Karhutla Kalimantan meluas hingga berdampak ke Malaysia dan Singapura. Ribuan titik panas memicu kabut asap, mengganggu sekolah, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.
Tabooo.id – Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menyeberangi batas negara. Malaysia dan Singapura mulai merasakan dampaknya, sementara Indonesia menghadapi pertanyaan lama: mengapa kebakaran yang terus berulang masih sulit dicegah sejak awal?
Di Sarawak, Malaysia, pemerintah setempat menutup sementara 591 sekolah di 10 distrik setelah kualitas udara memburuk. Kebijakan itu berdampak pada 197.323 siswa yang kemudian mengikuti pembelajaran dari rumah.
Singapura menghadapi situasi serupa dengan bentuk berbeda. Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) meminta masjid mempersingkat khotbah Jumat karena cuaca semakin panas dan kabut asap mulai muncul di sejumlah wilayah.
Dua keputusan tersebut menunjukkan bahwa persoalan di Kalimantan telah berkembang menjadi masalah lintas batas. Ketika sekolah harus menghentikan pembelajaran tatap muka dan masjid menyesuaikan kegiatan ibadah, dampak kebakaran sudah jauh melampaui kawasan sumber api.
Ketika Asap Menjadi Persoalan Diplomatik
Ketua DPR Puan Maharani mengungkapkan, negara tetangga sudah beberapa kali mengirim nota keberatan kepada Indonesia akibat dampak karhutla.
Puan meminta pemerintah tidak menunggu keberatan baru dari negara sahabat. Ia juga mendorong pemerintah dan instansi terkait menegakkan hukum terhadap pihak yang sengaja membakar lahan hingga menimbulkan kerugian besar.
Menurut Puan, pemerintah perlu mengetahui pihak yang bertanggung jawab atas setiap titik api. Ia menilai karhutla telah mengganggu kesehatan, pendidikan anak-anak, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pernyataan itu membawa persoalan pada pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa titik api yang sudah terdeteksi masih bisa berkembang menjadi kebakaran besar?
BNPB mencatat 1.487 titik panas di Kalimantan. Kalimantan Tengah mencatat 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing 74 titik, serta Kalimantan Utara tiga titik.
Angka tersebut menunjukkan luasnya persoalan, tetapi belum menjelaskan akar kegagalan penanganan. Puan justru menyoroti jeda antara informasi, keputusan, dan tindakan sebagai salah satu persoalan utama.
Informasi Sudah Ada, Mengapa Respons Terlambat?
Teknologi kini memungkinkan pemerintah mendeteksi titik panas dengan cepat. Namun, sistem deteksi hanya memberi peringatan; manusia tetap harus mengambil keputusan dan mengirimkan tindakan ke lapangan.
Di sinilah tata kelola karhutla menghadapi ujian.
Ketika petugas menerima informasi tentang titik api, pemerintah harus segera menentukan prioritas, mengerahkan personel, dan memastikan pemadaman berjalan. Setiap keterlambatan memberi kesempatan kepada api untuk meluas, terutama ketika kondisi lahan dan cuaca mempercepat penyebarannya.
Karena itu, evaluasi karhutla tidak cukup dengan menghitung jumlah titik panas. Pemerintah juga perlu menelusuri bagaimana setiap informasi bergerak dari sistem pemantauan menuju keputusan, lalu berubah menjadi tindakan konkret.
Pertanyaan berikutnya bahkan lebih penting siapa yang bertanggung jawab ketika titik api sudah diketahui tetapi penanganan terlambat?
Jika pemerintah hanya mencatat koordinat tanpa menelusuri penyebab dan aktornya, negara kehilangan bagian penting dari persoalan.
Dampaknya Menyentuh Anak-Anak
Karhutla akhirnya memperlihatkan dampaknya melalui aktivitas masyarakat yang terganggu.
Di Sarawak, pemerintah menutup 591 sekolah untuk melindungi siswa dari paparan udara tidak sehat. Sebanyak 107.590 siswa berasal dari 509 sekolah dasar, sedangkan 89.733 siswa lainnya berasal dari 82 sekolah menengah.
Selama penutupan, siswa mengikuti pembelajaran dari rumah.
Keputusan tersebut memang melindungi anak-anak, tetapi juga menunjukkan luasnya dampak kebakaran yang bermula di kawasan lain. Sebuah kebakaran di Kalimantan dapat mengubah aktivitas belajar anak-anak di seberang perbatasan.
Singapura menghadapi konsekuensi berbeda. MUIS meminta masjid mempersingkat khotbah Jumat karena cuaca panas dan kemunculan kabut asap di sejumlah wilayah.
Hingga Jumat pukul 13.00 waktu setempat, PSI 24 jam Singapura berada pada kisaran 60-74 atau kategori sedang. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) tetap memantau kualitas udara dan menyiapkan pembaruan jika kondisinya berubah.
Respons tersebut memperlihatkan satu prinsip penting dalam pengelolaan risiko: pemerintah tidak perlu menunggu bencana mencapai titik terburuk untuk melindungi masyarakat.
Ketika Daerah Tidak Lagi Cukup
Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan menilai kondisi karhutla di Kalimantan sudah melampaui batas kewajaran. Ia mendorong pemerintah menetapkan status bencana nasional agar pemerintah pusat dapat mengerahkan sumber daya secara lebih cepat dan terkoordinasi.
Daniel menilai keterbatasan APBD membuat daerah kesulitan menghadapi kebakaran berskala besar. Menurut dia, pemerintah pusat dapat mempercepat pengerahan anggaran, personel, water bombing, dan operasi modifikasi cuaca melalui status tersebut.
Ia juga meminta Kementerian Kesehatan menyiapkan protokol kesehatan bagi wilayah terdampak. Langkahnya antara lain membagikan masker N95 secara massal dan membuka posko kesehatan di kawasan dengan kualitas udara buruk.
Usulan itu memperlihatkan perubahan skala persoalan. Pemerintah tidak lagi menghadapi kebakaran lokal, melainkan krisis yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Namun, perubahan status saja tidak menyelesaikan akar masalah.
Pemerintah tetap harus memperkuat pencegahan, pengawasan lahan, penegakan hukum, dan respons sejak titik api pertama muncul. Tanpa pembenahan tersebut, tambahan sumber daya hanya akan memperbesar kemampuan negara untuk menangani kebakaran yang terus berulang.
Ini Bukan Sekadar Karhutla. Ini Pola.
Setiap kebakaran besar mengikuti pola yang hampir sama. Titik panas muncul, asap menyebar, kualitas udara memburuk, masyarakat merasakan dampaknya, kemudian pemerintah meningkatkan pengerahan sumber daya.
Setelah api mereda, perhatian publik ikut turun.
Pola itu menyisakan pertanyaan yang lebih besar mengapa negara terus mengulang siklus yang sama?
Keberhasilan penanganan seharusnya tidak hanya terlihat dari kemampuan pemerintah memadamkan api. Negara juga perlu mengukur keberhasilannya dari kemampuan mencegah titik api berkembang menjadi krisis.
Di sinilah karhutla berubah menjadi persoalan tata kelola.
Pemerintah perlu memperbaiki pengawasan lahan, memperjelas rantai komando, mempercepat pengambilan keputusan, dan memastikan aparat menindak pihak yang terbukti melakukan pembakaran. Pada saat yang sama, pemerintah pusat dan daerah harus memastikan informasi dari sistem pemantauan benar-benar menghasilkan tindakan di lapangan.
Tanpa perubahan itu, Indonesia akan terus menghadapi persoalan yang sama setiap kali kondisi lingkungan meningkatkan risiko kebakaran.
Bedanya hanya lokasi, jumlah titik, dan luas dampaknya.
Asap Tidak Memiliki Paspor
Malaysia dan Singapura tidak mengendalikan titik api di Kalimantan. Namun, masyarakat kedua negara ikut menanggung konsekuensinya ketika angin membawa asap melintasi wilayah mereka.
Masyarakat Indonesia menghadapi persoalan serupa. Mereka tidak menentukan kebijakan pengelolaan lahan atau kecepatan respons pemerintah, tetapi harus menghirup udara yang tercemar ketika kebakaran membesar.
Karena itu, karhutla tidak boleh berhenti sebagai siklus tahunan yang selesai ketika hujan datang atau petugas berhasil memadamkan api. Pemerintah harus melihat setiap kejadian sebagai kesempatan untuk membongkar kelemahan sistem yang membuat persoalan serupa terus muncul.
Sebab, asap memang bergerak mengikuti angin. Namun keputusan untuk mencegah, membiarkan, atau menghentikan kebakaran tetap berada di tangan manusia.
Pada akhirnya, karhutla Kalimantan bukan hanya persoalan hutan yang terbakar. Ia menjadi ujian terhadap kemampuan negara untuk mengubah informasi menjadi tindakan, menindak pihak yang bertanggung jawab, melindungi masyarakat, dan memutus pola agar krisis yang sama tidak kembali berulang.
Asap mungkin menyeberang tanpa paspor, tetapi tanggung jawab tidak boleh ikut hilang bersama arah angin. @dimas








