• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Senin, Maret 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Edge

Kena OTT KPK, “Saya Kan Pedangdut” Jadi Alasan Tak Paham Aturan

Maret 5, 2026
in Edge
A A
Momen Fadia Arafiq Berbaju Oranye KPK, Wajah Tertutup Kerudung Hitam

Bupati Pekalongan Fadia Arafiq mengenakan rompi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat berada di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (4/3/2026) siang. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan ruang pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK. Penyidik membuka berkas tebal, kamera wartawan menyala, dan suasana terasa tegang. Lalu, di tengah atmosfer serius itu, muncul satu kalimat yang nadanya seperti punchline komedi “Saya ini pedangdut, bukan birokrat.”

Namun ini bukan materi open mic. Ini fakta hukum.

Komisi Pemberantasan Korupsi atau Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan jasa outsourcing dan proyek lain di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan tahun anggaran 2023-2026. Dalam pemeriksaan itu, Fadia menyampaikan bahwa dirinya berlatar belakang penyanyi dangdut, bukan birokrat. Karena itu, ia mengaku tidak memahami detail aturan pengadaan barang dan jasa.

Di titik ini, publik spontan mengernyit. Sebab jabatan kepala daerah bukan pekerjaan magang tiga bulan.

RelatedPosts

OTT Episode 9: Serial Korupsi yang Sepertinya Tidak Pernah Tamat

TNI Siaga 1, Publik Bertanya: Ancaman Nyata atau Mode Waspada?

Dalih Bertabrakan dengan Asas Hukum

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa Fadia menyampaikan latar belakangnya sebagai musisi saat diperiksa. Akan tetapi, Asep langsung menegaskan bahwa dalih tersebut bertentangan dengan asas presumptio iures de iure. Artinya, hukum menganggap setiap orang tahu aturan yang berlaku.

Lebih jauh lagi, Fadia bukan pejabat baru kemarin sore. Ia menjabat sebagai Bupati Pekalongan selama dua periode. Sebelumnya, ia juga menduduki kursi Wakil Bupati pada 2011-2016. Dengan pengalaman sepanjang itu, publik tentu berharap ia memahami prinsip good governance, bukan sekadar hafal lirik lagu.

Karena itu, argumen “tidak paham birokrasi” terdengar janggal. Jabatan publik menuntut tanggung jawab penuh. Selain itu, undang-undang tidak memberi pengecualian berdasarkan profesi masa lalu.

Seremonial Boleh, Tanggung Jawab Tetap Melekat

Dalam pemeriksaan, Fadia juga menyatakan bahwa ia menyerahkan urusan teknis birokrasi kepada Sekretaris Daerah. Sementara itu, ia mengaku lebih banyak menjalankan fungsi seremonial.

Secara administratif, kepala daerah memang bisa mendelegasikan tugas. Namun secara hukum dan politik, tanggung jawab tetap melekat pada pucuk pimpinan. Delegasi bukan berarti lepas tangan. Sebaliknya, delegasi justru menuntut pengawasan lebih ketat.

Di sinilah ironi mulai terasa. Publik memilih kepala daerah untuk memimpin, mengawasi, dan mengambil keputusan strategis. Jika kepala daerah mengaku hanya menjalankan peran simbolik, maka pertanyaan besar langsung muncul: siapa sebenarnya yang mengendalikan roda pemerintahan?

OTT Ketujuh dan Pola yang Terulang

Pada 3 Maret 2026, KPK melakukan operasi tangkap tangan di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Penyidik menangkap Fadia bersama ajudan dan orang kepercayaannya. Selain itu, KPK juga mengamankan 11 orang lain dari Pekalongan.

Sehari kemudian, pada 4 Maret 2026, KPK menetapkan Fadia sebagai tersangka tunggal dalam kasus dugaan korupsi tersebut. Dengan demikian, OTT ini menjadi operasi ketujuh sepanjang tahun berjalan.

Angka itu bukan sekadar statistik. Sebaliknya, angka itu menunjukkan pola yang terus berulang. Setiap kali publik berharap ada perbaikan tata kelola, kasus baru kembali muncul. Karena itu, masyarakat semakin sensitif terhadap dalih dan pembelaan normatif.

Antara Meme dan Realitas Politik

Narasi “saya bukan birokrat” memang terdengar seperti meme politik. Namun di balik kelucuannya, ada realitas yang serius. Demokrasi memang memberi ruang bagi siapa pun artis, pengusaha, aktivis, atau musisi untuk maju dalam pemilihan kepala daerah. Itu sehat dan sah.

Akan tetapi, ketika seseorang sudah duduk di kursi kekuasaan, ia tidak lagi berbicara sebagai profesi lama. Ia berbicara sebagai pejabat publik. Dan pejabat publik wajib memahami aturan main yang mengikatnya.

Karena itu, publik berhak bertanya secara kritis apakah jabatan kepala daerah cukup dijalankan dengan seremoni, atau justru menuntut kompetensi administratif yang serius?

Latar Belakang Boleh Beragam, Tanggung Jawab Tetap Sama

Kasus ini bukan tentang dangdut atau birokrasi. Kasus ini berbicara tentang tanggung jawab kekuasaan. Publik tidak memilih latar belakang, melainkan memilih kepemimpinan.

Jika setiap pejabat yang tersandung perkara bisa berdalih tidak memahami aturan, maka standar etika publik akan terus merosot. Sebaliknya, jika hukum ditegakkan tanpa pandang latar belakang, maka demokrasi tetap memiliki fondasi yang kokoh.

Akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menggelitik dalam sistem yang seharusnya transparan ini, yang sebenarnya tidak paham aturan itu pejabatnya atau kita yang terlalu sering memaklumi? @dimas

Tags: BirokrasiDaerahFadia ArafiqGood GovernanceIndonesiakorupsikpkottPekalonganPolitikPublikTata Kelolatransparansi
Next Post
Hoaks! Klaim BGN Pidanakan Orang Tua yang Posting Menu MBG

Hoaks! Klaim BGN Pidanakan Orang Tua yang Posting Menu MBG

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.