post
Bantuan Perbaikan Rumah Korban Gempa NTT Capai Rp30 Juta

Bantuan Perbaikan Rumah Korban Gempa NTT Capai Rp30 Juta

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id