Tabooo.id: Regional – Kota Tua Jakarta berubah menjadi panggung cahaya pada Senin (16/2/2026) malam. Ribuan lampu menari di dinding Museum Fatahillah, memantul di trotoar yang padat pengunjung. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyalakan Jakarta Light Festival (JLF) Chinese New Year Edition untuk merayakan Imlek 2026, menggabungkan hiburan, budaya, dan teknologi di jantung kota bersejarah.
Sejak pukul 16.00 WIB, pengunjung berdatangan silih berganti. Anak-anak menatap terpukau, orang tua mengabadikan momen, dan turis mancanegara berfoto dengan latar video mapping yang menampilkan perjalanan shio dari masa ke masa. Barongsai meloncat-loncat, musik bernuansa Tionghoa mengalun, sementara aroma kuliner kaki lima memenuhi udara. Kepala UPK Kota Tua, Denny Aputra, menekankan bahwa festival ini bukan sekadar tontonan; ia sekaligus bentuk apresiasi kepada masyarakat dan cara merawat keberagaman budaya Jakarta.
Festival dan Dampak Ekonomi
Festival ini menghadirkan hiburan gratis bagi masyarakat. Namun secara ekonomi, dampaknya terasa nyata. Pedagang lokal, pengrajin, dan layanan transportasi daring mencatat peningkatan transaksi. Hingga malam itu, tercatat sekitar 23.000 pengunjung, dan angka ini diperkirakan menembus 30.000 orang sebelum acara berakhir. Bagi usaha mikro dan kecil di sekitar Kota Tua, festival menjadi sumber pendapatan sekaligus promosi budaya lokal ke mata dunia.
Video mapping menjadi daya tarik utama. Teknik proyeksi visual ini menyesuaikan gambar dengan permukaan tiga dimensi bangunan, membuat gedung-gedung tua seolah hidup, berubah bentuk, dan bergerak mengikuti narasi cahaya. Penonton tidak sekadar menyaksikan; mereka merasakan interaksi antara sejarah dan teknologi modern yang jarang terjadi di ruang publik perkotaan.
Tantangan dan Ketimpangan
Meski meriah, festival menimbulkan dampak sosial berlapis. Jalanan Kota Tua padat, parkir terbatas, dan sebagian warga menghadapi kemacetan serta kebisingan. Di sisi lain, sponsor dan turis memperoleh eksposur maksimal dari budaya dan hiburan, sementara warga lokal kadang hanya menjadi penonton. Ketimpangan ini menyoroti dilema perayaan modern: siapa yang paling diuntungkan, dan siapa yang menanggung efek sampingnya?
Pemprov DKI juga menyebar perayaan Imlek ke beberapa titik lain Monas dengan air mancur menari, Bundaran HI, Taman Mini Indonesia Indah, Blok M Hub, dan Klenteng Jakarta. Strategi ini memperluas dampak ekonomi sekaligus menjaga identitas Jakarta sebagai kota multikultural.
Refleksi Kota Global
Jakarta Light Festival menegaskan bahwa kota dapat merangkul modernitas tanpa meninggalkan budaya. Namun kemeriahan dan teknologi tinggi membawa ironi budaya yang seharusnya melibatkan warga lokal kini kadang hanya menjadi tontonan atau alat ekonomi. Festival ini menjadi cermin Jakarta, kota yang menari di antara kemajuan, tradisi, dan kepentingan bisnis.
Di balik gemerlap lampu dan musik, muncul pertanyaan apakah masyarakat Jakarta cukup berdaya untuk tetap menjadi bagian dari budaya mereka sendiri, atau mereka hanya penonton dalam perayaan yang menyejahterakan pihak tertentu? Di kota yang terus bergelora antara sejarah dan modernitas, cahaya memang memukau, tetapi bayangnya menimbulkan pertanyaan lebih dalam. @dimas




