Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Internasionale: Lagu Lama, Tapi Sistem yang Dilawan Masih Sama?

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture Musik
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Musik – Pernah nggak sih kamu denger Internasionale, lagu yang bukan cuma masuk telinga, tapi langsung menusuk cara kamu melihat dunia? Lagu ini bukan sekadar nada, tapi terasa seperti tamparan halus pada realitas yang selama ini kamu anggap normal. Internasionale tidak datang untuk menghibur, tapi untuk membongkar.

Ketika orang menyanyikannya, yang terjadi bukan sekadar performa musik. Yang terjadi adalah transmisi gagasan, perpindahan energi kolektif dari satu generasi ke generasi lain. Lagu ini seperti pesan berantai lintas zaman yang terus mengingatkan: ada sesuatu yang tidak beres di dunia ini, dan seseorang harus berani mengatakannya.

Lahir dari Luka, Bukan Industri Hiburan

“Internasionale” tidak lahir dari industri musik, tidak dirancang untuk chart, dan tidak dibuat untuk viral. Lagu ini lahir dari reruntuhan harapan. Setelah jatuhnya Komune Paris tahun 1871, Eugène Pottier menulis liriknya dalam kondisi penuh kehilangan dan kemarahan. Ia tidak menulis untuk terkenal. Ia menulis karena tidak punya pilihan lain selain bersuara.

Beberapa tahun kemudian, Pierre De Geyter memberi nyawa pada kata-kata itu melalui musik. Tapi yang menarik, musik ini tidak menghilangkan rasa marahnya. Justru memperkuatnya. Nada-nadanya terdengar seperti ajakan, bukan hiburan. Seperti seruan, bukan pertunjukan. Ini bukan lagu yang ingin kamu nikmati diam-diam. Ini lagu yang ingin kamu nyanyikan bersama orang lain.

Dari Jalanan ke Dunia: Lagu yang Menolak Mati

Tidak banyak lagu yang mampu melampaui batas negara, bahasa, dan ideologi. Tapi “Internasionale” berhasil melakukannya. Lagu ini pernah menjadi lagu resmi negara di Uni Soviet, sebuah fakta yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruhnya dalam politik global. Namun bahkan setelah tidak lagi menjadi lagu resmi, ia tidak pernah benar-benar hilang.

Ini Belum Selesai

Pesta Babi Papua: Saat Kehormatan, Alam, dan Identitas Bertemu

Mobil Baru Aman? Kenapa Banyak Kendaraan Gagal Uji Tipe?

Lagu ini tetap hidup di jalanan, di demonstrasi, di ruang-ruang diskusi, bahkan di internet. Ia diterjemahkan ke puluhan bahasa, dinyanyikan dalam berbagai konteks, dan selalu menemukan cara untuk relevan. Seolah-olah dunia terus berubah, tapi masalah dasarnya tetap sama. Dan selama itu terjadi, lagu ini akan terus punya alasan untuk ada.

Ini Bukan Lagu, Ini Ide yang Menyamar Jadi Nada

Kalau kamu mendengarkan “Internasionale” dengan serius, kamu akan sadar satu hal, ini bukan sekadar lagu. Ini ideologi yang dikemas dalam bentuk yang paling mudah menyeba, yaitu musik. “Internasionale” tidak memaksa, tapi mempengaruhi. Ia tidak berteriak, namun menggema.

Pesan di dalamnya sederhana, tapi justru itu yang membuatnya kuat. Ia bicara tentang ketimpangan, tentang kekuasaan, tentang hak untuk melawan sistem yang tidak adil. Dan di sinilah letak ketegangannya, karena ide seperti ini selalu berada di wilayah yang dianggap “berbahaya”. Bukan karena salah, tapi karena terlalu jujur.

Dunia Berubah, Tapi Masalahnya Kenapa Masih Sama?

Kita hidup di era teknologi, di mana semuanya terasa lebih modern, lebih cepat, lebih canggih. Tapi coba lihat lebih dalam. Apa ketimpangan benar-benar hilang? Apakah buruh benar-benar sejahtera? Dan apakah sistem sudah benar-benar adil?

Jawabannya sering kali tidak nyaman. Kita hanya mengganti bentuknya. Eksploitasi tidak hilang, hanya berganti wajah. Ketidakadilan tidak hilang, hanya lebih halus. Dan di titik ini, “Internasionale” terasa seperti lagu yang menolak menjadi usang. Ia terus relevan bukan karena dunia tidak berubah, tapi karena perubahan itu belum menyentuh akar masalah.

“Internasionale” Bukan Cerita Orang Lain, Ini Tentang Kamu

Mungkin kamu merasa lagu ini jauh dari kehidupanmu. Kamu bukan aktivis, bukan buruh pabrik, bukan bagian dari gerakan politik. Tapi coba lihat lagi hidupmu. Ketika kamu merasa kerja keras tidak sebanding dengan hasil. Saat kamu melihat harga naik lebih cepat daripada penghasilan. Atau ketika kamu merasa sistem tidak benar-benar berpihak.

Di situ, “Internasionale” mulai terasa dekat. Lagu ini tidak lagi menjadi simbol sejarah, tapi menjadi refleksi. Ia menunjukkan, apa yang dulu diperjuangkan, sekarang masih menjadi pertanyaan. Dan tanpa sadar, kamu sudah menjadi bagian dari narasi itu.“Internasionale”

“Internasionale” Bukan Nostalgia, Tapi Alarm yang Terus Berbunyi

Banyak orang menganggap “Internasionale” sebagai peninggalan masa lalu, sesuatu yang hanya relevan dalam konteks sejarah. Tapi justru di situlah kesalahannya. Lagu ini bukan nostalgia, ini adalah alarm.

Ia terus berbunyi setiap kali ketimpangan terjadi. Setiap kali suara rakyat diabaikan dan sistem berjalan tanpa koreksi. Lagu ini tidak pernah benar-benar berhenti, karena alasan untuk menyanyikannya tidak pernah benar-benar hilang.

Musik Bisa Lebih Berbahaya dari Berita

Kita sering menganggap berita sebagai alat perubahan, sebagai medium untuk menyampaikan fakta dan membuka mata publik. Tapi “Internasionale” menunjukkan sesuatu yang berbeda. Musik bisa lebih dalam. Lebih halus. Lebih sulit dilawan.

Karena musik tidak hanya masuk ke kepala, tapi juga ke emosi. Dan ketika sebuah ide sudah masuk ke emosi, ia tidak mudah hilang. Mungkin itu sebabnya lagu ini bertahan begitu lama. Bukan karena dipaksakan, tapi karena dirasakan.

Kalau Lagu Ini Masih “Ngena”, Apa yang Sebenarnya Salah?

Kalau sebuah lagu dari abad ke-19 masih terasa relevan di abad ke-21, ada dua kemungkinan. Entah lagunya yang terlalu kuat, atau dunia yang terlalu lambat berubah.

Dan mungkin, jawaban yang paling jujur… bukan yang paling nyaman. @tabooo

Tags: gerakan buruh

Kamu Melewatkan Ini

Museum Marsinah Diresmikan, Namun Keadilan untuknya Masih Hilang

Museum Marsinah Diresmikan, Namun Keadilan untuknya Masih Hilang

by dimas
Mei 16, 2026

Museum Marsinah resmi diresmikan di Nganjuk sebagai penghormatan bagi pahlawan Buruh Indonesia. Namun, misteri pembunuhannya masih belum menemukan keadilan. Tabooo.id:...

May Day 2026: Buruh Dunia Menolak Diam di Tengah Inflasi dan Perang

May Day 2026: Buruh Dunia Menolak Diam di Tengah Inflasi dan Perang

by dimas
Mei 1, 2026

Ribuan buruh di berbagai belahan dunia kembali turun ke jalan pada peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026, membawa tuntutan...

Buruh di Dekat Istana: Simbol Kebersamaan atau Tanda Melemahnya Perlawanan?

Buruh di Dekat Istana: Simbol Kebersamaan atau Tanda Melemahnya Perlawanan?

by dimas
Mei 1, 2026

Ribuan buruh berkumpul bersama Presiden dalam perayaan Hari Buruh Internasional 2026 di Monumen Nasional, menandai paradoks dalam arah gerakan buruh...

Next Post
Kepercayaan yang Disalahgunakan: Saat Ritual Jadi Kedok

Ritual Pembersihan atau Manipulasi Kepercayaan? Kasus Ini Bikin Merinding

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026

Wacana Beras Satu Harga, Bulog Buka Kartu Soal Rugi

Desember 30, 2025

Kota Sehat, Papua Sekarat: Ironi Layanan Kesehatan Indonesia

November 27, 2025
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id