Setiap 1 Mei, panggung berdiri, suara menggema, dan janji kembali diulang. Namun ketika keramaian surut, satu pertanyaan muncul kita benar-benar merayakan buruh, atau sekadar menunda melihat lukanya?
Namun kemudian, siang mengubah suasana. Massa membubarkan diri, sementara jalan kembali lengang. Di saat yang sama, buruh kembali menghadapi realitas yang sama.
Sejak awal, Hari Buruh tidak lahir dari pesta. Sebaliknya, sejarah mencatat konflik sebagai fondasinya. Pada 1886, tragedi Haymarket Affair meledak di Chicago ketika pekerja menuntut delapan jam kerja. Aparat merespons dengan kekerasan, sehingga dunia mengenalnya sebagai simbol perlawanan buruh.
Di Indonesia, gerakan buruh mulai tumbuh sejak 1920. Namun kemudian, pemerintah Orde Baru menekan gerakan itu dan membatasi ruang serikat pekerja. Akibatnya, negara menganggap kritik sebagai ancaman. Baru pada 2013, pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.
Meski begitu, keputusan tersebut belum menyelesaikan masalah. Sebaliknya, banyak persoalan tetap berjalan tanpa jeda.
Dipuji di Pidato, Dikorbankan Saat Krisis
Di satu sisi, negara memuji buruh sebagai tulang punggung ekonomi. Selain itu, perusahaan menyebut pekerja sebagai aset utama. Namun di sisi lain, ketika tekanan bisnis datang, manajemen sering memangkas tenaga kerja lebih dulu.
Ekonom Faisal Basri pernah menegaskan,
“Pertumbuhan ekonomi tanpa perlindungan tenaga kerja hanya memperkaya angka, bukan manusia.”
Karena itu, kalimat tersebut terasa relevan hingga hari ini.
Setiap hari, buruh menggerakkan pabrik, proyek, gudang, hingga platform digital. Mereka bekerja sejak pagi hingga malam. Akan tetapi, banyak dari mereka tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Lebih jauh lagi, publik sering melihat buruh hanya saat mereka turun ke jalan. Padahal sebelumnya, mereka selalu hadir di balik kenyamanan yang kita nikmati.
Wajah Baru, Tekanan Lama
Kini, wajah buruh berubah. Tidak hanya pekerja pabrik, tetapi juga pengemudi ojol, kurir, admin toko online, freelancer, hingga pekerja digital lain.
Menurut sosiolog Richard Sennett, dunia kerja modern menciptakan ketidakpastian permanen. Artinya, orang terus bekerja, tetapi masa depan tetap kabur.
Selain itu, tekanan kerja ikut berubah. Dulu atasan memberi perintah langsung. Sekarang aplikasi mengatur ritme kerja.
Aplikasi mengirim target. Kemudian algoritma mengendalikan performa. Sementara itu, rating menentukan keberlanjutan kerja.
Dengan demikian, eksploitasi tidak hilang. Sistem hanya mengganti bentuknya agar terlihat lebih modern.
Demonstrasi: Alarm yang Tidak Bisa Diabaikan
Setiap May Day, sebagian orang mengeluh soal kemacetan. Sementara itu, sebagian lain menilai aksi buruh sebagai rutinitas tahunan. Namun pandangan itu terlalu sederhana.
Sebab demonstrasi adalah alarm sosial. Buruh turun ke jalan ketika ruang dialog tidak berjalan efektif. Karena itu, mereka memilih suara keras agar publik mau mendengar.
Nama Marsinah tetap hidup dalam ingatan publik. Kisahnya menunjukkan bahwa perjuangan buruh di Indonesia selalu membawa risiko besar.
Oleh karena itu, ketika pekerja berbaris di jalan, mereka sedang menyampaikan pesan yang sebelumnya diabaikan.
Ucapan Tidak Pernah Cukup
Setiap tahun, pejabat mengucapkan “Selamat Hari Buruh”. Memang, ucapan itu terdengar hangat. Namun demikian, ucapan tersebut tidak menyelesaikan persoalan.
Buruh tidak hidup dari seremoni. Sebaliknya, mereka membutuhkan kepastian.
Mereka membutuhkan:
- Upah layak
- Perlindungan kerja yang jelas
- Jaminan sosial yang mudah diakses
- Pengawasan yang tegas
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengingatkan,
“Bangsa besar bukan hanya menghormati pemimpinnya, tapi menjaga rakyat kecilnya.”
Karena itu, Hari Buruh harus menjadi momentum perubahan, bukan sekadar formalitas tahunan.
Ini Bukan Isu Pinggiran
Ketika daya beli buruh melemah, maka pasar ikut terdampak. Selain itu, ketika pekerja hidup dalam kecemasan, produktivitas ikut menurun.
Lebih lanjut, jika keluarga buruh goyah, maka masalah sosial ikut membesar. Dengan kata lain, isu buruh berada di pusat ekonomi.
Saat ini, hampir semua orang bekerja dengan cara berbeda. Ada yang menerima gaji bulanan, ada yang dibayar harian, bahkan per proyek atau per klik.
Namun pada akhirnya, semua orang menukar waktu untuk bertahan hidup.
Tabooo Twist: Ini Bukan Sekadar Perayaan
Hari Buruh sering terlihat seperti perayaan. Namun jika dilihat lebih dalam, ia sebenarnya alarm yang terus berbunyi.
Ini bukan sekadar tanggal. Ini bukan hanya ritual tahunan. Sebaliknya, ini tentang sistem yang terus berjalan tanpa perubahan berarti.
Jika 1 Mei hanya menghadirkan panggung dan pidato, maka masalah akan terus berulang. Namun jika hari ini mendorong perubahan nyata, maka maknanya akan bertahan.
Penutup
Negara tidak berdiri karena gedung tinggi. Sebaliknya, negara berdiri karena kerja manusia.
Jadi sekarang, pertanyaannya sederhana Kita ingin merayakan Hari Buruh atau mulai benar-benar mendengarnya?. @teguh





