Sibuk Cari Penunggang, Lupa Dengar Tuntutan Warga Pati ke DPR membawa isu korupsi, tetapi publik justru lebih sibuk mencari siapa yang berada di belakang gerakan mereka.
Tabooo.id – Lima bus bergerak dari Pati menuju Jakarta. Mereka tidak datang untuk wisata. Mereka menuju Gedung DPR RI dengan tuntutan yang jelas: pengesahan RUU Perampasan Aset dan langkah lebih keras terhadap koruptor.
Tapi sebelum tuntutan itu mendapat perhatian, pertanyaan lain lebih dulu ramai.
Siapa yang menunggangi?
Pertanyaan itu terdengar biasa dalam politik Indonesia. Bahkan terlalu biasa.
Setiap ada massa bergerak, publik langsung mencari dalang. Siapa sponsornya? Siapa yang membiayai? Elite mana yang bermain di belakang layar?
Seolah rakyat tidak punya kemampuan untuk marah tanpa perintah.
Seolah warga tidak bisa berkumpul tanpa ada yang menggerakkan dari ruang rapat elite.
Yang Dicari Selalu Orang di Belakang
Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Supriyono alias Botok, sudah membantah tudingan tersebut.
Ia mengatakan gerakan itu lahir dari keresahan warga. Bukan dari kelompok politik. Bukan pula dari kelompok yang ia sebut sebagai “geng Solo”.
AMPB bahkan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan kelompok lain yang juga pernah membawa nama Pati.
Namun kecurigaan tetap menjadi bayangan.
Di sinilah masalahnya.
Kita sering lebih tertarik melihat siapa yang berdiri di belakang massa daripada mendengar apa yang diteriakkan massa.
Padahal, dua hal itu berbeda.
Menelusuri kepentingan politik tentu penting. Publik tidak boleh menelan setiap gerakan mentah-mentah.
Tapi jangan sampai kecurigaan berubah menjadi alasan untuk mengabaikan substansi.
Karena ketika semua energi habis untuk mencari “penunggang”, tuntutan di depan mata bisa hilang begitu saja.
Rakyat Diam Salah, Bergerak Juga Salah
Rakyat diam, kita menyebut mereka apatis, rakyat bergerak, kita mencurigai mereka dan rakyat tidak peduli politik, kita bilang demokrasi sedang sakit.
Tapi ketika rakyat mulai turun ke jalan, kita buru-buru bertanya siapa yang membayar.
Lucu juga.
Kita ingin masyarakat kritis, tetapi tampaknya tidak selalu siap melihat masyarakat benar-benar bergerak, kita ingin rakyat bersuara, selama suaranya tidak terlalu keras
dan kita ingin rakyat peduli, selama kepeduliannya tidak sampai mengetuk pintu kekuasaan.
Begitu mereka datang beramai-ramai, kita mulai mencari remote control-nya.
Memangnya setiap rakyat yang bergerak harus punya operator?
Korupsi Tetap Ada di Depan Mata
AMPB membawa tuntutan soal pemberantasan korupsi.
Mereka mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset. Mereka juga mendorong hukuman mati bagi koruptor.
Kita boleh setuju atau tidak setuju dengan semua tuntutan itu.
Perdebatan soal hukuman mati, misalnya, jelas tidak sesederhana meneriakkan hukuman yang lebih berat.
Namun satu hal tidak berubah: korupsi tetap menjadi masalah yang nyata.
Itulah yang seharusnya ikut memenuhi ruang perdebatan.
Bagaimana negara memperkuat pengawasan, bagaimana hukum memberi efek jera, dan bagaimana kekayaan hasil kejahatan bisa ditelusuri?
Dan yang paling penting, kapan sistem benar-benar membuat korupsi semakin sulit dilakukan?
Tapi lagi-lagi, kita bisa kehilangan semua pertanyaan itu jika diskusi berhenti pada satu tuduhan: aksi ini ditunggangi siapa?
Ini Bukan Sekadar Soal Demo
Ini bukan sekadar kejadian. Ini pola.
Kita hidup dalam politik yang membuat publik terbiasa curiga. Tidak salah. Kecurigaan sering menyelamatkan demokrasi dari permainan di belakang layar.
Namun ada batas antara kritis dan sinis.
Kritis berarti bertanya siapa yang terlibat, lalu tetap memeriksa tuntutannya.
Sinis berarti menuduh ada penunggang, lalu merasa tidak perlu lagi mendengar apa yang mereka perjuangkan.
Itu berbahaya.
Sebab cara termudah membungkam aspirasi bukan selalu dengan melarang demonstrasi.
Kadang cukup dengan membuat publik sibuk meragukan apakah kemarahan itu asli.
Massa pun akhirnya harus menjelaskan semuanya.
Siapa mereka.
Dari mana mereka datang.
Siapa yang membiayai perjalanan.
Siapa yang memberi dukungan.
Seolah kemarahan rakyat membutuhkan sertifikat keaslian sebelum layak didengar.
Jangan Terlalu Lama Melihat ke Belakang
Lima bus bergerak dari Pati.
Mereka menuju Jakarta dengan tuntutan yang mereka bawa sendiri.
Publik tentu berhak bertanya. Siapa pun yang bermain dalam politik harus siap diperiksa.
Tapi jangan sampai kita hanya sibuk melihat ke belakang massa.
Jangan-jangan, yang kita cari-cari tidak pernah menjadi masalah utamanya.
Karena sementara kita sibuk mencari siapa yang menunggangi, ada pertanyaan yang jauh lebih sederhana.
Sudahkah kita benar-benar mendengar apa yang mereka tuntut?
Sebab bisa jadi, kita terlalu fokus mencari penunggang di belakang.
Sampai lupa bahwa keresahan sudah berdiri tepat di depan mata. @eko








