Tabooo.id: Film – Siapa sangka, film animasi Indonesia bisa nongkrong santai di daftar box office internasional Korea Selatan? Bukan cameo. Bukan numpang lewat. Tapi enam besar.
Film Jumbo resmi tayang pada 18 Februari 2026. Dalam sepekan, hingga 25 Februari, data dari Korean Film Council mencatat 45.828 tiket terjual dengan pendapatan 286.121 dolar AS atau sekitar Rp 4,7 miliar. Untuk ukuran animasi Indonesia di pasar luar negeri, ini bukan angka receh. Ini headline.
Peta Persaingan: Jumbo Tak Sendirian
Di daftar film internasional, Jumbo bersaing dengan judul-judul besar. Peringkat pertama ditempati film China Ne Zha 2. Lalu ada film Amerika HAMNET. Dari Jepang, Aikatsu! Pripara THE MOVIE – Miraculous Meeting! juga meraih puluhan ribu penonton sejak awal Februari.
Secara keseluruhan box office Korea, Jumbo berada di posisi 12. Ia masih berada di bawah film lokal seperti The King’s Warden yang sudah menembus 6,5 juta tiket. Namun, untuk film animasi Indonesia yang bermain di pasar global, capaian ini terasa seperti lompatan besar.
Jumbo juga tidak hanya singgah di Korea. Film ini tayang di Meksiko sejak 1 Januari 2026. Di Indonesia, Jumbo telah mengumpulkan 10,2 juta penonton dan menjadi film terlaris kedua sejak 2007, tepat di bawah Agak Laen: Menyala Pantiku!.
Cerita Sederhana, Dampak Universal
Jumbo mengisahkan Don, anak yatim-piatu yang sering mengalami perundungan. Ia memiliki dua sahabat setia, Mae dan Nurman. Petualangan mereka dimulai ketika bertemu Meri, hantu kecil yang ingin menyelamatkan orangtuanya. Meri membantu Don mewujudkan mimpinya tampil membawakan dongeng, sementara Don dan kawan-kawan membantu Meri menyelamatkan keluarganya.
Kisah ini terdengar sederhana. Namun, di balik visual warna-warni dan petualangan fantasi, tersimpan isu yang dekat dengan realitas: perundungan, rasa minder, kehilangan, dan arti persahabatan.
Itulah yang membuat Jumbo terasa relevan lintas budaya. Rasa takut ditolak dan keinginan untuk didengar bukan milik satu negara saja. Anak di Jakarta, Seoul, atau Mexico City bisa memahami kegelisahan yang sama.
Lebih dari Sekadar Film Anak
Kita sering menyebut animasi sebagai tontonan anak-anak. Padahal, di sanalah pesan paling jujur sering disisipkan. Jumbo tidak berteriak soal moral. Ia membiarkan penonton merasakannya.
Di tengah dominasi gelombang budaya Korea yang selama ini kita konsumsi, kehadiran film Indonesia di layar bioskop Korea menghadirkan ironi yang menyenangkan. Untuk sekali ini, arusnya bergerak dua arah.
Jumbo mungkin belum menjadi raja box office global. Namun, ia membuktikan bahwa cerita lokal bisa berdiri sejajar. Bahwa industri kreatif Indonesia punya daya saing jika diberi ruang dan dukungan.
Kini pertanyaannya sederhana. Apakah kita akan terus meragukan karya sendiri, atau mulai merawatnya dengan lebih percaya diri?
Karena kalau Don saja berani naik panggung membawa dongengnya ke negeri orang, mungkin sudah saatnya kita ikut percaya bahwa cerita dari rumah sendiri juga layak mendunia. @eko




