Tabooo.id: Check – Media sosial kembali gaduh. Kali ini, warganet menuding TNI menyalurkan bantuan berisi kardus kosong untuk korban banjir di Sumatera. Sejumlah foto dan video menampilkan kotak besar yang tampak “kopong”. Dari situlah kesimpulan liar muncul bantuan fiktif, empati setipis kardus.
Narasi itu menyebar cepat. Reaksi publik ikut meninggi. Namun pertanyaannya sederhana benarkah demikian?
Faktanya, Narasi Itu Keliru
TNI langsung membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa kabar itu hoaks. Komandan Batalyon Perbekalan Angkutan (Perbekang) 5, Letkol CBA Supriyanto, menjelaskan bahwa kardus yang viral bukan kardus biasa. Kotak itu bernama helibox, kemasan khusus untuk penyaluran bantuan melalui metode airdrop.
Dengan kata lain, publik keliru menafsirkan bentuk bantuan. Helibox memang dirancang berbeda karena harus dijatuhkan dari udara. Karena itu, isinya tetap logistik bantuan, bukan ruang hampa.
Selain itu, setiap helibox melewati proses pemeriksaan ketat sebelum diterjunkan. TNI memastikan tidak ada satu pun kotak yang dikirim tanpa isi.
Mengapa Tampak Kosong? Ini Penjelasannya
Helibox memiliki tinggi sekitar 73 sentimeter. Logistik bantuan mengisi sekitar 30 sentimeter bagian bawah. Sementara itu, ruang di bagian atas sengaja dibiarkan kosong.
Tujuannya jelas menjaga keseimbangan dan mencegah kerusakan logistik saat bantuan dijatuhkan dari udara. Ruang kosong itu bukan tanda kelalaian, melainkan bagian dari desain keselamatan.
Analoginya sederhana. Gelas yang tidak penuh bukan berarti kosong. Bisa jadi isinya memang disesuaikan agar tidak tumpah.
Lebih lanjut, TNI membatasi berat helibox maksimal 5 kilogram. Kebijakan ini bertujuan menjaga keselamatan proses airdrop, baik bagi penerima di darat maupun kru di udara. Jadi, persoalannya bukan soal pelit bantuan, melainkan soal bantuan sampai dengan aman.
Pengawasan Berlapis, Kardus Kosong Nyaris Mustahil
Selain desain teknis, TNI juga menerapkan empat lapis pengawasan. Pertama, tim rigger memeriksa isi saat pengemasan. Kedua, petugas kembali mengecek saat pemuatan ke truk. Ketiga, kru pesawat melakukan pemeriksaan sebelum terbang. Terakhir, satuan teritorial di darat mengawal proses penerimaan bantuan.
Dengan sistem itu, narasi “kardus kosong” nyaris tidak masuk akal.
Penutup: Jangan Ikut Banjir Hoaks
Di era media sosial, potongan visual memang mudah memicu emosi. Namun, kasus ini kembali mengingatkan satu hal penting yang terlihat belum tentu benar.
Sebelum marah, sebelum membagikan, dan sebelum ikut menghakimi, ada baiknya berhenti sejenak untuk memeriksa fakta.
Supaya empati tetap utuh, dan kita tidak ikut hanyut dalam banjir hoaks apalagi dosa digital. @dimas





