Tabooo.id: Nasional – Indonesia resmi menerima tiga jet tempur Rafale dari Prancis. Pengiriman perdana ini menandai realisasi awal kesepakatan pertahanan bernilai miliaran dolar antara kedua negara. Ketiga pesawat tempur generasi 4,5 itu mendarat di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Jumat (23/1/2026), lalu langsung memperkuat armada operasional TNI Angkatan Udara.
Kedatangan Rafale menandai babak baru modernisasi pertahanan udara Indonesia. Selama bertahun-tahun, TNI AU mengandalkan pesawat tempur yang menua dan tertinggal teknologi. Pemerintah kini mulai mengganti ketergantungan tersebut dengan platform tempur modern.
Pemerintah Konfirmasi Penguasaan Rafale
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, memastikan TNI Angkatan Udara telah menerima dan mengoperasikan ketiga jet tempur Rafale. Sirait menyampaikan konfirmasi itu kepada Reuters pada Senin (26/1/2026).
“Pesawat-pesawat itu siap mendukung operasi TNI Angkatan Udara,” ujar Sirait.
Pemerintah Indonesia menandatangani kontrak pembelian Rafale senilai 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp134 triliun pada 2022. Pemerintah kemudian memperluas kontrak tersebut pada tahun berikutnya. Melalui kesepakatan itu, Indonesia memesan total 42 unit Rafale yang akan tiba secara bertahap.
Sirait menambahkan, Prancis menargetkan pengiriman tiga unit Rafale tambahan pada tahun ini sesuai jadwal bersama.
Pekanbaru Jadi Titik Awal Operasional
TNI Angkatan Udara memilih Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin sebagai basis awal Rafale karena posisi strategisnya. Pangkalan ini menjaga ruang udara Sumatra dan mengamankan jalur vital Selat Malaka.
Dengan kehadiran Rafale, TNI AU kini mengoperasikan pesawat tempur multirole yang mampu menjalankan misi superioritas udara, serangan darat, dan pengintaian. Kemampuan ini melampaui armada lama yang menghadapi keterbatasan usia dan sistem tempur.
Modernisasi Udara dan Beban Fiskal
Langkah ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pembeli jet tempur utama di pasar global. Pemerintah terus meningkatkan anggaran pertahanan untuk memperkuat kekuatan udara sebagai pilar pertahanan nasional.
Namun, kebijakan tersebut memicu perdebatan publik. Nilai kontrak Rafale yang mencapai ratusan triliun rupiah mendorong diskusi soal prioritas belanja negara. Publik menyoroti kebutuhan mendesak di sektor pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Kebijakan ini berdampak langsung pada pembayar pajak dan masyarakat luas. Banyak pihak berharap belanja pertahanan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan stabilitas ekonomi.
Strategi Udara Tidak Berhenti di Rafale
Pembelian Rafale hanya menjadi bagian dari strategi besar pertahanan udara Indonesia. Pemerintah juga menandatangani kontrak jangka panjang untuk membeli 48 jet tempur KAAN buatan Turkiye. Pesawat generasi kelima itu menggunakan mesin General Electric F110, mesin yang juga menggerakkan F-16.
Selain itu, pemerintah membuka opsi lain untuk memperkuat armada. Indonesia mempertimbangkan jet tempur J-10 buatan China dan F-15EX buatan Amerika Serikat. Reuters melaporkan bahwa Indonesia juga membuka pembicaraan awal dengan Pakistan terkait pembelian jet tempur dan drone bersenjata pada awal Januari 2026.
Langkah-langkah ini mencerminkan strategi diversifikasi mitra. Indonesia berupaya membangun kekuatan udara tanpa menggantungkan diri pada satu pemasok.
Pesan Geopolitik dari Langit Pekanbaru
Kedatangan Rafale memperkuat hubungan strategis Indonesia dan Prancis. Bagi Paris, Indonesia menjadi mitra utama industri pertahanan di Asia Tenggara. Bagi Jakarta, kerja sama ini membuka ruang manuver di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompleks.
Di tengah rivalitas kekuatan besar dan meningkatnya ketegangan kawasan, Indonesia menyampaikan pesan jelas: negara ini ingin menjaga kedaulatan tanpa berpihak secara ekstrem.
Tiga Rafale yang mendarat di Pekanbaru memang baru langkah awal. Namun, di balik deru mesinnya, muncul pertanyaan penting apakah modernisasi alutsista ini benar-benar meningkatkan rasa aman publik, atau justru menambah daftar belanja mahal negara yang belum sepenuhnya dirasakan rakyat. @dimas





