Jumat, Agustus 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

HUT RI ke-81 Jadi Festival Publik, Bukti Negara Makin Dekat dengan Rakyat?

by Tabooo
Agustus 18, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter
HUT ke-81 RI tidak berhenti pada dentuman meriam dan pengibaran Merah Putih di Istana. Tahun ini, kemerdekaan ikut bergerak ke meja makan, panggung musik, arena permainan, UMKM, dan kerumunan kota.

Tabooo.id – Tujuh belas dentuman meriam tetap menggema di Istana Merdeka. Namun HUT ke-81 Republik Indonesia tahun ini tidak berhenti ketika upacara selesai. Kemerdekaan ikut bergerak ke meja makan, panggung musik, permainan anak, UMKM, dan kerumunan kota.

Senin, 17 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Istana Merdeka, Jakarta.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Prosesi berjalan dalam bahasa kenegaraan yang sudah akrab. Komandan upacara melapor kepada Presiden. Sirene panjang berbunyi. Sebanyak 17 dentuman meriam menandai Detik-Detik Proklamasi.

Prabowo kemudian membacakan naskah Proklamasi dan mengajak peserta mengenang para pahlawan sekaligus mendoakan warga yang terdampak bencana.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

“Saudara-saudara sekalian, marilah kita mengheningkan cipta, untuk mengenang arwah dan jasa para pahlawan kemerdekaan bangsa yang telah berkorban jiwa dan raga untuk kemerdekaan dan kehormatan bangsa Indonesia, serta mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam di Sumatra, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Mengheningkan Cipta, mulai,” ucap Presiden Prabowo.

Menteri Agama Nasaruddin Umar kemudian memandu doa.

Prosesi berlanjut dengan pengibaran Merah Putih oleh Paskibraka Tim “Indonesia Berdaulat”.

Celina Olivia Apriani Theo dari Kalimantan Barat membawa bendera. M. Aryo Wira Zandhyka Y asal Bengkulu bertugas sebagai pembentang. I Nyoman Harya Dhanurendra Darmamukti dari Kalimantan Selatan menjadi pengerek, sementara Achmad Fachri Mubarok asal Jambi memimpin Kelompok 8.

Indonesia Raya mengiringi Merah Putih menuju puncak tiang.

Setelah itu, Sekolah Rakyat bersama Gita Bahana Nusantara membawakan “Hari Merdeka” karya Husein Mutahar.

Upacara selesai. Setelah itu, suasananya justru bergerak ke arah yang lebih cair.

Dari Proklamasi ke Piring Makan

Halaman Istana tidak langsung kembali menjadi ruang formal setelah seremoni.

Masyarakat yang hadir diajak menikmati jamuan rakyat bersama sejumlah pelaku UMKM.

Beragam makanan tersedia di halaman tengah. Orang yang sejak pagi mengikuti rangkaian peringatan bisa makan, berbincang, lalu berkeliling mencari hidangan lain.

Di sinilah simbol besar negara bertemu kehidupan yang lebih sederhana.

Pelaku UMKM menghitung porsi.

Dyah dari Ayam Ancuur Juanda mendapat pesanan dalam jumlah besar untuk momentum tersebut.

“Alhamdulillah, kita dapat pesanan 1.100. Jadi 700 porsi untuk pagi, 400 porsi untuk siang penurunan, sorean,” kata Dyah seraya berharap makin banyak UMKM yang dilibatkan dalam kegiatan ini.

Bagi sebuah usaha kecil, angka itu bukan aksesori seremoni. Sebab, ada bahan yang harus dibeli, dapur yang bekerja lebih keras, serta pesanan yang disiapkan sejak sebelum tamu datang. Karena itu, kemerdekaan hari tersebut mendadak punya ukuran yang sangat konkret: 1.100 porsi makanan.

Cak Sikin dari Soto Ayam Ambengan merasakan sisi lain dari keterlibatan tersebut.

“Ya sangat senang sekali kita di sini sangat bahagia, bisa berkumpul sesama pedagang, ramai. Mudah-mudah ini berkah untuk semua,” ucap Cak Sikin.

Ia tidak bicara tentang strategi kebudayaan atau nasionalisme. Mungkin memang tidak perlu.

Bagi sebagian warga, rasa ikut memiliki sebuah perayaan muncul ketika mereka tidak hanya berdiri sebagai penonton. Mereka bekerja di dalamnya, bertemu orang lain, kemudian pulang membawa pengalaman yang benar-benar bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari.

Selesai Upacara, Warga Cari Makan

Arham, salah satu masyarakat yang mengikuti jamuan rakyat, punya rencana sederhana selepas upacara.

“Habis ini coba mau keliling dan lihat-lihat apa yang enak gitu kan. Karena habis upacara juga perlu asupan yang bagus juga,” ujar Arham.

Kalimat itu terdengar biasa. Namun, justru di situlah sisi manusianya.

Beberapa menit sebelumnya, orang berdiri khidmat mengenang kemerdekaan. Setelah itu, mereka lapar, mencari makan, bercanda, lalu menikmati suasana.

Namun, momen seperti itu tidak mengurangi makna 17 Agustus.

Nasionalisme memang tidak harus selalu hadir dengan wajah serius. Sebaliknya, ia bisa hidup melalui seremoni, lalu berlanjut dalam percakapan sederhana sambil memegang sepiring makanan.

Di titik itu, negara seperti sedang mencoba bahasa yang berbeda. Bukan mengganti upacara, melainkan membuat pengalaman 17 Agustus bertahan lebih lama setelah aba-aba terakhir terdengar.

Kemerdekaan Masuk ke Panggung Kota

Perayaan menjadi jauh lebih cair ketika bergerak keluar dari Istana.

Menurut ANTARA, pemerintah menyiapkan Pesta Rakyat pada 17 Agustus di tiga titik Jakarta: Monas, Bundaran HI, dan Sarinah.

Sejak pagi, rangkaian hiburan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 23.10 WIB. Karena itu, format perayaan tidak lagi terasa seperti agenda protokoler semata.

Di Monas, Dewa 19 bersama Ari Lasso, Mulan Jameela, NDX AKA, dan Wika Salim masuk dalam daftar penampil. Sementara itu, Sarinah menghadirkan Rizky Febian, Project Pop, serta Padi Reborn. Feel Koplo, Ndarboy Gank, dan Moluccan Soul mengambil panggung di Bundaran HI.

Di sisi lain, pertunjukan seni tradisional hadir berdampingan dengan musik populer. Kembang api kemudian ikut mengisi suasana malam.

Lomba khas 17 Agustus juga dibawa ke ruang festival. Ada balap karung, makan kerupuk, lempar hulahop, daster dash, tic-tac-toe, estafet tepung, joget balon, hingga tarik tambang.

Selain itu, Monas menjadi lokasi panjat pinang dan kompetisi catur. Anak-anak pun mendapat area permainan dengan carousel, kereta mini, human claw, trampolin, labirin tiup, sampai Jenga raksasa.

Pengunjung juga dapat mengikuti stamp rally dengan mengumpulkan stempel dari berbagai aktivitas untuk ditukar hadiah. Bahkan, tersedia layanan foto gratis serta makanan dari usaha kecil.

Menjelang malam, rangkaian acara ditutup dengan pertunjukan drone, karnaval, pengalaman imersif, serta video mapping.

Pagi dimulai dengan Proklamasi. Beberapa jam kemudian, orang sudah berdiri di depan panggung konser.

Jarak bentuknya memang jauh. Namun, justru di situ terlihat cara baru merayakan identitas kebangsaan mulai dibentuk.

Nasionalisme Tidak Lagi Hanya Dihafalkan

Selama puluhan tahun, 17 Agustus punya kosakata yang nyaris tetap.

Bendera.

Pahlawan.

Upacara.

Pidato.

Lagu kebangsaan.

Semua masih hadir pada usia Republik yang ke-81. Namun, negara kini menambahkan pengalaman yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat.

Orang datang bersama keluarga. Anak-anak bermain. Remaja menunggu musisi favorit. Sementara itu, pedagang menyiapkan makanan dan pengunjung mengikuti perlombaan yang biasanya mereka temui di kampung.

Kemerdekaan akhirnya tidak cuma diceritakan. Perlahan, ia juga dicoba untuk dialami.

Hal itu penting, karena identitas kebangsaan tidak hidup hanya melalui buku sejarah. Banyak orang justru mengingat 17 Agustus dari detail kecil.

Kerupuk yang digantung dengan tali.

Bapak-bapak terpeleset saat lomba.

Anak kecil menangis karena kalah.

Panjat pinang yang tidak kunjung mencapai puncak.

Lagu lama yang terdengar dari pengeras suara kampung.

Ingatan semacam itu memang tidak resmi. Tetapi, justru di sanalah rasa Indonesia sering tumbuh tanpa perlu dijelaskan panjang.

Ketika elemen-elemen tersebut masuk ke perayaan berskala nasional, ada pengakuan yang menarik: kebangsaan tidak hanya dibentuk oleh institusi. Ia juga hidup melalui kebiasaan, memori, dan pengalaman yang tumbuh di tengah masyarakat.

UMKM Membuat Perayaan Menyentuh Ekonomi Sehari-hari

Kehadiran UMKM memberi lapisan lain.

Dyah tidak pulang membawa teori tentang kedaulatan ekonomi.

Ia mendapat pesanan 1.100 porsi.

Cak Sikin bisa berkumpul dengan pedagang lain.

Masyarakat mendapat pilihan makanan.

Ada transaksi kecil yang bergerak di belakang seremoni besar.

Tidak perlu dibuat lebih heroik dari kenyataannya.

Namun ketika ruang perayaan nasional memberi tempat kepada usaha lokal, kemerdekaan bersentuhan dengan ekonomi keseharian secara langsung.

Pedagang memasak.

Pengunjung makan.

Uang berpindah.

Cerita bergerak.

Hal sederhana sering justru lebih terasa daripada slogan panjang tentang pemberdayaan.

Negara Terasa Lebih Dekat Saat Warga Bisa Masuk

Pesta rakyat memberi kesan bahwa jarak antara ruang kekuasaan dan kehidupan sehari-hari sedang coba dipersempit.

Istana tidak hanya menjadi lokasi pejabat berdiri dalam barisan.

Ada warga makan di dalam kompleks.

Monas berubah menjadi taman bermain, lokasi konser, arena lomba, dan tempat orang berjalan bersama keluarga.

Sarinah serta Bundaran HI menjadi bagian dari satu perayaan besar.

Masyarakat tidak cuma melihat dari layar televisi.

Mereka datang.

Berdesakan.

Mencari parkir.

Menggendong anak.

Mencoba makanan.

Menunggu lagu favorit.

Mungkin mengeluh karena panas dan capek.

Justru detail semacam itu membuat sebuah acara terasa hidup.

Negara tidak terus muncul sebagai podium.

Untuk beberapa jam, ia hadir sebagai ruang tempat warga boleh masuk.

Tetapi Panggung Tetap Akan Dibongkar

Pesta selalu punya akhir.

Kembang api padam. Konser selesai. Pedagang menghitung pendapatan. Petugas membersihkan area. Jalan kembali dipenuhi kendaraan menuju rutinitas.

Keesokan hari, masyarakat bertemu lagi dengan perkara yang lebih keras.

Harga kebutuhan.

Pekerjaan.

Sekolah.

Transportasi.

Rumah sakit.

Pelayanan publik.

Hukum.

Di sanalah tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” mendapat ukuran yang sesungguhnya.

Berdaulat terdengar megah ketika bendera mencapai puncak.

Adil akan diuji saat masyarakat berhadapan dengan institusi.

Makmur terasa atau tidak terasa di meja makan.

Karena itu, festival publik layak dibaca sebagai perubahan menarik dalam cara negara mengemas nasionalisme.

Bahasanya lebih cair.

Ruangnya lebih terbuka.

Warganya tidak terus ditempatkan sebagai penonton.

Namun satu hari yang ramai belum otomatis membuktikan hubungan negara dan rakyat sudah berubah.

HUT RI ke-81 memperlihatkan bahwa kemerdekaan bisa dihadirkan sebagai pengalaman publik, bukan hanya ritual kenegaraan.

Ujiannya datang setelah semuanya selesai.

Ketika panggung dibongkar dan musik berhenti, apakah rakyat masih bisa merasakan negara sedekat malam itu? @tabooo

Tags: 17 Agustus 2026Budaya IndonesiaHUT RI ke-81Istana MerdekaKemerdekaan IndonesiaMonasNasionalismePesta RakyatPrabowo SubiantoTabooo CultureUMKM

Kamu Melewatkan Ini

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

by eko
Agustus 21, 2026

Karnaval kemerdekaan memberi ruang bagi anak untuk mengenal budaya, keberagaman, kreativitas, dan kebersamaan sejak dini. Tabooo.id – Setiap Agustus, bendera...

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Ojol Jadi UMKM, Saat Negara Mengubah Pekerja Jadi Pengusaha

Ojol Jadi UMKM, Saat Negara Mengubah Pekerja Jadi Pengusaha

by dimas
Agustus 19, 2026

Pemerintah dan DPR mendorong status ojol sebagai UMKM. Kebijakan ini memicu kritik soal perlindungan pekerja, relasi kuasa, dan kendali platform....

Next Post
Jelang Demo BEM UI, Polisi Tangkap 21 Orang Bawa Petasan dan Botol

Jelang Demo BEM UI, Polisi Tangkap 21 Orang Bawa Petasan dan Botol

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id