Tabooo.id: Global – Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tengah menyiapkan perundingan dengan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Saat ini, pemerintah Iran terus melakukan konsultasi untuk memfinalkan lokasi pembicaraan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menjelaskan bahwa rencana tersebut mengikuti arahan langsung Presiden Masoud Pezeshkian. Karena itu, pemerintah menempatkan jalur dialog sebagai prioritas utama dalam merespons dinamika hubungan dengan Washington.
“Perencanaan telah kami lakukan untuk mengadakan perundingan dalam beberapa hari ke depan, dan saat ini kami masih berkonsultasi untuk menentukan lokasi, yang akan kami umumkan setelah keputusan diambil,” jelas Baghaei.
Presiden Dorong Diplomasi Terbuka
Selain menyiapkan perundingan, Presiden Pezeshkian juga mendorong kementerian terkait untuk membuka ruang komunikasi seluas mungkin. Langkah ini, menurut pemerintah, bertujuan menurunkan ketegangan yang selama ini membebani hubungan kedua negara.
Di sisi lain, Baghaei menyampaikan apresiasi kepada negara-negara sahabat yang aktif menunjukkan kepedulian. Bahkan, beberapa di antaranya secara langsung menawarkan bantuan guna memfasilitasi proses dialog.
Oleh sebab itu, Iran memandang dukungan tersebut sebagai sinyal positif bagi keberlanjutan upaya diplomasi.
Iran Minta Publik Hentikan Spekulasi Lokasi
Sementara itu, Baghaei meminta media dan publik tidak berspekulasi mengenai waktu maupun tempat perundingan. Menurutnya, fokus utama seharusnya tertuju pada substansi pembahasan, bukan pada aspek teknis.
“Pada prinsipnya, lokasi dan waktu perundingan bukan persoalan rumit. Karena itu, media sebaiknya tidak menjadikannya sebagai alat permainan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Turkiye, Oman, serta sejumlah negara lain di kawasan telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah. Dengan demikian, Iran menilai opsi lokasi sebenarnya cukup beragam.
Dampak Langsung ke Stabilitas Kawasan
Rencana perundingan ini berpotensi memengaruhi stabilitas politik dan keamanan di Timur Tengah. Selama ini, ketegangan Iran-AS kerap memicu eskalasi konflik dan meningkatkan risiko instabilitas regional.
Di tingkat domestik, masyarakat Iran menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Sanksi ekonomi yang berkepanjangan menekan daya beli, mengerek harga kebutuhan pokok, dan membatasi aktivitas perdagangan.
Sementara itu, pasar global juga ikut mencermati perkembangan ini. Jika dialog berjalan lancar, sentimen positif kemungkinan muncul, khususnya di sektor energi, mengingat peran strategis Iran sebagai produsen minyak dunia.
Pada akhirnya, perundingan ini membuka peluang bagi pergeseran arah hubungan kedua negara. Namun, publik juga paham, sejarah panjang ketegangan membuat setiap janji dialog selalu datang bersama keraguan. @dimas




