Pelabuhan selalu terlihat sibuk dari kejauhan. Kontainer datang dan pergi. Crane terus bergerak. Truk-truk melintas seperti denyut nadi ekonomi yang tidak pernah tidur. Namun di balik lalu lintas barang itu, ada ruang-ruang sunyi yang jarang publik lihat: ruang pertemuan, kedekatan, dan akses. Kini, ruang itu mulai terbuka di pengadilan.
Tabooo.id: News – Ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta mendadak menegang ketika jaksa KPK membacakan satu nama yang langsung menarik perhatian: Djaka Budi Utama. Nama Dirjen Bea Cukai itu muncul dalam surat dakwaan kasus dugaan suap kepabeanan senilai Rp61,3 miliar. Sejak momen itu, kasus ini tidak lagi terasa seperti perkara suap biasa.
Pertemuan yang Kini Dibaca Publik dengan Cara Berbeda
Kasus ini bermula dari dakwaan terhadap tiga orang dari Blueray Cargo Group: John Field, Dedy Kurniawan Sukolo, dan Andri. Jaksa menilai mereka memberikan uang, fasilitas hiburan, hingga barang mewah kepada sejumlah pejabat Bea Cukai agar proses impor berjalan lebih cepat dan lebih aman. Nilainya pun tidak kecil.
Bukan cuma miliaran, tetapi puluhan miliar rupiah. Dalam dakwaan, jaksa menyebut total dugaan suap mencapai Rp61.301.939.000 dalam bentuk dolar Singapura. Selain itu, penerima juga diduga menikmati fasilitas hiburan dan barang mewah senilai Rp1,845 miliar.
Namun publik tidak hanya berhenti pada angka. Publik mulai membaca pola relasinya. Pada Mei 2025, John Field bertemu Rizal di sebuah restoran kawasan Kelapa Gading. Saat itu, Rizal menjabat Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai. Sebulan kemudian, Rizal memperkenalkan John kepada Sisprian Subiaksono dan Orlando Hamonangan Sianipar di kantor pusat Bea Cukai, Rawamangun.
Lalu muncul pertemuan yang kini terasa jauh lebih sensitif setelah sidang berjalan. Juli 2025. Hotel Borobudur. Jakarta Pusat.
Jaksa menyebut sejumlah pejabat Bea Cukai bertemu para pengusaha kargo di lokasi itu. Dalam dakwaan, nama Djaka Budi Utama hadir bersama Rizal, Sisprian, dan Orlando.
“Dilakukan pertemuan antara pejabat-pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai antara lain Djaka Budi Utama, Rizal, Sisprian Subiaksono, dan Orlando Hamonangan Sianipar dengan pengusaha-pengusaha kargo,” kata jaksa di ruang sidang.
Setelah itu, nama Djaka memang tidak lagi muncul dalam uraian dugaan aliran uang. Namun publik telanjur menangkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar nama.
Publik mulai melihat kemungkinan bahwa relasi personal ikut bekerja di balik sistem yang terlihat formal dan administratif.
Jalur Merah dan Dugaan Jalan Pintas
Sebulan setelah pertemuan Hotel Borobudur, Orlando kembali menemui John Field.
Dalam pertemuan itu, John mengeluhkan barang impor Blueray Cargo yang semakin sering masuk jalur merah dan terkena dwelling time.
Barang tertahan lebih lama. Proses berjalan semakin lambat. Biaya pun ikut membengkak.
Di titik itu, dugaan permainan mulai terlihat lebih jelas. Jaksa menyebut aliran uang berjalan bertahap sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Dugaan itu mengarah pada upaya mempercepat proses impor dan mempermudah keluarnya barang dari pengawasan pelabuhan.
Kalau dakwaan ini terbukti di pengadilan, maka persoalannya jauh lebih besar dari sekadar suap.
Sebab selama ini publik hanya melihat harga barang di pasar. Padahal di belakangnya, ada dugaan negosiasi akses yang menentukan siapa bisa bergerak cepat dan siapa harus tertahan dalam antrean sistem.
Yang punya koneksi melaju lebih dulu. Sementara yang tidak punya akses hanya bisa menunggu. Ironisnya, semua itu terjadi di ruang yang seharusnya paling steril dari kedekatan kepentingan.
Ketika Birokrasi Tidak Lagi Terasa Netral
Menanggapi munculnya nama Dirjen Bea Cukai dalam surat dakwaan, Kasubdit Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, menyatakan pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan.
“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di pengadilan, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah,” ujar Budi, Kamis (7/5/2026).
Ia juga menegaskan Bea Cukai tidak akan mengomentari substansi perkara demi menjaga independensi persidangan.
Namun ruang sidang telanjur membuka pertanyaan yang jauh lebih dalam.
Tentang bagaimana birokrasi bekerja.
Tentang siapa yang sebenarnya memiliki akses.
Dan tentang betapa mudahnya sistem berubah menjadi privilese bagi mereka yang duduk di meja yang tepat. @jeje





