Pancasila dan toleransi terus hadir dalam ruang-ruang kelas sebagai simbol persatuan, tetapi kehidupan sosial di sekitar kampus justru memperlihatkan realitas yang berbeda. Fenomena kos “khusus muslimah” menghadirkan pertanyaan tentang ruang hidup, diskriminasi halus, dan cara masyarakat perlahan menganggap sekat identitas sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa.
Tabooo.id – Malam turun perlahan ketika saya menyusuri gang-gang kecil di sekitar kampus. Lampu warung kopi memantulkan cahaya redup ke jalan yang mulai sepi. Motor melintas tanpa benar-benar saling peduli. Di dinding rumah kontrakan, pagar besi, sampai tiang listrik yang mulai berkarat, satu tulisan terus muncul berulang:
“Khusus Muslimah.”
Awalnya saya menganggap tulisan itu biasa saja.
Di kota-kota pendidikan, kos khusus memang sudah menjadi pemandangan umum. Ada kos khusus putra, kos putri, kos bebas, sampai kos syariah dengan aturan ketat seperti asrama. Lingkungan sekitar kampus menerima semua itu sebagai hal lumrah. Banyak orang bahkan menyebutnya bagian dari budaya, keamanan, dan kenyamanan bersama.
Namun semakin lama saya memperhatikan, semakin saya mempertanyakan apakah mahasiswa benar-benar menjalankan nilai Pancasila dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga mulai bertanya: apakah semua orang sudah memiliki ruang yang sama untuk tinggal dan merasa diterima?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi justru karena sederhana, orang jarang membicarakannya secara serius.
Toleransi yang Berhenti di Ruang Tinggal
Di ruang kuliah, dosen sering membahas toleransi, keberagaman, dan Pancasila. Mahasiswa belajar bahwa Indonesia berdiri di atas perbedaan. Semua orang diajak memahami bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi bangsa.
Namun kehidupan sehari-hari sering menghadirkan cerita berbeda.
Di balik papan “khusus muslimah” yang terlihat sederhana, ada pengalaman sosial yang tidak selalu terasa sama bagi semua orang.
Sebagian mahasiswa muslim mungkin merasa nyaman dengan aturan tersebut. Mereka ingin tinggal di lingkungan yang memiliki nilai serupa. Mereka percaya lingkungan homogen memudahkan penghuni menjaga privasi, keamanan, dan aturan sosial tertentu.
Tetapi mahasiswa yang berbeda agama sering menghadapi situasi lain.
Mereka memang tidak selalu mengalami penolakan langsung. Tidak ada bentakan. Tidak ada konflik terbuka. Namun pilihan tempat tinggal mereka perlahan menjadi lebih terbatas. Mereka harus mencari lebih jauh, menghabiskan lebih banyak waktu, atau beradaptasi dengan lingkungan yang terasa kurang terbuka sejak awal.
Ironisnya, masyarakat menganggap situasi itu normal.
Ketika Kebiasaan Berubah Menjadi Fakta Sosial
Fenomena ini menarik jika dilihat melalui kacamata sosiologi. Émile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat menciptakan “fakta sosial”, yaitu kebiasaan kolektif yang terus berulang sampai akhirnya terlihat wajar.
Kos khusus muslimah bisa masuk dalam kategori itu.
Karena masyarakat terlalu sering menemukannya, banyak orang berhenti mempertanyakan dampaknya. Lingkungan kampus menerima pola tersebut sebagai budaya umum. Mahasiswa baru mengikuti kebiasaan yang sudah ada. Pemilik kos menjalankan aturan itu tanpa merasa sedang membatasi siapa pun.
Masalahnya, sesuatu yang terlihat umum belum tentu bebas dari kritik sosial.
Diskriminasi juga tidak selalu hadir dalam bentuk kasar.
Kadang diskriminasi muncul lewat aturan yang terdengar sopan dan masuk akal. Namun aturan itu perlahan membangun batas sosial yang nyata. Batas seperti inilah yang sering luput dari perhatian karena masyarakat sudah terlalu terbiasa melihatnya.
Antara Niat Baik dan Dampak Sosial
Jika memakai perspektif Max Weber, tindakan pemilik kos sebenarnya memiliki alasan yang bisa dipahami. Banyak pemilik kos ingin menciptakan lingkungan sesuai nilai agama yang mereka yakini. Mereka berusaha menjaga kenyamanan penghuni dan membangun aturan yang menurut mereka aman.
Namun persoalan sosial tidak pernah selesai hanya dengan melihat niat.
Sebuah aturan bisa terasa nyaman bagi satu kelompok, tetapi terasa membatasi bagi kelompok lain.
Penghuni yang sesuai kriteria mungkin merasa aman tinggal di lingkungan homogen. Sebaliknya, mahasiswa di luar kategori itu bisa menangkap pesan diam-diam bahwa ruang tersebut tidak sepenuhnya terbuka untuk mereka.
Di titik itu, toleransi mulai berubah menjadi konsep abstrak.
Masyarakat sering mengaku hidup dalam keberagaman, tetapi praktik sehari-hari masih membangun sekat berdasarkan identitas. Sekat itu tidak hanya muncul karena agama, tetapi juga kelas sosial, budaya, gender, bahkan gaya hidup.
Padahal kampus seharusnya menjadi ruang paling cair untuk mempertemukan berbagai latar belakang.
Lingkungan Sosial dan Pengaruh Media Digital
Lingkungan sekitar kampus ikut memperkuat kondisi tersebut.
Karena kos eksklusif sudah dianggap biasa, mahasiswa baru otomatis menerima pola itu sebagai kewajaran. Media sosial juga memperkuat pandangan bahwa lingkungan homogen selalu lebih nyaman dan lebih aman.
Konten digital sering menampilkan komunitas tertutup sebagai simbol ketertiban dan kesalehan. Lama-lama, banyak orang merasa lebih nyaman hidup di lingkaran yang seragam.
Akibatnya, keberagaman justru terasa asing.
Generasi sekarang hidup di era digital yang sangat terbuka. Semua orang bisa berbicara dengan siapa saja lewat internet. Kampanye toleransi muncul hampir setiap hari di media sosial. Seminar keberagaman juga terus berlangsung di kampus-kampus.
Namun dalam kehidupan nyata, banyak orang masih kesulitan berbagi ruang secara setara.
Bahkan untuk urusan sederhana seperti tempat tinggal.
Pancasila yang Berhenti Menjadi Simbol
Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting: Pancasila sering berhenti sebagai simbol, bukan praktik.
Mahasiswa terus menghafal nilai persatuan di ruang kelas. Namun kehidupan sosial belum sepenuhnya menerjemahkan nilai itu menjadi keberanian membuka ruang yang lebih inklusif.
Akibatnya, toleransi sering terdengar indah dalam pidato, tetapi terasa samar dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini juga tidak bermaksud menyalahkan seluruh kos khusus muslimah. Persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar benar atau salah. Ada faktor budaya, keamanan, agama, lingkungan sosial, hingga kekhawatiran orang tua yang saling bertumpuk.
Karena itulah masyarakat perlu membicarakan fenomena ini secara lebih jujur.
Masyarakat yang sehat tidak menghindari diskusi sulit. Masyarakat yang sehat justru berani membahasnya tanpa saling menyerang.
Dan mungkin, hal paling berbahaya bukan sekadar keberadaan sekat itu sendiri.
Bahaya muncul ketika masyarakat sudah terlalu terbiasa dengan sekat sampai berhenti mempertanyakannya.
Sekat yang Tumbuh Pelan-Pelan
Pengalaman kecil saat mencari kos membuat saya sadar bahwa toleransi tidak diuji lewat slogan besar. Toleransi diuji lewat hal-hal sederhana siapa yang diterima, siapa yang merasa asing, dan siapa yang diam-diam kehilangan ruang.
Masalah sosial terbesar memang tidak selalu terlihat dramatis.
Kadang masalah itu tumbuh pelan-pelan. Ia masuk ke kebiasaan sehari-hari, lalu berubah menjadi budaya yang diterima tanpa diskusi. Setelah itu, masyarakat mulai lupa bahwa sesuatu yang terlihat normal tetap bisa menyisakan ketidakadilan bagi orang lain.
Karena itu, keberanian terbesar hari ini bukan hanya berbicara tentang toleransi.
Keberanian terbesar justru muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan kebiasaan sosial yang selama ini dianggap terlalu biasa untuk dipikirkan.
Sebab ketika sekat sosial terus tumbuh diam-diam di ruang paling dekat dengan kehidupan mahasiswa, persatuan perlahan berubah menjadi slogan yang mudah dihafal, tetapi sulit benar-benar dirasakan.
Diskriminasi paling sulit dilawan bukan yang kasar dan terang-terangan, tetapi yang sudah berubah menjadi kebiasaan sehari-hari. @dimas







