Tabooo.id: Deep – “Jika mereka menutup Hormuz, dunia ikut terbakar.” Ucapan itu terdengar lirih dari seorang analis energi di Jakarta, Minggu pagi. Televisi di ruang kerjanya menayangkan potongan gambar rudal, asap hitam, dan wajah-wajah tegang pejabat dunia. Sementara itu, di layar laptopnya, grafik harga minyak merayap naik seperti detak jantung yang mendadak tak stabil.
Pasar tak pernah benar-benar netral. Ia bereaksi pada kabar, bergerak oleh ketakutan, dan sering kali memelintir tragedi menjadi peluang.
Kematian Ali Hosseini Khamenei pada Minggu (1/3/2026) pukul 09.00 WIB langsung mengubah suhu politik Timur Tengah. Teheran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik pembunuhan itu. Tuduhan tersebut memicu gelombang kemarahan. Tak lama kemudian, pejabat Iran melontarkan ancaman paling sensitif mereka mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz.
Ancaman itu bukan sekadar retorika diplomatik. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu menyalurkan sekitar 20 persen konsumsi minyak global. Artinya, setiap kapal tanker yang tertahan di sana bisa mengguncang neraca energi dunia.
Dengan kata lain, peluru yang dilepaskan di Timur Tengah bisa menjelma lonjakan harga di pompa bensin ribuan kilometer jauhnya.
Kabar Duka Menggerakkan Grafik
Sepekan sebelum kabar kematian itu menyebar, pasar minyak sebenarnya bergerak relatif stabil. Pada Senin (23/2/2026), Brent dibuka di level US$ 71,49 per barel, sedangkan WTI berada di US$ 66,31. Angka tersebut mencerminkan pasar yang masih menimbang keseimbangan permintaan dan pasokan global.
Memasuki pertengahan pekan, harga mengalami konsolidasi. Kamis (26/2/2026), Brent turun ke kisaran US$ 70,75 per barel dan WTI menyentuh US$ 65,21. Para pelaku pasar tampak berhati-hati. Mereka mengamati perkembangan negosiasi nuklir yang belum mencapai kesepakatan, sekaligus membaca dinamika militer yang mulai memanas.
Namun pada Jumat (27/2/2026), nada berubah. Brent melonjak hampir 2 persen dan ditutup di US$ 72,48 per barel. WTI ikut menguat ke US$ 67,02. Kenaikan itu menunjukkan bahwa investor mulai mengamankan posisi sebelum akhir pekan. Mereka tak ingin terjebak ketika bursa tutup sementara kabar buruk datang tanpa peringatan.
Kemudian kabar itu benar-benar datang.
Setelah Iran memastikan kematian Khamenei, pasar langsung memproyeksikan risiko baru. Barclays bahkan merevisi perkiraan harga Brent dari US$ 80 menjadi sekitar US$ 100 per barel. Revisi tersebut bukan sekadar angka optimistis; bank itu menghitung potensi gangguan logistik di kawasan Teluk sebagai faktor utama.
Karena itu, pembukaan perdagangan awal pekan diperkirakan berlangsung dengan volatilitas tinggi. Harga tidak lagi sepenuhnya mengikuti data permintaan dan produksi rutin. Sebaliknya, pasar akan merespons setiap pernyataan pejabat, setiap manuver militer, dan setiap kapal yang terlambat berlayar.
Ketakutan, Spekulasi, dan Pihak yang Diuntungkan
Konflik selalu melahirkan korban. Akan tetapi, konflik juga kerap menciptakan pemenang tersembunyi.
Lonjakan harga minyak jelas menguntungkan produsen besar di luar kawasan konflik. Negara-negara eksportir dengan kapasitas produksi tinggi dapat menjual minyak pada harga lebih mahal tanpa harus menambah pasokan secara drastis. Perusahaan energi multinasional pun menikmati margin yang melebar.
Di sisi lain, lembaga keuangan dan spekulan pasar memanfaatkan volatilitas untuk meraih keuntungan jangka pendek. Mereka membaca sentimen, mengatur posisi, lalu keluar sebelum badai benar-benar datang. Logika ini kejam, tetapi nyata.
Sebaliknya, negara pengimpor seperti Indonesia menghadapi dilema. Pemerintah harus memilih antara menaikkan harga BBM dan menanggung risiko politik, atau mempertahankan harga dengan membebani anggaran negara. Keduanya sama-sama berat.
Lebih jauh lagi, krisis energi sering berubah menjadi krisis sosial. Ketika harga minyak naik, biaya distribusi melonjak. Akibatnya, harga pangan terdorong naik. Inflasi merayap masuk ke dapur rumah tangga. Rantai sebab-akibat itu bergerak cepat dan jarang memberi waktu bagi masyarakat untuk bersiap.
Ironisnya, sebagian besar warga tidak pernah ikut menentukan kebijakan luar negeri negara adidaya. Namun mereka tetap membayar dampaknya.
Dari Teheran ke Warung Pinggir Jalan
Bagi elite politik, Selat Hormuz merupakan simbol kekuatan strategis. Bagi investor global, ia adalah variabel risiko dalam model ekonomi. Namun bagi sopir truk di Jawa Tengah atau nelayan di Sulawesi, ia berarti ongkos solar.
“Kalau BBM naik, kami bingung. Mau naikin tarif, pelanggan marah. Mau tahan harga, kami rugi,” kata seorang sopir logistik yang pernah ditemui Tabooo saat krisis energi sebelumnya.
Cerita semacam itu berulang setiap kali dunia memanas. Ketika harga energi melonjak, beban paling awal jatuh pada sektor transportasi. Setelah itu, dampaknya merembet ke pasar tradisional, industri kecil, hingga biaya sekolah anak.
Selain itu, ketidakpastian harga menciptakan kecemasan kolektif. Pelaku usaha menunda ekspansi. Investor domestik menahan belanja. Konsumen mengurangi pengeluaran. Perlambatan ekonomi pun mengintai.
Jadi, meskipun konflik terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, getarannya terasa hingga sudut-sudut kampung.
Dunia yang Terlalu Bergantung
Krisis ini membuka kembali fakta lama: dunia masih terlalu bergantung pada wilayah yang rawan konflik untuk memenuhi kebutuhan energinya. Selama jalur distribusi utama terkonsentrasi di kawasan yang sama, setiap percikan api akan memicu kepanikan global.
Karena itu, banyak negara mulai mendorong diversifikasi sumber energi. Mereka mempercepat investasi pada energi terbarukan dan memperkuat cadangan strategis. Akan tetapi, transisi tersebut berjalan lambat. Ketergantungan pada minyak mentah belum benar-benar berakhir.
Sementara itu, dinamika politik terus bergerak. Negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai titik temu. Ketegangan militer belum mereda. Setiap perkembangan baru berpotensi mengubah arah harga dalam hitungan jam.
Dengan demikian, pasar kini berdiri di persimpangan antara spekulasi dan realitas lapangan.
Sikap Tabooo: Publik Berhak Tahu Lebih Jernih
Tabooo memandang eskalasi ini bukan sekadar fluktuasi pasar komoditas. Ini adalah potret rapuhnya sistem global yang masih menempatkan energi fosil sebagai tulang punggung utama.
Karena itu, pemerintah harus berbicara jujur kepada publik. Jika risiko kenaikan harga membesar, masyarakat perlu memahami sebabnya. Transparansi jauh lebih sehat daripada istilah teknokratis yang menyamarkan kenyataan.
Selain itu, krisis ini seharusnya mendorong percepatan kebijakan energi alternatif. Ketergantungan yang berlebihan selalu menciptakan kerentanan. Selama dunia bergantung pada satu jalur sempit bernama Hormuz, setiap ancaman penutupan akan terdengar seperti lonceng darurat global.
Di negara yang katanya demokrasi, kebenaran sering ditolak hanya karena terlalu jujur. Namun kali ini, kejujuran menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Menanti Senin yang Gelisah
Awal pekan ini akan menjadi ujian bagi pasar global. Investor menghitung risiko. Pemerintah menyiapkan skenario darurat. Sementara itu, masyarakat hanya berharap harga kebutuhan pokok tidak ikut melonjak.
Apakah Iran benar-benar akan menutup Selat Hormuz? Apakah ancaman itu sekadar kartu tawar dalam negosiasi politik yang lebih besar? Atau justru dunia sedang memasuki babak konflik yang lebih dalam?
Jawaban atas pertanyaan itu belum jelas. Namun satu hal pasti ketika para pemimpin dunia memainkan strategi besar, rakyat kecil selalu berdiri di barisan paling depan untuk menanggung akibatnya.
Dan seperti biasa, sejarah akan mencatat siapa yang mengambil keuntungan serta siapa yang sekadar bertahan hidup di tengah badai. @dimas




