Tabooo.id: Global – Kelompok-kelompok bersenjata terus menjamur di Jalur Gaza. Mereka bergerak di antara puing-puing kota, memanfaatkan kekosongan kekuasaan, serta menggunakan senjata yang dilaporkan berasal dari Israel. Target serangan mereka tidak hanya Hamas, tetapi juga warga sipil Palestina.
Menurut laporan media Saudi Asharq Al-Awsat, sejumlah kelompok kriminal kini beroperasi secara terbuka. Salah satu kelompok yang paling dikenal bernama Helles Gang. Kelompok ini memaksa warga Palestina meninggalkan sebuah blok perumahan atas permintaan Israel.
Akibatnya, konflik Gaza kini menampilkan wajah baru. Pertempuran tidak lagi hanya melibatkan Israel dan Hamas, tetapi juga berubah menjadi bentrokan brutal antar-faksi bersenjata di dalam wilayah Palestina sendiri.
Hamas Membalas dengan Penyergapan
Ketegangan meningkat tajam pada Senin (26/1/2026) pagi. Hamas menyergap sejumlah anggota Helles Gang di pinggiran Gaza City. Hamas melancarkan aksi tersebut setelah menerima laporan pembunuhan terhadap anggota mereka dan warga sipil oleh kelompok bersenjata.
Sementara itu, The Independent pada Kamis (29/1/2026) melaporkan bahwa kelompok bersenjata non-negara menembak beberapa warga Palestina saat mereka mendekati garis kuning di wilayah Shejaia dan Tuffah.
Selain itu, kekerasan ini terus menambah daftar korban sipil di Gaza. Selama berbulan-bulan, warga setempat hidup di bawah bombardir Israel sekaligus terjebak dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Kekosongan Kekuasaan Melahirkan Geng Baru
Melemahnya Hamas akibat serangan udara Israel membuka ruang kosong dalam struktur keamanan Gaza. Selanjutnya, kelompok-kelompok bersenjata baru dengan cepat mengisi ruang tersebut.
Mereka tidak hanya berebut wilayah, tetapi juga memperebutkan pengaruh dan sumber daya. Bahkan, beberapa kelompok secara aktif memburu tokoh-tokoh senior Hamas.
Lebih jauh, laporan Asharq Al-Awsat menyebut sebagian kelompok ini menerima dukungan langsung dari Israel. Dugaan tersebut memperkuat anggapan bahwa Israel tidak hanya bertempur secara terbuka, tetapi juga menjalankan strategi perang bayangan.
Dari Perampasan Bantuan hingga Pasukan Bayangan
Salah satu kelompok yang sempat menarik perhatian Israel dipimpin Yasser Abu Shabab. Ia dikenal karena merampas bantuan kemanusiaan, lalu membentuk kelompok bersenjata di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel.
Namun, Hamas kemudian membunuh Abu Shabab. Setelah itu, Ghassan al-Dahini mengambil alih kepemimpinan kelompok tersebut.
Di sisi lain, kelompok yang menamakan diri “Pasukan Rakyat” atau “Kontraterorisme” juga muncul. Mereka secara terbuka melancarkan serangan terhadap Hamas dan faksi lain.
Selain itu, kelompok Shawqi Abu Nseira serta jaringan Housam al-Astal turut mencuat. Kelompok-kelompok ini dituding menunjukkan loyalitas yang kuat kepada Israel.
Pembunuhan Terencana dan Dugaan Keterlibatan Intelijen
Rangkaian pembunuhan terhadap aparat Hamas terus berlanjut. Kelompok Shawqi Abu Nseira menembak mati Ahmed ZamZam, perwira Dinas Keamanan Internal Hamas, di kamp pengungsi Maghazi, Gaza tengah.
Kemudian, pada 12 Januari, kelompok pimpinan Housam al-Astal membunuh kepala investigasi Hamas, Mahmoud al-Astal, di Khan Younis dalam sebuah operasi terencana.
Sumber Asharq Al-Awsat menyebut para anggota geng memperoleh senjata dan pasokan makanan dari Israel. Selain itu, mereka menggunakan pistol berperedam suara dan kamera tubuh saat beraksi.
Lebih lanjut, sumber yang sama menyatakan para pemimpin kelompok tersebut menerima pelatihan dari Mossad dan direkrut oleh dinas keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet.
Jurnalis Ikut Menjadi Korban
Kekacauan ini tidak hanya menelan korban dari kalangan militan. Tahun lalu, klan Dughmush membunuh jurnalis Palestina berusia 28 tahun, Saleh Al-Jafarawi, di tengah bentrokan di kawasan Sabra.
Warga kemudian menemukan jenazah Al-Jafarawi di bagian belakang sebuah truk. Saat itu, ia masih mengenakan rompi bertuliskan “press”.
Peristiwa ini menegaskan bahwa Gaza kini berubah menjadi ruang tanpa batas jelas antara medan perang dan kehidupan sipil.
Warga Sipil Paling Terjepit
Di tengah perebutan pengaruh, warga Gaza menanggung beban paling berat. Mereka menghadapi bombardir Israel, kekerasan antar-faksi, kelangkaan pangan, dan runtuhnya sistem keamanan.
Pada akhirnya, konflik di Gaza tidak lagi berbentuk satu garis lurus antara dua pihak. Sebaliknya, konflik ini menjelma menjadi labirin kekerasan dengan banyak aktor dan sedikit aturan.
Ketika senjata terus berpindah tangan, satu pertanyaan terus menggantung siapa yang benar-benar melindungi warga sipil?
Di Gaza hari ini, jawaban atas pertanyaan itu semakin sulit ditemukan. @dimas




