Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

by jeje
Mei 7, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Lampu kamar masih menyala pukul dua pagi. Seorang anak terus menggulir layar tanpa henti. Satu video lewat, lalu muncul video lain. Tidak ada akhir. Tidak ada jeda. Infinite scroll membuat semuanya terasa “sebentar lagi”. Padahal satu jam sudah hilang.

Tabooo.id: Life – Hari ini, perdebatan soal media sosial tidak lagi berhenti di durasi screen time. Orang mulai mempertanyakan desain platform digital itu sendiri.

Apalagi setelah seorang perempuan muda memenangkan gugatan melawan Meta dan Google di Pengadilan Los Angeles karena mengalami kecanduan media sosial sejak kecil.

Juri menyatakan Meta dan Google sengaja membangun sistem yang membuat pengguna sulit lepas dari aplikasi. Penggugat yang dikenal sebagai Kaley mendapat ganti rugi US$6 juta atau sekitar Rp97 miliar.

Kasus itu membuka satu pertanyaan yang selama ini terasa tabu:

Bagaimana kalau anak-anak memang tumbuh di dalam sistem yang sengaja membuat mereka ketagihan?

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

Scroll Tanpa Henti Bukan Kebetulan

Media sosial modern tidak bekerja seperti aplikasi biasa. Platform-platform itu dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Caranya sederhana, tapi efektif.

Infinite scroll membuat otak tidak punya “titik berhenti”. Autoplay langsung memutar video berikutnya tanpa memberi waktu berpikir. Like, komentar, dan jumlah followers memberi dorongan validasi instan.

Lalu datang notifikasi.

Bunyinya kecil. Tapi efeknya besar.

Satu notifikasi bisa membuat seseorang kembali membuka aplikasi, bahkan tanpa sadar.

Peneliti membandingkan mekanisme ini dengan sistem perjudian. Pengguna terus diberi kombinasi ketidakpastian dan hadiah kecil yang memancing rasa penasaran.

Dan anak-anak menjadi target paling mudah.

Otak Anak Belum Siap Melawan

Kaley mulai menggunakan media sosial sejak usia enam tahun. Seiring waktu, kebiasaan itu berubah menjadi penggunaan kompulsif hingga memicu depresi.

Peneliti menyebut otak anak belum memiliki kontrol impuls yang matang. Karena itu, mereka lebih sulit membatasi diri dibanding orang dewasa.

Masalahnya, platform digital bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan anak memahami risikonya.

Anak-anak belum mengerti bagaimana algoritma bekerja. Mereka hanya tahu satu hal: aplikasi itu membuat mereka terus ingin kembali.

Meski dunia medis masih memperdebatkan istilah “kecanduan media sosial”, peneliti kini memakai istilah problematic social media use untuk menggambarkan penggunaan berlebihan yang mulai mengganggu hidup sehari-hari.

Gejalanya tidak jauh berbeda dari kecanduan lain. Sulit berhenti membuka aplikasi, suasana hati berubah drastis, sampai gangguan tidur.

Ironisnya, semua itu sering terlihat normal.

Karena hampir semua orang juga melakukannya.

Saat Perhatian Anak Jadi Bisnis

Meta menolak putusan tersebut dan berencana mengajukan banding. Perusahaan itu menilai kesehatan mental remaja tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja.

Pernyataan itu mungkin benar.

Tapi kasus ini membuka fakta lain yang lebih mengganggu: perhatian manusia kini sudah menjadi bisnis.

Semakin lama pengguna bertahan di aplikasi, semakin besar keuntungan platform.

Dan di era algoritma, perhatian anak-anak punya nilai ekonomi yang sangat besar.

Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial berbahaya atau tidak.

Pertanyaannya: sampai sejauh mana perusahaan teknologi boleh mengambil waktu, fokus, dan kesehatan mental anak demi mempertahankan bisnis mereka? @jeje

Tags: Anak Muda IndonesiaGenerasi AlphaGenerasi ZMedia SosialNasionalSadar KesehatanTaboooid

Kamu Melewatkan Ini

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

by Tabooo
Juni 18, 2026

Hoaks tidak hanya menyebarkan informasi palsu. Ia menyerang cara berpikir, memanfaatkan emosi, identitas, dan algoritma yang terus mengulang hal serupa....

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Becak Tidak Mati. Mereka Hanya Disembunyikan.

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id