Tabooo.id: Global – Ketegangan di Tepi Barat kembali memakan korban jiwa. Tentara Israel menembak mati seorang warga Palestina dalam insiden dini hari di wilayah pendudukan, pada Kamis (1/1/2026). Peristiwa ini terjadi di jalan utama dekat Desa Luban Al Sharqiya, kawasan Nablus, saat bentrokan antara warga lokal dan pasukan Israel pecah.
Militer Israel menyebut insiden bermula ketika sekelompok orang melempari batu ke arah pasukan yang tengah berjaga. Menurut pernyataan resmi, tentara merespons dengan tembakan langsung ke arah kelompok tersebut. Israel mengklaim aksi pelemparan batu itu bagian dari upaya penyergapan dan menyebut para pelaku sebagai militan.
Dalam insiden tersebut, satu warga Palestina tewas di lokasi, sementara dua orang lainnya mengalami luka tembak. Pernyataan itu dikutip kantor berita Reuters dari keterangan militer Israel.
Identitas Korban Terungkap, Ketegangan Meningkat
Otoritas Palestina di Tepi Barat memberikan versi berbeda. Mereka mengidentifikasi korban tewas sebagai Khattab Al Sarhan, pria berusia 26 tahun. Selain Sarhan, satu warga lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan pasukan Israel.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa situasi di Desa Luban Al Sharqiya sudah memanas sejak sehari sebelumnya. Pasukan Israel menutup pintu masuk utama desa dan memblokade sejumlah jalan pada Rabu (31/12/2025). Penutupan akses itu membatasi mobilitas warga dan meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Blokade dan operasi militer semacam ini kerap memicu bentrokan spontan antara warga Palestina dan pasukan Israel, terutama di wilayah-wilayah strategis di Tepi Barat.
Data PBB: Korban Terus Bertambah di Tepi Barat
Di tengah insiden terbaru ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat tren kekerasan yang mengkhawatirkan. Sepanjang Oktober 2023 hingga Oktober 2025, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas di Tepi Barat.
Sebagian besar korban meninggal dalam operasi pasukan keamanan Israel. Namun, PBB juga mencatat sejumlah kematian akibat serangan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina. Dalam periode yang sama, sebanyak 57 warga Israel dilaporkan tewas akibat serangan yang dilakukan warga Palestina.
Angka-angka ini menegaskan bahwa siklus kekerasan di Tepi Barat belum menunjukkan tanda mereda, meski sorotan dunia internasional sering teralihkan ke konflik yang lebih luas di Gaza dan kawasan sekitarnya.
Warga Sipil Kembali Jadi Korban
Bagi warga sipil Palestina, insiden seperti ini bukan sekadar statistik. Jalan yang diblokade, patroli bersenjata, dan bentrokan mendadak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak muda seperti Khattab Al Sarhan kembali menambah daftar panjang korban di wilayah yang terus bergolak.
Sementara Israel berbicara soal keamanan dan ancaman militan, warga Palestina melihat pola yang sama berulang kekerasan bersenjata yang kerap berujung kematian warga sipil.
Pada akhirnya, peluru kembali berbicara lebih cepat daripada diplomasi. Dan di Tepi Barat, seperti biasa, yang paling mahal membayar harga konflik adalah mereka yang hidup di bawah bayang-bayang senjata tanpa pernah benar-benar punya ruang untuk aman. @dimas







