Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

by teguh
Agustus 23, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Dari jalan turun gunung hingga ruang kelas berdinding papan, SDN 3 Kacamarga memperlihatkan satu ironi kemerdekaan pendidikan belum terasa sama bagi semua anak.

Tabooo.id – Pagi baru saja beranjak ketika anak-anak SD Negeri 3 Kacamarga mulai berjalan menuju sekolah. Sebagian dari mereka datang dari wilayah Umbulan, pelosok Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Jarak sekolah dengan rumah bukan sekadar angka di peta. Bagi anak-anak itu, jarak berarti perjalanan kaki hingga dua jam. Jalannya menurun ketika berangkat, lalu berubah menjadi tanjakan saat mereka pulang.

“Anak-anak yang dari Umbulan itu sampai dua jam perjalanannya. Jalan kaki turun gunung. Pulangnya nanti nanjak,” kata Kepala SDN 3 Kacamarga, Latri, S.Pd., saat dihubungi Kompas.com pada Jumat, 21/08/2026. Namun, perjuangan mereka belum selesai ketika tiba di sekolah.

Empat Dekade, Dinding Papan Belum Berubah

SDN 3 Kacamarga berdiri sejak 1987. Hampir 40 tahun kemudian, bangunan sekolah tersebut masih menggunakan dinding papan.

Tiang kayu menopang bangunan sederhana dengan atap asbes tanpa plafon. Ketika hujan turun, ruang kelas menjadi gelap dan proses belajar ikut terganggu.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

“Ya kayak gitulah, seadanya. Enggak ada plafon. Kalau hujan itu gelap ruangannya,” ujar Latri.

Keterbatasan juga terlihat dari ruang belajar. Enam jenjang pendidikan hanya tertampung dalam dua ruang kelas.

Siswa kelas I hingga III belajar bersama. Begitu pula kelas IV hingga VI. Saat ini, sebanyak 22 siswa tercatat dalam Dapodik.

Sekolah sebenarnya memiliki enam guru berstatus PNS. Akan tetapi, dua guru kemudian mendapat penempatan di tempat lain karena faktor jarak.

Meski demikian, Latri menilai bangunan dan fasilitas tetap menjadi persoalan paling mendesak. Baginya, anak-anak sudah melakukan bagian mereka setiap hari: datang dan belajar.

Kini pertanyaannya bergeser kepada negara. Apakah fasilitas yang mereka terima sudah sepadan dengan hak yang mereka miliki?

Proposal Sejak 2014, Gedung Belum Juga Terwujud

Latri sudah mencoba mengetuk pintu pemerintah sejak lama. Sejak 2014, pihak sekolah berulang kali mengajukan proposal pembangunan.

Setiap permintaan proposal datang, sekolah kembali mengusulkannya. Namun, hingga kini, gedung yang layak belum menjadi kenyataan.

Masalahnya tidak sederhana. Lokasi sekolah yang sulit dijangkau membuat distribusi material membutuhkan biaya lebih besar.

Karena itu, Latri berharap pemerintah tidak hanya memberikan dana. Ia ingin pemerintah melihat langsung kondisi sekolah dan mengambil bagian dalam proses pembangunan.

“Saya mau ke Jakarta, mau ke mana pun saya mau. Tapi saya minta kunci. Tolong saya, terima kuncinya,” katanya.

Permintaan itu terdengar sederhana. Justru karena itu, pesannya terasa kuat.

Latri tidak sedang meminta sekolah mewah. Ia hanya ingin pembangunan benar-benar selesai.

“Saya bukan enggak mau menerima bantuan. Tapi kalau disuruh bangun sendiri, saya sebagai perempuan sampai mana langkah saya?” ujarnya.

Ketika Teknologi Datang, Sinyal Belum Tentu Ikut

Persoalan Kacamarga tidak berhenti pada bangunan. Bertahun-tahun lalu, sekolah bahkan belum memiliki akses listrik.

Keluarga Latri bersama warga pernah membuat turbin sederhana untuk memenuhi kebutuhan listrik. Kini sekolah telah mendapatkan fasilitas tenaga surya.

Sayangnya, daya tidak selalu tersedia secara optimal ketika cuaca mendung atau hujan. Situasi serupa terjadi pada jaringan komunikasi.

Sekolah pernah menerima televisi digital untuk mendukung pembelajaran. Namun perangkat itu belum dapat digunakan secara maksimal karena keterbatasan sinyal.

“TV-nya hidup, tapi cuma bisa untuk download-an. Enggak ada sinyal,” ujar Latri.

Ironinya jelas: perangkat pembelajaran sudah datang, tetapi infrastruktur pendukungnya belum sepenuhnya mengikuti.

Kemerdekaan Seharusnya Tidak Ditentukan Lokasi

Indonesia pada 2026 memperingati 81 tahun kemerdekaan dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Kata “adil” menjadi penting ketika kita melihat Kacamarga.

Sebab pendidikan yang adil bukan hanya soal membuka akses sekolah. Pemerintah juga perlu memastikan anak-anak dapat mencapai sekolah dengan aman dan belajar dalam ruang yang layak.

Program revitalisasi satuan pendidikan memang terus berjalan. Pemerintah juga menempatkan sekolah rusak berat dan wilayah 3T sebagai bagian dari prioritas.

Namun, keberadaan program belum otomatis berarti pemerataan sudah selesai. Di Kacamarga, anak-anak masih berjalan dua jam. Mereka melewati kawasan yang berbatasan dengan hutan.

Dalam perjalanan, mereka bahkan terkadang membawa ketapel karena dapat berhadapan dengan satwa seperti babi hutan dan beruk.

Meski begitu, mereka tetap datang, Guru pun tetap mengajar dan sekolah tetap hidup.

Ini Bukan Sekadar Sekolah Rusak

Inilah bagian yang sering luput ketika pendidikan hanya dibaca melalui angka. Ini bukan sekadar cerita sekolah berdinding papan.

Ini cerita tentang bagaimana lokasi dapat menentukan kualitas pengalaman seorang anak dalam memperoleh hak pendidikan.

Di kota, dua jam perjalanan mungkin berarti macet. Di Kacamarga, dua jam berarti tenaga yang terkuras sebelum pelajaran dimulai.

Bahkan program Makan Bergizi Gratis menghadapi persoalan logistik. Menurut Latri, biaya angkut yang semula sekitar Rp20.000 per hari kemudian mendapat tambahan hingga sekitar Rp50.000 agar makanan dapat mencapai sekolah.

Artinya, kebijakan nasional bisa memiliki tantangan yang sangat berbeda ketika bertemu medan geografis. Karena itu, pemerataan tidak cukup hanya dihitung dari jumlah sekolah, guru, atau program bantuan.

Pemerintah juga perlu melihat bagaimana kebijakan benar-benar dirasakan anak di ujung akses.

Latri Ingin Meninggalkan Jejak

Latri sendiri bukan warga asli Tanggamus. Ia berasal dari Desa Girikarto, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur.

Sejak 2009, ia memilih mengajar di Kecamatan Cukuh Balak. Kemudian pada 2020, ia dipercaya menjadi kepala SDN 3 Kacamarga.

Kini masa pensiun mulai mendekat. Namun, ia masih menyimpan satu keinginan sebelum meninggalkan sekolah tersebut.

“Banyak yang sudah saya lalui di sana. Sebelum saya pindah, saya ingin ini cepat terealisasi. Jadi ada yang saya tinggalkan,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi penutup yang sekaligus membuka pertanyaan lebih besar.

Anak-anak Kacamarga tidak meminta sekolah megah. Mereka hanya membutuhkan tempat belajar yang aman dan layak.

Maka, ketika Indonesia merayakan kemerdekaan dengan tema berdaulat, adil, dan makmur, Kacamarga memberi kita satu ujian sederhana.

Jika pendidikan adalah hak semua anak, mengapa tempat lahir masih menentukan seberapa berat perjuangan mereka untuk mendapatkannya?

Kemerdekaan pendidikan bukan ketika semua anak sekadar boleh bersekolah.

Kemerdekaan pendidikan adalah ketika tidak ada anak yang harus berjalan lebih jauh hanya karena negara belum cukup dekat. @teguh

Tags: HUT RI 81Infrastruktur PendidikanLampungPemerataan PendidikanPendidikan IndonesiaPresiden RISDN 3 KacamargaSekolah TerpencilTanggamus

Kamu Melewatkan Ini

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana siswa tidak otomatis naik kelas mulai 2027 kembali memantik perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR...

Sekolah Tempat Belajar, Bukan Tempat Anak Pulang Membawa Luka

Sekolah Tempat Belajar, Bukan Tempat Anak Pulang Membawa Luka

by dimas
Oktober 9, 2026

Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang aman bagi anak. Dugaan perundungan terhadap bocah 7 tahun di Pemalang menjadi alarm bagi...

Next Post
Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id