Komunisme sudah lama tumbang, tetapi ketimpangan tetap hidup. Saat dunia sibuk takut pada komunisme, namun kapitalisme diam-diam menguasai kehidupan.
Tabooo.id – Di sebuah sudut kota, seorang buruh menghabiskan belasan jam bekerja setiap hari. Gajinya pas-pasan. Biaya kontrakan terus merangkak naik. Harga kebutuhan pokok ikut menekan. Sementara itu, layar ponselnya memamerkan mobil mewah, apartemen eksklusif, dan gaya hidup yang terasa semakin jauh dari jangkauan.
Di titik seperti itu, pertanyaan lama kembali muncul.
Mengapa sebagian orang memiliki begitu banyak, sementara sebagian lainnya terus berjuang untuk sekadar bertahan hidup?
Pertanyaan itu tidak lahir kemarin. Sejak Revolusi Industri mengubah manusia menjadi bagian dari mesin produksi, kegelisahan tersebut terus menghantui dunia. Dari keresahan itulah Karl Marx dan Friedrich Engels melahirkan sebuah gagasan yang kemudian mengguncang sejarah komunisme.
Ketika Ketimpangan Melahirkan Perlawanan
Komunisme lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan ekonomi.
Karena itu, komunisme menawarkan janji yang terdengar sangat manusiawi menghapus kelas sosial dan menciptakan masyarakat tanpa penindasan ekonomi.
Secara teoritis, gagasan tersebut tampak memikat.
Jurang kaya dan miskin akan lenyap. Eksploitasi manusia terhadap manusia akan berakhir. Seluruh sumber daya digunakan bersama demi kemakmuran kolektif.
Namun sejarah menunjukkan jalan yang berbeda.
Ketika cita-cita itu memasuki arena kekuasaan, banyak hal berubah.
Revolusi yang Menelan Dirinya Sendiri
Komunisme tidak berhenti sebagai teori ekonomi. Seiring waktu, ideologi ini berkembang menjadi sistem politik yang menuntut keseragaman cara berpikir. Revolusi yang semula dijanjikan sebagai jalan pembebasan berubah menjadi instrumen legitimasi kekuasaan.
Atas nama rakyat, penguasa membatasi kebebasan individu.
Demi kesetaraan, rezim membungkam kritik.
Dengan alasan revolusi, sebagian pemimpin membenarkan kekerasan.
Uni Soviet menjadi contoh paling sering disebut. Negara itu berhasil membangun kekuatan industri dan militer besar. Namun pada saat yang sama, kontrol negara merambah hampir seluruh aspek kehidupan warga.
Di bawah Stalin, pemerintah tidak hanya mengatur ekonomi. Kekuasaan juga masuk ke wilayah pikiran, keyakinan, bahkan ekspresi politik masyarakat.
Ironisnya, ideologi yang mengaku membela manusia justru berkali-kali mengorbankan manusia.
Di titik itulah komunisme mulai menggali lubang kuburnya sendiri.
Keruntuhan sistem ini tidak semata-mata terjadi karena tekanan eksternal. Kontradiksi internal ikut mempercepat kehancurannya. Ketika negara menguasai segalanya dan kritik dianggap ancaman, kebebasan perlahan menghilang.
Saat kebebasan mati, legitimasi ikut runtuh.
Kapitalisme dan Wajah Baru Penaklukan
Runtuhnya Uni Soviet membuat banyak orang menganggap kapitalisme sebagai pemenang mutlak.
Seolah sejarah telah selesai.
Seolah pasar bebas menjadi jawaban atas seluruh persoalan manusia.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Kapitalisme memang melahirkan inovasi luar biasa. Teknologi berkembang pesat. Produktivitas meningkat. Pertumbuhan ekonomi melonjak di berbagai negara.
Namun keberhasilan itu juga membawa konsekuensi.
Jika komunisme mengendalikan manusia melalui negara, kapitalisme sering mengendalikan manusia melalui pasar.
Metodenya berbeda, tetapi keduanya berpotensi menempatkan manusia sebagai alat.
Hari ini, revolusi proletariat mungkin tidak lagi memenuhi jalanan. Meski demikian, jutaan orang tetap hidup di bawah tekanan ekonomi yang berat tanpa pernah mengangkat bendera merah.
Sebagian bekerja lebih lama.
Sebagian lain terlilit utang lebih besar.
Banyak orang terus mengonsumsi lebih banyak barang.
Akan tetapi, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.
Kapitalisme modern tidak hadir dengan wajah menakutkan. Ia datang melalui diskon besar-besaran, budaya konsumsi, dan mimpi tentang kesuksesan tanpa batas.
Sistem ini tidak memaksa.
Ia merayu.
Justru karena rayuan itu terasa menyenangkan, banyak orang tidak menyadari bagaimana dirinya ikut terjebak di dalamnya.
Ketika Segalanya Menjadi Komoditas
Kapitalisme menjadi mengkhawatirkan bukan karena kekerasannya, melainkan karena kemampuannya menjadikan banyak hal tampak normal.
Masyarakat terbiasa melihat penggusuran atas nama investasi.
Tanah berubah menjadi komoditas.
Pendidikan dan kesehatan semakin dekat dengan logika pasar.
Bahkan perhatian manusia kini memiliki harga di media sosial.
Semua itu terlihat biasa.
Padahal belum tentu wajar.
Di sinilah kritik terhadap kapitalisme menemukan relevansinya.
Karl Marx mungkin hidup dua abad lalu, tetapi sebagian kegelisahannya masih terasa hingga hari ini. Ketimpangan ekonomi tetap muncul dalam berbagai bentuk. Hanya kemasannya yang berubah mengikuti zaman.
Pancasila: Jalan Tengah yang Mulai Terlupakan
Indonesia sebenarnya memilih jalur berbeda.
Para pendiri bangsa tidak mengadopsi komunisme. Mereka juga tidak menyerahkan masa depan bangsa sepenuhnya kepada liberalisme ekonomi. Sebaliknya, mereka merumuskan Pancasila sebagai jalan tengah yang menggabungkan keadilan sosial, demokrasi, kemanusiaan, dan spiritualitas.
Pancasila lahir dari keyakinan bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi.
Selain mencari nafkah, manusia memiliki moral.
Ia memiliki budaya.
Ia mempunyai keyakinan.
Ia juga memikul tanggung jawab sosial.
Karena itu, sila kelima tentang keadilan sosial sesungguhnya menjadi kritik terhadap ketimpangan ekonomi. Sementara sila pertama menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan manusia dengan nilai-nilai spiritual.
Pertanyaannya, apakah Indonesia masih berjalan di jalur tersebut?
Kegelisahan itu muncul ketika investasi sering ditempatkan sebagai tujuan akhir pembangunan. Pertumbuhan ekonomi terus dirayakan, sementara pemerataan kerap tertinggal. Pada saat yang sama, Pancasila lebih sering hadir dalam pidato daripada dalam praktik kebijakan.
Luka Lama yang Belum Sembuh
Perdebatan tentang komunisme sebenarnya tidak lagi sekadar soal kebangkitan partai atau ideologi lama.
Yang terus hidup adalah akar persoalannya.
Ketimpangan masih ada.
Kemiskinan belum hilang.
Eksploitasi tetap terjadi.
Bentuknya memang berubah, tetapi substansinya masih terasa.
Selama persoalan itu bertahan, berbagai gagasan alternatif akan terus bermunculan.
Mungkin benar komunisme telah kehilangan panggung global.
Namun luka sosial yang dulu melahirkannya belum sepenuhnya sembuh.
Karena itulah perdebatan tentang komunisme dan kapitalisme tidak pernah benar-benar berakhir.
Yang dipertaruhkan bukan hanya soal ideologi.
Yang dipertaruhkan adalah nasib manusia di dalamnya.
Sejarah memberi pelajaran sederhana namun keras. Komunisme runtuh ketika mengorbankan kebebasan. Kapitalisme kehilangan arah ketika mengorbankan keadilan.
Sementara Pancasila, setidaknya dalam cita-citanya, terus mengingatkan bahwa bangsa ini tidak boleh kehilangan keduanya.
Sebab ketika kebebasan dan keadilan sama-sama hilang, manusia hanya akan menjadi roda kecil dalam mesin besar yang terus bergerak tanpa pernah peduli siapa yang terlindas. @dimas







