• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026
in News, Regional
A A
Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Ilustrasi seorang santriwati duduk dalam bayang-bayang tekanan dan ketakutan, menggambarkan trauma korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. (Foto Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Kasus kekerasan seksual kembali mengguncang dunia pendidikan keagamaan di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Aparat Polda NTB menetapkan pimpinan salah satu pondok pesantren di wilayah Sukamulia berinisial MJ sebagai tersangka dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati.

Polisi menangkap MJ saat ia berusaha meninggalkan Indonesia melalui Bandara Internasional Lombok. Penangkapan ini sekaligus menegaskan bahwa penyidik melihat adanya risiko pelarian. Karena itu, aparat bergerak cepat sebelum tersangka benar-benar keluar dari wilayah hukum Indonesia.

Direktur Reserse PPA-PPO Polda NTB, Ni Made Pujawati, membenarkan status tersangka tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penyidik masih menyusun keterangan lengkap untuk publik. Sementara itu, penyidik terus mendalami kemungkinan adanya korban lain.

Di sisi lain, Ketua LPA Mataram, Joko Jumadi, memastikan pihaknya sudah menerima SPDP dari kepolisian. Dengan demikian, proses hukum resmi telah berjalan. Selain itu, tim pendamping langsung memperkuat layanan pemulihan trauma bagi korban.

Kronologi Terungkap dari Pengakuan Korban

Kasus ini terkuak setelah korban berani melapor. Awalnya, dua korban datang ke lembaga pendamping untuk menceritakan pengalaman mereka. Setelah itu, pendamping membantu proses pelaporan ke polisi.

Menurut pendamping korban, pelaku menjalankan aksinya dalam waktu panjang. Bahkan, dalam salah satu kasus, kekerasan berlangsung hingga korban menikah. Lebih jauh lagi, pelaku masih memanipulasi korban setelah korban berstatus istri. Akibatnya, korban kini mengalami depresi berat dan membutuhkan pendampingan intensif.

Modus Manipulasi Agama dan Psikologis

Pelaku diduga menggunakan manipulasi psikologis dan tafsir agama yang disesatkan. Ia meyakinkan korban bahwa hubungan seksual merupakan bagian dari “pembersihan rahim”. Selain itu, pelaku juga mengklaim tindakan tersebut terjadi karena dirinya kerasukan makhluk gaib.

RelatedPosts

MotoGP Brasil 2026: Semua Nol Lagi, Tapi Marquez Punya Satu Keunggulan

Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Fitri 1447 H pada Sabtu 21 Maret 2026

Akibat narasi tersebut, korban merasa takut sekaligus bingung. Di satu sisi, korban mempercayai pelaku sebagai figur otoritas. Namun di sisi lain, korban tidak memahami bahwa dirinya sedang menjadi korban kejahatan seksual.

Korban Paling Terdampak: Santriwati Muda dan Keluarganya

Kasus ini paling berdampak pada santriwati usia remaja. Mereka berada dalam posisi rentan karena bergantung pada sistem pendidikan berasrama. Selain itu, keluarga korban juga menanggung tekanan sosial dan psikologis.

Lebih luas lagi, masyarakat mulai mempertanyakan sistem pengawasan di lembaga pendidikan tertutup. Karena itu, kasus ini tidak hanya menjadi perkara pidana, tetapi juga menjadi alarm sosial bagi dunia pendidikan.

Antara Proses Hukum dan Pemulihan Korban

Saat ini, proses hukum terhadap tersangka terus berjalan. Sementara itu, lembaga pendamping fokus memulihkan kondisi mental korban. Pendamping menyediakan terapi psikologis, bantuan hukum, serta perlindungan selama persidangan berlangsung.

Pada akhirnya, kasus ini bukan hanya soal satu pelaku dan beberapa korban. Sebaliknya, kasus ini mengingatkan publik bahwa kekuasaan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi ancaman. Dan ironisnya, ancaman itu justru bisa muncul di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh. @dimas

Tags: AnakKasuskekerasanLombok TimurLPAmataramNTBNusa Tenggara BaratPelecehanPerlindunganPoldaSantriwatiSeksualSukamulia
Next Post
Tragedi Kota Tual: Satu Helm, Satu Kematian dan Seribu Pertanyaan

Tragedi Kota Tual: Satu Helm, Satu Kematian dan Seribu Pertanyaan

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi dalam Dua Gelombang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.