Riuh tepuk tangan mengiringi Paskibraka di Istana. Di balik barisan mereka, tersimpan cerita tentang persatuan dan wajah Indonesia.
Tabooo.id – Tepuk tangan berkali-kali menggema di halaman Istana Merdeka.
Suara itu muncul setiap kali Paskibraka menuntaskan bagian penting dalam upacara penurunan Bendera Merah Putih. Namun, sorakan tersebut bukan cuma soal gerakan yang rapi. Di balik barisan itu, ada gambaran tentang Indonesia yang ingin tampil tertib, bersatu, dan beragam.
Angka tersebut menjadi simbol usia Republik Indonesia pada peringatan HUT ke-81 RI. Para pelajar itu menerjemahkan sebuah angka menjadi gerakan yang membutuhkan ketepatan, konsentrasi, dan disiplin.
Satu kesalahan kecil bisa mengubah seluruh bentuk.
Karena itu, tepuk tangan pertama terasa seperti penghargaan atas kerja keras yang tidak terlihat. Publik hanya menyaksikan beberapa menit gerakan. Sebaliknya, para Paskibraka menjalani latihan panjang sebelum berdiri di halaman Istana.
Satu Langkah, Banyak Daerah
Momen berikutnya datang ketika Neeltje Deliana Insjowi Werimon menjalankan tugas sebagai pembawa baki.
Paskibraka asal Papua itu menuruni tangga dengan langkah mundur setelah menyerahkan Merah Putih kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia bergerak perlahan dengan konsentrasi penuh.
Tepuk tangan kembali pecah.
Sekilas, adegan tersebut tampak sederhana. Namun, posisi Neeltje membawa simbol yang lebih besar. Seorang pelajar dari Papua berdiri di pusat seremoni kenegaraan dan menjalankan tugas untuk seluruh Indonesia.
Selain Neeltje, anggota tim lain datang dari berbagai wilayah.
Ismi Ulfaida dari Sulawesi Barat menjadi cadangan pembawa baki. Ia juga merupakan siswi Sekolah Rakyat.
Sementara itu, Atanasius Meyllano Frans Yogar dari Nusa Tenggara Timur bertugas sebagai Komandan Kelompok 8. Siswa SMA Katolik Giovanni Kupang itu berdiri dalam satu komando bersama anggota lainnya.
Kemudian, Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana dari Nusa Tenggara Barat menjalankan tugas sebagai pengerek bendera. Mirza Rafi Navazani dari Kalimantan Barat bertugas sebagai pembentang.
Dari Jawa Barat, Baruno Wicaksono mendapat tugas sebagai Komandan Kelompok 17. Ia bersekolah di SMA Taruna Nusantara Cimahi.
Untuk memimpin unsur Paskibraka, Kapten Pnb Bagus Setianto menjalankan tugas sebagai Komandan Kompi.
Mereka membawa daerah, pengalaman, dan latar pendidikan yang berbeda.
Namun, ketika memasuki lapangan, semuanya bergerak dalam satu ritme.
Indonesia Beragam, Tetapi Harus Seragam
Di sinilah Paskibraka menghadirkan paradoks yang menarik.
Indonesia selalu membanggakan keberagaman. Setiap daerah memiliki bahasa, budaya, sejarah, dan pengalaman sosial masing-masing.
Akan tetapi, lapangan upacara meminta semua anggota bergerak seragam.
Satu langkah mengikuti langkah lain.
Satu komando menghasilkan gerakan yang sama.
Bahkan jarak antaranggota harus tetap terjaga.
Keseragaman memang penting dalam sebuah upacara. Tanpa disiplin, formasi tidak akan berjalan sesuai rancangan.
Namun, simbol itu membuka pertanyaan yang lebih jauh.
Apakah persatuan selalu membutuhkan keseragaman?
Tentu, pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan para Paskibraka. Mereka hanya menjalankan tugas dengan disiplin.
Sebaliknya, negara dan masyarakat yang perlu bercermin.
Persatuan seharusnya tidak membuat perbedaan menghilang. Justru, persatuan harus membuat perbedaan mampu berdiri bersama tanpa saling meniadakan.
Paskibraka memperlihatkan satu bentuk persatuan itu.
Berbeda asal, tetapi mampu bergerak bersama.
Ketika Seragam Menyimpan Rasa Gugup
Tepuk tangan terakhir terdengar ketika puluhan Paskibraka meninggalkan halaman utama Istana Merdeka.
Hentakan kaki mereka perlahan menjauh.
Tidak lama kemudian, suasana berubah. Para anggota saling berpelukan setelah menyelesaikan tugas.
Di situlah sisi manusia mereka muncul.
Selama upacara, mereka harus terlihat tegap. Setiap gerakan harus presisi. Bahkan ekspresi pun harus tetap terkendali.
Namun, setelah tugas selesai, tubuh dan emosi akhirnya mendapat ruang.
Pelukan itu mungkin terlihat kecil.
Justru karena sederhana, adegan tersebut memperlihatkan sesuatu yang tidak muncul dalam formasi angka 81.
Pelukan itu mungkin terlihat kecil. Namun, adegan tersebut justru memperlihatkan sisi manusia yang selama upacara harus mereka sembunyikan. Mereka tetap harus tegap, fokus, dan presisi meski tekanan untuk tidak melakukan kesalahan terus mengiringi setiap gerakan.
Masyarakat melihat hasil akhirnya. Sebaliknya, para Paskibraka merasakan seluruh prosesnya.
Karena itu, tepuk tangan tersebut layak diberikan bukan hanya untuk formasi yang berhasil. Penghargaan itu juga pantas diberikan untuk proses panjang yang membawa mereka sampai ke titik tersebut.
“Indonesia Adil Makmur” Tidak Boleh Berhenti di Istana
Tim Paskibraka tahun ini membawa nama “Indonesia Adil Makmur”.
Nama tersebut menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sebuah identitas kelompok.
Apa arti “Indonesia Adil Makmur” setelah upacara selesai?
Jawabannya tentu tidak bisa berhenti pada seremoni.
Keadilan tidak lahir karena sebuah formasi terlihat sempurna. Kemakmuran pun tidak muncul karena bendera berhasil turun tanpa kesalahan.
Sebaliknya, keduanya menghadapi ujian setelah tepuk tangan berhenti.
Para Paskibraka akan kembali ke daerah masing-masing. Setelah sorotan kamera hilang, mereka kembali menjadi pelajar dengan kehidupan sehari-hari.
Di luar lapangan upacara, Indonesia tetap menghadapi persoalan pendidikan, ketimpangan, akses layanan publik, dan kesempatan yang belum selalu merata.
Pada titik inilah nama “Indonesia Adil Makmur” menjadi jauh lebih berat.
Jika negara ingin memakai nama tersebut sebagai gambaran masa depan, maknanya juga harus terasa dalam kehidupan warga.
Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan seremoni yang rapi.
Indonesia membutuhkan kehidupan yang juga terasa adil.
Persatuan Diuji Setelah Barisan Bubar
Paskibraka telah menunjukkan satu hal penting.
Orang-orang dari berbagai daerah bisa berdiri dalam satu barisan.
Namun, persatuan yang sebenarnya tidak berhenti ketika upacara selesai. Justru setelah barisan bubar, persatuan menghadapi ujian yang lebih rumit.
Ketika Neeltje kembali ke Papua, ia tetap membawa pengalaman sebagai anak muda dari daerahnya.
Begitu pula anggota lain saat kembali ke NTT, NTB, Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Barat. Mereka kembali membawa cerita serta identitas masing-masing.
Pada akhirnya, Indonesia menghadapi tantangan yang lebih besar.
Setelah barisan bubar, persatuan menghadapi ujian sebenarnya. Perbedaan tidak boleh berubah menjadi jarak, sementara kesempatan dan masa depan harus terbuka setara bagi setiap anak muda.
Pertanyaan tersebut jauh lebih sulit daripada membentuk angka 81.
Pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada membentuk angka 81. Sebab, persatuan tidak cukup dengan hitungan dan komando. Negara juga membutuhkan kepercayaan, ruang untuk bersuara, serta kemampuan hidup bersama dalam perbedaan. Di situlah persatuan benar-benar diuji.
Tepuk Tangan Harus Berlanjut
Tepuk tangan di Istana akhirnya berhenti.
Para Paskibraka meninggalkan lapangan. Bendera sudah turun. Upacara pun selesai.
Namun, makna seremoni itu seharusnya tidak ikut selesai.
Paskibraka telah memperlihatkan Indonesia dalam bentuk paling sederhana: banyak daerah, satu barisan.
Kini, negara menghadapi bentuk yang jauh lebih sulit: banyak perbedaan, satu rasa keadilan.
Ini bukan sekadar upacara. Ini cermin tentang Indonesia yang ingin kita lihat.
Jika “Indonesia Adil Makmur” hanya hidup selama beberapa menit di halaman Istana, nama itu berhenti sebagai identitas tim.
Sebaliknya, jika nilainya hadir dalam pendidikan, kesempatan, pelayanan publik, dan kehidupan sehari-hari, tepuk tangan tadi memperoleh makna yang lebih panjang.
Sebab kemerdekaan tidak hanya dirayakan ketika bendera turun dengan sempurna.
Lebih dari itu, kemerdekaan harus terasa ketika rakyat menjalani hidup setelah upacara selesai. @dimas








