Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jahit Jok Bermodal Rp1 Juta, Pak Harsono Tetap Bertahan

by teguh
Agustus 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Bertahan sejak 2023 Pak Harsono menjalankan usaha jahit jok Bermodal Rp1 Juta dan Selain jok sepeda dia juga melayani jasa servis sofa di tengah pendapatan yang habis untuk kebutuhan hidup serta lokasi usaha yang makin sulit terlihat.

Tabooo.id – Di salah satu sudut Kota Solo Kecamatan Serengan tepatnya jalan Veteran sebuah usaha kecil jahit jok bermodal Rp1 Juta terus bekerja tanpa banyak suara. Tidak ada papan nama besar yang mencolok dari jalan utama. Etalase pun tidak berdiri megah untuk menarik perhatian orang yang melintas. Yang terlihat justru kain, spon, peralatan jahit, jok motor, serta sofa yang menunggu sentuhan tangan pemiliknya.

Dari ruang sederhana itu, Pak Harsono mempertahankan jasa jahit dan ganti jok motor sekaligus servis sofa sejak sekitar 2023. Modal awalnya hanya sekitar Rp1 juta. Jumlah tersebut ia gunakan untuk membeli kain, spon, dan peralatan kerja.

Bagi sebagian orang, angka Rp1 juta mungkin tampak terlalu kecil untuk membangun usaha. Namun, bagi Harsono, nominal itu menjadi titik awal setelah pekerjaan sebelumnya di pabrik mebel kawasan Pasar Ngemplak/Pasar Gede Solo berhenti karena tempat kerjanya terbakar.

Keterampilan yang sebelumnya ia gunakan untuk bekerja bagi orang lain kemudian berubah menjadi modal utama untuk membangun penghidupan sendiri.

Kini, usaha itu masih berjalan. Namun, bertahan tidak otomatis berarti tumbuh.

Ini Belum Selesai

Karhutla Kalimantan Meluas, Mengapa Negara Kembali Terlambat?

OTT KPK Rektor Unsoed, Dugaan Suap Buka Celah Korupsi Kampus

Rata-rata pendapatan mencapai sekitar Rp2 juta per bulan. Uang tersebut langsung terserap untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Di sisi lain, biaya operasional tetap berjalan. Token listrik membutuhkan sekitar Rp250 ribu per bulan, sedangkan Wi-Fi rumah mencapai sekitar Rp210 ribu.

Jika digabung, dua kebutuhan rutin tersebut sudah mengambil sekitar Rp460 ribu dari pendapatan bulanan.

Jumlah itu belum memperhitungkan kain, spon, peralatan, transportasi, serta kebutuhan keluarga lainnya.

Karena itu, Rp2 juta bukan sekadar angka pendapatan bagi Harsono. Nominal tersebut menjadi ruang napas yang harus dibagi untuk mempertahankan usaha sekaligus memenuhi kehidupan keluarga.

Jahit Jok Bermodal Rp1 Juta, Pak Harsono Tetap Bertahan
Ada sekitar empat pelanggan tetap dari kalangan makelar dan pedagang motor bekas di Solo

Dari Pabrik Mebel ke Usaha Sendiri

Warga asli Wonogiri yang telah memegang KTP Solo sejak 1998 ini sudah lama akrab dengan pekerjaan yang mengandalkan keterampilan tangan. Sebelum membuka usaha sendiri, pengalaman kerjanya datang dari pabrik mebel kawasan Pasar Ngemplak Belibis Solo, dekat kawasan Masjid Sheikh Zayed.

Kemudian, kebakaran mengubah perjalanan pekerjaannya.

Kehilangan tempat kerja membuat Harsono mencari jalan lain agar tetap memperoleh penghasilan. Sekitar 2023, pilihan itu mengarah pada usaha jahit dan ganti jok motor serta servis sofa.

Modal yang tersedia saat itu hanya sekitar Rp1 juta.

“Modal awal saya sekitar Rp1 juta. Dari situ saya beli kain, spon, dan peralatan untuk mulai usaha.”
— Pak Harsono, 15/08/2026.

Dengan modal terbatas, setiap pembelian harus ia perhitungkan. Uang yang masuk tidak bisa berhenti sebagai keuntungan karena sebagian harus kembali menjadi modal kerja.

Dalam kondisi normal, sekitar lima sampai tujuh pelanggan datang setiap hari. Saat permintaan meningkat, jumlahnya bisa mencapai 15–20 pelanggan. Sebaliknya, ketika kondisi sepi, pelanggan turun menjadi sekitar tiga sampai empat orang.

Tarif jahit atau ganti jok motor berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, termasuk bahan kain dan jasa pemasangan. Harga Rp60 ribu–Rp70 ribu menjadi pilihan yang cukup banyak diminati.

Dari luar, angka tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, setiap pesanan membawa biaya yang harus kembali masuk ke dalam perputaran usaha. Bahan perlu dibeli, listrik harus dibayar, kebutuhan rumah tangga terus berjalan, dan modal harus tetap tersedia untuk pekerjaan berikutnya.

Dengan demikian, uang yang masuk tidak otomatis menjadi uang yang bisa disimpan.

Suara Pak Harsono: Bertahan dengan Modal yang Terbatas

Harsono tidak menggambarkan usahanya sebagai bisnis besar. Ia lebih melihat pekerjaan tersebut sebagai jalan untuk mempertahankan penghasilan keluarga.

“Kalau pendapatan sekitar Rp2 juta, biasanya langsung untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi belum ada banyak yang bisa disisihkan.”
— Pak Harsono, 15/08/2026..

Kondisi tersebut membuat perputaran modal menjadi sangat penting. Ketika pemasukan datang, sebagian langsung kembali untuk kebutuhan hidup. Saat pesanan besar muncul, kebutuhan modal pun ikut meningkat.

Sekitar empat pelanggan tetap dari kalangan makelar dan pedagang motor bekas di Solo, Ngruki, serta Cemani menjadi salah satu penyangga usaha. Relasi yang terbangun dari waktu ke waktu membuat pekerjaan tetap datang, terutama ketika pelanggan umum sedang tidak ramai.

Bahan kain ia beli di kawasan Baturan, Fajar Indah, serta beberapa toko di sekitar Podomoro dan Kios Santri. Untuk pekerjaan sofa, waktu pengerjaan berkisar satu sampai tiga hari, bergantung pada tingkat kerusakan dan model.

Jika sofa berukuran besar, pengerjaan berlangsung di rumah dengan bantuan sang kakak yang juga menjalankan usaha serupa.

Jaringan keluarga dan pelanggan akhirnya ikut menjadi modal sosial yang menjaga usaha tetap hidup.

Ketika Ruang Usaha Ikut Menentukan Nasib

Persoalan Harsono ternyata tidak berhenti pada modal. Pengelola lahan pernah meminta dirinya bergeser dari lokasi usaha sebelumnya.

Tempat yang sekarang ia gunakan berada lebih masuk sehingga keberadaannya tidak mudah terlihat dari jalan utama. Bagi bisnis kecil, kondisi tersebut bukan persoalan sepele.

Visibilitas menentukan peluang orang menemukan sebuah usaha. Ketika lokasi semakin sulit terlihat, kesempatan memperoleh pelanggan baru ikut menghadapi hambatan. Sebuah ruangan usaha menjadi bagian dari modal ekonomi.

Pelaku usaha membutuhkan uang untuk membeli bahan dan peralatan. Pada saat yang sama, mereka juga membutuhkan tempat yang memungkinkan pelanggan menemukan dan mengakses jasa mereka.

“Tempat sekarang agak masuk, jadi dari jalan utama memang kurang kelihatan. Harapannya ada tempat yang lebih layak.”
— Pak Harsono, 15/08/2026.

Harapan tersebut bukan sekadar soal kenyamanan tempat kerja. Bagi usaha mikro, lokasi dapat menentukan apakah pelanggan baru berhenti atau justru melewati begitu saja.

Ketika Pesanan Besar Datang, Keluarga Menjadi Bank Terdekat

Ada sisi lain yang memperlihatkan tipisnya batas antara modal usaha dan kebutuhan hidup.

Ketika pesanan besar datang sementara uang untuk membeli bahan belum mencukupi, Harsono memilih meminjam kepada keluarga.

“Kalau ada pesanan besar tetapi modalnya kurang, biasanya saya pinjam dulu ke keluarga.”
— Pak Harsono, 15/08/2026.

Pilihan tersebut terasa paling dekat karena hubungan kepercayaan sudah terbentuk. Namun, keputusan itu sekaligus membuka pertanyaan tentang akses pembiayaan usaha mikro.

Jika usaha sudah berjalan sejak sekitar 2023, memiliki pelanggan tetap, pengalaman, dan keterampilan, mengapa tambahan modal masih lebih mudah dicari melalui keluarga?

Pertanyaan tersebut tidak otomatis berarti lembaga keuangan gagal menjangkau UMKM. Sebaliknya, situasi itu menunjukkan bahwa akses pembiayaan bukan hanya soal ada atau tidaknya produk kredit.

Informasi yang mudah dipahami, persyaratan realistis, pendampingan, serta skema pembayaran yang sesuai dengan arus kas juga menentukan apakah pelaku usaha mampu menggunakan pembiayaan formal.

Kredit UMKM dan Jarak yang Belum Hilang

Cerita Harsono menjadi lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks pembiayaan UMKM.

Pada 25/07/2026, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyoroti pertumbuhan kredit UMKM yang hanya sekitar 1 persen sampai Juni 2026. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan kredit nasional yang mencapai 12,6 persen.

Menurut Yusuf, kesenjangan tersebut menunjukkan persoalan struktural dalam akses pembiayaan UMKM.

“Kesenjangan antara pertumbuhan kredit UMKM menunjukkan persoalan yang bersifat struktural.”

Pernyataan Yusuf kepada ANTARA pada Sabtu, 25/07/2026, memberikan konteks terhadap persoalan yang terlihat sangat lokal.

Masalahnya bukan semata ada atau tidaknya uang. Persoalan yang lebih dalam terletak pada bagaimana pembiayaan bergerak menuju usaha yang benar-benar membutuhkan.

Bagi perusahaan besar, tambahan kredit dapat membuka ruang ekspansi. Sementara bagi usaha mikro, tambahan modal dalam jumlah relatif kecil bisa menentukan apakah pemilik mampu menerima pesanan besar atau harus menolaknya karena tidak sanggup membeli bahan terlebih dahulu.

Skalanya berbeda, tetapi dampaknya sama-sama menentukan masa depan usaha.

UMKM Tidak Hanya Membutuhkan Pelatihan

Persoalan lain muncul dari cara pemberdayaan UMKM berlangsung.

Pada 30/05/2025, Pengamat Kebijakan Publik Untirta Ikhsan Ahmad mengingatkan bahwa pemberdayaan UMKM tidak cukup melalui festival dan pelatihan.

“Festival dan pelatihan saja tidak cukup.”

Menurut Ikhsan, pelaku UMKM membutuhkan pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan, manajemen keuangan, pengembangan produk, dan pemasaran.

Konteks tersebut relevan dengan kondisi Harsono. Pelaku usaha kecil tidak selalu membutuhkan seminar tambahan. Dalam situasi tertentu, mereka justru membutuhkan mesin, bahan baku, tempat usaha, akses pasar, atau tambahan modal untuk menerima pesanan.

Karena itu, keberhasilan pemberdayaan UMKM tidak seharusnya hanya dihitung dari jumlah kegiatan.

Bagi pemilik usaha, ukuran yang lebih nyata adalah apakah omzet meningkat, pelanggan bertambah, modal berputar lebih cepat, dan usaha mampu bertahan.

Pertanyaan akhirnya sederhana Apakah besok usaha ini masih bisa buka?

Solo Punya UMKM Center, Siapa yang Menjemput?

Pemerintah Kota Surakarta telah memiliki sejumlah instrumen dukungan bagi UMKM. Pada 30/04/2025, Wali Kota Surakarta Respati Ardi meresmikan UMKM Center di kawasan PLUT.

Fasilitas tersebut menyediakan dukungan berupa bantuan modal produksi, pelatihan manajerial, jejaring kemitraan, konsultasi usaha, serta inkubasi bisnis.

Kemudian, pada April 2026, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyampaikan bahwa pengembangan UMKM diarahkan pada perluasan akses pasar dan peningkatan daya saing.

Secara kelembagaan, jalur dukungan itu tersedia. Namun, persoalannya bukan lagi sekadar apakah program ada.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pelaku usaha seperti Harsono mengetahui jalur tersebut dan mampu mengaksesnya.

Bayangkan pemilik usaha dengan pendapatan sekitar Rp2 juta per bulan harus membagi waktu antara mengerjakan pesanan, membeli bahan, mengurus keluarga, dan memenuhi kebutuhan harian. Dalam kondisi seperti itu, mencari informasi program pemerintah bisa menjadi pekerjaan tambahan.

Di sinilah kebijakan publik menghadapi tantangan yang sering tidak terlihat dari meja birokrasi. Program bisa tersedia. Pusat layanan bisa berdiri. Informasi bisa dipublikasikan.

Namun, tanpa mekanisme jemput bola, sebagian usaha mikro tetap berpotensi berada di luar lingkaran akses.

Ini Bukan Sekadar Cerita Tukang Jahit Jok

Kisah Harsono memang bermula dari modal sekitar Rp1 juta. Namun, semakin jauh persoalan ini dilihat, semakin jelas bahwa nominal tersebut hanya satu bagian dari masalah.

Ada keterampilan yang sudah ia miliki. Pelanggan tetap juga terus menjaga aliran pekerjaan. Keluarga menjadi penyangga ketika modal menipis. Pada saat yang sama, lokasi usaha justru semakin sulit terlihat.

Di sisi lain, berbagai program pembiayaan dan fasilitas UMKM telah tersedia. Jaraknya bukan selalu antara ada dan tidak ada program.

Sering kali, persoalan muncul di antara program yang tersedia dan orang yang membutuhkan. Harsono tidak meminta bisnis besar.

Ia ingin usaha yang sudah berjalan dapat berkembang. Tambahan modal akan membuatnya lebih leluasa menerima pesanan besar, sedangkan tempat yang lebih layak dapat membantu pelanggan menemukan usahanya.

“Harapannya ada bantuan modal atau perhatian dari pemerintah kota supaya usaha ini bisa berkembang dan punya tempat yang lebih layak.”
— Pak Harsono,15/08/2026.

Harapan tersebut terdengar sederhana Justru karena sederhana, pertanyaannya menjadi lebih tajam

Mengapa sistem ekonomi yang begitu besar masih terasa jauh bagi usaha yang hanya membutuhkan sedikit modal dan ruang untuk tumbuh?

Bagaimana Jika Ada Ribuan Pak Harsono?

Harsono mungkin hanya satu orang. Namun, pola yang terlihat dari ceritanya bisa terjadi pada banyak usaha mikro lainnya.

Mereka memiliki keterampilan, pelanggan, dan kemauan bekerja. Sebagian bahkan sudah menjalankan usaha selama bertahun-tahun.

Masalah muncul ketika pertumbuhan membutuhkan sesuatu yang tidak mereka miliki: modal tambahan, ruang yang layak, akses pasar, informasi, atau seseorang yang menunjukkan pintu mana yang harus diketuk.

Mereka tidak benar-benar gagal. Namun, mereka juga belum berhasil naik kelas.

Posisi tersebut membuat banyak usaha mikro hidup di wilayah abu-abu terlalu kuat untuk disebut gagal, tetapi terlalu rapuh untuk disebut mapan.

Di sinilah statistik ekonomi sering kehilangan wajah manusianya. Pertumbuhan UMKM dapat terlihat dalam persentase.

Bagi pemilik usaha, pertumbuhan terasa ketika pesanan bertambah, bahan baku tersedia, kebutuhan keluarga terpenuhi, dan sebagian pendapatan bisa kembali menjadi modal.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan paling sederhana tetap sama Pintu usaha masih bisa dibuka pada hari berikutnya.

Jangan Cuma Suruh UMKM Naik Kelas

Kita terlalu sering mendengar kalimat bahwa UMKM harus naik kelas. Kalimat tersebut terdengar optimistis. Namun, ada pertanyaan yang perlu dibalik kalau UMKM diminta naik, siapa yang menyediakan tangganya?

Ketika pelaku usaha harus menjadi bankable, siapa yang membantu mereka memahami prosesnya? Jika legalitas menjadi syarat penting, siapa yang memastikan proses tersebut tidak terasa rumit bagi usaha mikro?

Saat omzet harus meningkat, siapa yang membantu membuka pasar? Ketika lokasi usaha bergeser ke tempat yang lebih masuk, siapa yang membantu agar pelanggan tetap menemukan keberadaan mereka?

Pertanyaan tersebut bukan upaya menyalahkan satu pihak. Sebaliknya, pertanyaan itu menguji apakah berbagai kebijakan UMKM benar-benar bekerja sebagai satu ekosistem.

Modal tanpa pasar bisa berubah menjadi beban. Pelatihan tanpa pendampingan bisa berhenti sebagai sertifikat. Legalitas tanpa akses pembiayaan bisa sekadar menjadi dokumen.

Begitu pula ruang usaha tanpa visibilitas bisa berubah menjadi tempat yang dilewati tanpa pernah ditemukan pelanggan.

Karena itu, tantangan pemerintah bukan sekadar menambah program. Tantangan berikutnya adalah memastikan program tersebut sampai kepada orang yang paling sulit mengaksesnya.

Harsono tidak sedang duduk di ruang seminar. Ia sedang menjahit jok, memperbaiki sofa, membeli bahan, melayani pelanggan, dan menghitung kebutuhan keluarga.

Di situlah keberpihakan kebijakan diuji. Bukan pada banyaknya acara. Bukan pula pada banyaknya spanduk.

Ukuran sebenarnya terletak pada satu hal: apakah seseorang yang memulai usaha dengan modal Rp1 juta bisa memperoleh kesempatan yang cukup untuk mengembangkan bisnis yang ia bangun sendiri.

Ruang Kecil, Pertanyaan Besar

Sejak sekitar 2023, Harsono mempertahankan usahanya dengan modal yang sangat terbatas. Keterampilan, pelanggan tetap, keluarga, dan keberanian untuk bekerja secara mandiri menjadi penyangga utama perjalanan tersebut.

Pendapatan sekitar Rp2 juta per bulan mungkin tidak terlihat besar. Namun, dari angka itu ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, listrik yang harus dibayar, bahan yang harus dibeli, dan modal yang harus terus diputar.

Harapannya pun tidak rumit, Tambahan modal dapat membuatnya lebih leluasa menerima pesanan. Tempat usaha yang lebih layak juga dapat membantu pelanggan menemukan keberadaan bisnisnya.

Jika negara memiliki program pembiayaan, pemerintah kota mempunyai UMKM Center, dan berbagai lembaga terus berbicara tentang pemberdayaan UMKM, pertanyaan berikutnya menjadi sangat sederhana:

Apakah semua itu sudah terasa sampai ke tempat Harsono bekerja? Sebab, UMKM sering diminta naik kelas.

Namun sebelum menyuruh mereka naik, pastikan tangganya memang tersedia. Lebih penting lagi, pastikan mereka tahu di mana tangga tersebut berada.

Karena ekonomi rakyat tidak selalu gagal akibat kekurangan kemampuan. Kadang, mereka hanya terlalu lama hidup di ruang yang terlalu sempit.

Modal Rp1 juta bisa membuka usaha. Tetapi tanpa ruang, akses, dan pembiayaan yang tepat, modal kecil hanya cukup untuk membuat seseorang bertahan bukan tumbuh.

UMKM sering diminta naik kelas. Tapi sebelum menyuruh mereka naik, pastikan tangganya memang ada. @teguh

Tags: Akses ModalEkonomi KerakyatanJahit JokPembiayaan UMKMrespati ardiSurakartaUMKM SoloUsaha KecilWalikota Solo

Kamu Melewatkan Ini

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

by eko
Agustus 21, 2026

Respati Ardi tampil sebagai demang dengan beskap dan pit ontel dalam Pawai Pembangunan 2026. Ia mengusung konsep Solo Tempo Dulu...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026. Tabooo.id...

Next Post
43 Orang Tewas Akibat Gempa M7,7 NTT

43 Orang Tewas Akibat Gempa M7,7 NTT

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id