Tabooo.id: Global – Langit Lebanon kembali bergemuruh. Militer Israel menyerang sejumlah target Hizbullah pada Jumat (26/12/2025) dan memicu eskalasi baru di tengah gencatan senjata yang masih berlaku. Salah satu sasaran utama serangan itu adalah fasilitas pelatihan Radwan Force, unit elite Hizbullah yang selama ini masuk daftar ancaman strategis Tel Aviv.
Dalam pernyataan resmi, militer Israel menegaskan serangan itu menargetkan lokasi yang menopang aktivitas militer Radwan Force. Israel menilai unit tersebut aktif merancang operasi lintas perbatasan menuju wilayahnya.
Radwan Force, Target Lama Israel
Radwan Force sudah lama menjadi perhatian utama Israel dalam konflik dengan Hizbullah. Hizbullah membentuk unit elite ini dengan dukungan Garda Revolusi Iran dan mengisinya dengan sekitar 2.500 personel terlatih. Para anggotanya mengasah pengalaman tempur selama keterlibatan Hizbullah dalam perang saudara Suriah.
Israel memandang Radwan Force memiliki kemampuan infiltrasi tingkat tinggi, termasuk skenario perebutan wilayah strategis di Galilea utara. Karena itu, intelijen Israel terus memantau setiap aktivitas pelatihan dan konsolidasi unit tersebut.
Melalui serangan terbaru ini, Israel berupaya memutus kemampuan tempur Hizbullah sebelum kelompok itu memperkuat kembali posisinya di perbatasan.
Gudang Senjata Turut Jadi Sasaran
Israel tidak hanya menyerang fasilitas pelatihan. Militer Israel juga menghantam gudang senjata, infrastruktur militer, serta bangunan yang Hizbullah gunakan untuk menyusun rencana serangan ke wilayah Israel. Tel Aviv menilai keberadaan fasilitas tersebut melanggar kesepahaman keamanan antara Israel dan Lebanon.
Militer Israel menegaskan akan terus menjalankan operasi untuk menyingkirkan ancaman yang, menurut mereka, membahayakan keamanan nasional. Sikap ini menunjukkan Israel tidak sepenuhnya merasa terikat pada semangat gencatan senjata yang telah disepakati.
Hermel Jadi Titik Panas
Media Lebanon melaporkan serangan udara Israel terkonsentrasi di wilayah Hermel, kawasan timur laut Lebanon yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah. Hingga kini, otoritas setempat belum merilis data resmi terkait korban jiwa maupun tingkat kerusakan.
Pemerintah Lebanon juga belum mengeluarkan pernyataan. Namun, serangan tersebut langsung memicu kekhawatiran publik akan meluasnya konflik, terutama di kawasan sipil yang berdampingan dengan basis militer Hizbullah.
Gencatan Senjata yang Retak
Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang Israel dan Hizbullah sepakati pada November 2024, setelah lebih dari satu tahun bentrokan lintas perbatasan. Konflik itu bermula ketika Hizbullah menyerang wilayah Israel menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Dalam kesepakatan gencatan senjata, kedua pihak berjanji menghentikan aksi permusuhan bersenjata. Pemerintah Lebanon memikul tanggung jawab mencegah serangan dari wilayahnya, sementara Israel berkomitmen menghentikan operasi ofensif di Lebanon.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan arah berbeda. Hizbullah secara terbuka menolak melucuti senjatanya, sementara Israel hampir setiap hari melancarkan serangan dengan alasan pencegahan dini.
Warga Sipil Terjepit di Tengah Konflik
Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 330 orang tewas akibat operasi militer Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku. Data ini menambah tekanan terhadap pemerintah Lebanon, yang kini menghadapi desakan internasional untuk bertindak lebih tegas terhadap Hizbullah.
Warga sipil Lebanon menanggung dampak paling nyata. Mereka hidup di tengah tarik-menarik kepentingan geopolitik, kekuatan militer kelompok bersenjata, dan serangan negara tetangga.
Israel terus melontarkan peringatan soal kemungkinan operasi militer skala besar jika Hizbullah tidak membubarkan kekuatannya. Hizbullah pun menegaskan tidak akan menyerah pada tekanan.
Gencatan senjata mungkin masih tercatat dalam dokumen resmi. Namun, deru jet tempur di langit Lebanon kembali mengingatkan satu hal: perdamaian di kawasan ini masih sebatas jeda, belum penutup konflik. @dimas




