Lampu kamar masih menyala pukul dua pagi. Seorang anak terus menggulir layar tanpa henti. Satu video lewat, lalu muncul video lain. Tidak ada akhir. Tidak ada jeda. Infinite scroll membuat semuanya terasa “sebentar lagi”. Padahal satu jam sudah hilang.
Tabooo.id: Life – Hari ini, perdebatan soal media sosial tidak lagi berhenti di durasi screen time. Orang mulai mempertanyakan desain platform digital itu sendiri.
Apalagi setelah seorang perempuan muda memenangkan gugatan melawan Meta dan Google di Pengadilan Los Angeles karena mengalami kecanduan media sosial sejak kecil.
Juri menyatakan Meta dan Google sengaja membangun sistem yang membuat pengguna sulit lepas dari aplikasi. Penggugat yang dikenal sebagai Kaley mendapat ganti rugi US$6 juta atau sekitar Rp97 miliar.
Kasus itu membuka satu pertanyaan yang selama ini terasa tabu:
Bagaimana kalau anak-anak memang tumbuh di dalam sistem yang sengaja membuat mereka ketagihan?
Scroll Tanpa Henti Bukan Kebetulan
Media sosial modern tidak bekerja seperti aplikasi biasa. Platform-platform itu dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Caranya sederhana, tapi efektif.
Infinite scroll membuat otak tidak punya “titik berhenti”. Autoplay langsung memutar video berikutnya tanpa memberi waktu berpikir. Like, komentar, dan jumlah followers memberi dorongan validasi instan.
Lalu datang notifikasi.
Bunyinya kecil. Tapi efeknya besar.
Satu notifikasi bisa membuat seseorang kembali membuka aplikasi, bahkan tanpa sadar.
Peneliti membandingkan mekanisme ini dengan sistem perjudian. Pengguna terus diberi kombinasi ketidakpastian dan hadiah kecil yang memancing rasa penasaran.
Dan anak-anak menjadi target paling mudah.
Otak Anak Belum Siap Melawan
Kaley mulai menggunakan media sosial sejak usia enam tahun. Seiring waktu, kebiasaan itu berubah menjadi penggunaan kompulsif hingga memicu depresi.
Peneliti menyebut otak anak belum memiliki kontrol impuls yang matang. Karena itu, mereka lebih sulit membatasi diri dibanding orang dewasa.
Masalahnya, platform digital bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan anak memahami risikonya.
Anak-anak belum mengerti bagaimana algoritma bekerja. Mereka hanya tahu satu hal: aplikasi itu membuat mereka terus ingin kembali.
Meski dunia medis masih memperdebatkan istilah “kecanduan media sosial”, peneliti kini memakai istilah problematic social media use untuk menggambarkan penggunaan berlebihan yang mulai mengganggu hidup sehari-hari.
Gejalanya tidak jauh berbeda dari kecanduan lain. Sulit berhenti membuka aplikasi, suasana hati berubah drastis, sampai gangguan tidur.
Ironisnya, semua itu sering terlihat normal.
Karena hampir semua orang juga melakukannya.
Saat Perhatian Anak Jadi Bisnis
Meta menolak putusan tersebut dan berencana mengajukan banding. Perusahaan itu menilai kesehatan mental remaja tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja.
Pernyataan itu mungkin benar.
Tapi kasus ini membuka fakta lain yang lebih mengganggu: perhatian manusia kini sudah menjadi bisnis.
Semakin lama pengguna bertahan di aplikasi, semakin besar keuntungan platform.
Dan di era algoritma, perhatian anak-anak punya nilai ekonomi yang sangat besar.
Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial berbahaya atau tidak.
Pertanyaannya: sampai sejauh mana perusahaan teknologi boleh mengambil waktu, fokus, dan kesehatan mental anak demi mempertahankan bisnis mereka? @jeje





