Tabooo.id: Deep – Di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta, seorang anak lelaki berdiri di atas aspal retak sambil menggenggam tas sekolah yang mulai sobek. Ia menatap jalan kecil di depannya, seolah mencoba menebak masa depan yang belum tentu ramah.
“Besok aku harus bantu orang tua di pasar lagi,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu memotong banyak teori tentang kerja keras. Di Indonesia, kerja keras sering dipuji sebagai kunci kesuksesan. Namun kenyataan di lapangan berkata lain: tidak semua orang memiliki tangga yang sama untuk naik.
Masalah ini bukan sekadar kisah satu keluarga di gang sempit kota besar. Data menunjukkan mobilitas sosial masyarakat Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Mobilitas Sosial yang Lambat
Indeks Mobilitas Sosial global menempatkan Indonesia di peringkat ke-67. Posisi ini berada di bawah Vietnam, Thailand, dan Filipina.
Artinya sederhana tetapi menyakitkan: anak-anak dari keluarga miskin memiliki peluang kecil untuk naik ke kelas menengah.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai kerja keras saja tidak cukup untuk mengubah posisi sosial seseorang.
“Kerja keras tidak otomatis menaikkan status sosial. Ada tembok struktural yang menahan orang miskin tetap miskin,” ujarnya.
Dengan kata lain, banyak orang sudah berlari sekuat tenaga. Namun jalur yang mereka lalui justru penuh penghalang.
Sistem yang Tidak Netral
Masalah utama bukan hanya soal usaha pribadi. Struktur ekonomi dan kebijakan publik sering memberi keuntungan lebih besar kepada kelompok yang sudah berada di atas.
Korupsi dan monopoli sumber daya alam oleh segelintir elite menggerus potensi ekonomi masyarakat kecil. Pada saat yang sama, akses pendidikan berkualitas masih timpang. Layanan publik pun belum merata.
Akibatnya, banyak keluarga miskin kesulitan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Bhima menilai kebijakan pajak ikut memperparah situasi ini. Menurutnya, sistem pajak yang regresif menggerus daya beli masyarakat kelas bawah.
Di sisi lain, kelompok kaya kerap menikmati insentif fiskal dan program pengampunan pajak.
“Desain kebijakan sering memberi jalan pintas bagi orang kaya. Sementara itu, orang miskin harus menunggu kesempatan yang hampir tidak pernah datang,” katanya.
Lingkaran Setan Kemiskinan
Ekonom senior Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa kemiskinan sering bergerak dalam pola yang berulang.
Pertama, pendidikan rendah membatasi jenis pekerjaan yang bisa diakses seseorang. Akibatnya, banyak orang hanya memperoleh pekerjaan dengan pendapatan rendah.
Selanjutnya, pendapatan yang kecil membuat keluarga sulit membiayai pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Siklus ini kemudian berulang pada generasi berikutnya.
Selain itu, banyak keluarga miskin tidak memiliki modal untuk membuka usaha sendiri. Karena itu mereka tetap bekerja sebagai buruh, petani, atau pekerja industri.
“Peluang membuka usaha yang bisa mengubah status sosial sangat terbatas,” jelasnya.
Ketimpangan Masih Terlihat Jelas
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rasio gini Indonesia pada September 2025 berada di angka 0,363.
Angka ini memang sedikit lebih baik dibanding Maret 2025. Namun ketimpangan tetap terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Di perkotaan, rasio gini mencapai 0,383. Sebaliknya, di perdesaan angkanya berada di 0,295.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa urbanisasi tidak otomatis membawa kesejahteraan bagi semua orang.
Pada saat yang sama, jumlah penduduk miskin masih mencapai 23,36 juta orang atau sekitar 8,25 persen dari total populasi Indonesia.
Angka tersebut memang turun sekitar 490 ribu orang dibanding Maret 2025. Namun skala masalahnya tetap besar.
Di kota, tingkat kemiskinan berada di sekitar 6,6 persen. Sementara itu, di desa angkanya masih mencapai 10,72 persen.
Artinya, sebagian besar masyarakat masih berjalan di jalur ekonomi yang sempit.
Suara dari Mereka yang Paling Terdampak
Di tengah angka statistik yang dingin, ada suara manusia yang sering luput dari perhatian.
Seorang ibu di Cianjur menceritakan pengalaman keluarganya.
“Anak saya belajar sampai SMP, tapi peluang kerja tetap kecil. Kalau kerja di kota, biaya hidup tinggi. Kalau di desa, upahnya rendah,” katanya.
Cerita serupa terdengar dari berbagai daerah, mulai dari pedesaan Jawa Timur hingga wilayah Kalimantan.
Bagi banyak keluarga, pendidikan tinggi terasa seperti kemewahan. Sementara itu, pekerjaan layak semakin sulit dijangkau.
Para pekerja berada di ujung rantai ekonomi. Mereka bekerja keras setiap hari, tetapi keuntungan terbesar sering mengalir ke lapisan atas.
Sistem Lebih Kuat dari Usaha
Pemerintah memang menjalankan berbagai program untuk memperbaiki pendidikan dan memperluas lapangan kerja.
Namun di lapangan, banyak program tersendat oleh birokrasi panjang dan praktik korupsi lokal.
Akibatnya, perubahan berjalan lambat.
Realitas ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan kemauan individu. Sistem ekonomi dan kebijakan publik juga menentukan sejauh mana seseorang bisa bergerak naik.
Refleksi yang Sulit Dihindari
Di atas kertas, setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Namun kenyataan di banyak gang sempit menunjukkan cerita berbeda.
Selama akses pendidikan, modal, dan kesempatan ekonomi masih terkunci oleh struktur yang timpang, kerja keras saja tidak akan cukup.
Sementara itu, sebagian elite menikmati fasilitas ekonomi yang mereka bantu rancang sendiri.
Pertanyaannya sederhana tetapi tajam jika tangga sosial semakin sulit dinaiki, sampai kapan rakyat kecil diminta percaya bahwa kerja keras mereka akan selalu membawa perubahan? @dimas





