Jika puisi selama ini dipahami sebagai bahasa kebebasan dan perlawanan, sejauh mana kita pernah mempertanyakan bahwa di dalamnya mungkin juga tersimpan cara pandang yang membatasi kebebasan orang lain terutama perempuan? Dan ketika seorang penyair meneriakkan kemerdekaan melalui kata “aku”, apakah kebebasan itu benar-benar milik semua, atau hanya milik sang penyair sendiri?
Tabooo.id: Deep – Sosok Chairil Anwar selama ini dikenal sebagai simbol pemberontakan dalam sejarah sastra Indonesia. Larik puisinya yang meledak “Aku ini binatang jalang” menandai lahirnya generasi baru yang menolak norma lama. Namun pembacaan yang lebih kritis membuka lapisan lain yang jarang dibahas. Kebebasan sang “aku” dalam beberapa puisi justru berdiri di atas batas bagi perempuan. Melalui sajak Tak Sepadan dan Penerimaan, puisi Chairil menghadirkan tafsir yang lebih kompleks. Di balik puisi perlawanan, muncul jejak kuat tradisi patriarki.
Setiap akhir April, publik sastra Indonesia kembali mengingat Chairil Anwar. Penyair yang dijuluki “Si Binatang Jalang” ini berdiri sebagai ikon kebebasan sastra Indonesia modern. Banyak pembaca menafsirkan larik-larik puisinya sebagai simbol perlawanan terhadap batas sosial, moral, dan politik.
Namun pembacaan yang lebih tajam memunculkan pertanyaan baru. Apakah sajak-sajak Chairil benar-benar membebaskan semua orang? Ataukah sebagian puisi itu masih menyimpan bayang-bayang dominasi lama terhadap perempuan?
Ketika “Aku” Menjadi Pusat Dunia
Pertama, kita perlu melihat posisi “aku” dalam puisi Chairil. Kata ini muncul sangat kuat dan sering menjadi pusat pengalaman. Melalui “aku”, penyair menghadirkan sosok individu yang bebas, berani, dan menolak batas sosial.
Namun perspektif filsafat feminis membuka cara baca lain. Simone de Beauvoir menjelaskan relasi gender melalui konsep “Sang Diri” dan “Sang Liyan” dalam bukunya The Second Sex.
Menurut Beauvoir, laki-laki sering menempatkan dirinya sebagai Sang Diri. Ia menjadi subjek utama yang mendefinisikan dunia. Sebaliknya, masyarakat sering menempatkan perempuan sebagai Sang Liyan, yakni pihak yang didefinisikan oleh laki-laki.
Dengan demikian, dominasi kata “aku” dalam puisi dapat menunjukkan kebebasan individu. Namun pada saat yang sama, dominasi itu juga dapat membatasi ruang bagi sosok “kau”.
Kebebasan untuk “Aku”, Batas bagi “Kau”
Selanjutnya, kita dapat melihat pola tersebut dalam puisi Tak Sepadan.
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Puisi ini memperlihatkan dua jalan hidup yang berbeda. “Kau” menjalani kehidupan rumah tangga: menikah, memiliki anak, dan membangun keluarga. Sebaliknya, “aku” memilih mengembara dan hidup bebas.
Dengan kata lain, puisi ini membagi ruang kehidupan secara tegas. Perempuan berada di ruang domestik, sedangkan laki-laki bergerak di ruang kebebasan. Pola ini sangat dekat dengan tradisi patriarki yang telah lama hidup dalam masyarakat.
Cinta sebagai Mekanisme Kendali
Selain itu, teori psikoanalisis juga membantu membaca relasi tersebut. Sigmund Freud menjelaskan bahwa masyarakat sering memberi label berbeda pada laki-laki dan perempuan.
Laki-laki sering diasosiasikan dengan otoritas dan kemandirian. Sebaliknya, perempuan sering diasosiasikan dengan ketergantungan dan cinta.
Akibatnya, cinta sering tampak sebagai hubungan yang wajar dan romantis. Namun di balik itu, cinta juga dapat berfungsi sebagai mekanisme yang menjaga ketimpangan relasi.
Puisi Penerimaan menunjukkan pola ini dengan cukup jelas.
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Sejak awal, larik “kalau kau mau kuterima” menunjukkan bahwa “aku” memegang kendali penuh. Ia menentukan syarat penerimaan. Sementara itu, “kau” tidak memiliki ruang tawar yang setara.
Dengan demikian, puisi ini menggambarkan relasi yang tidak seimbang. Perempuan harus menyesuaikan diri dengan kehendak laki-laki.
Akar Patriarki dalam Sejarah
Lebih jauh lagi, sejarah sosial memberi konteks yang lebih luas. Marilyn French membahas asal-usul patriarki dalam Beyond Power: On Women, Men, and Morals.
French menjelaskan bahwa masyarakat manusia awal kemungkinan bersifat matrisentris. Pada masa itu, perempuan memiliki posisi penting karena hubungannya dengan kelahiran dan alam.
Namun kemudian situasi berubah. Ketika populasi meningkat dan sumber makanan menipis, manusia mulai mengembangkan pertanian dan mengolah tanah. Proses ini memperkuat posisi laki-laki sebagai pengendali produksi.
Akibatnya, pola dominasi berkembang. Manusia tidak hanya ingin menguasai alam, tetapi juga perempuan yang dianggap dekat dengan alam. Dari sinilah sistem patriarki perlahan tumbuh.
Cinta dan Pengorbanan
Selain itu, Mary Daly mengingatkan bahaya lain dalam sistem patriarki melalui bukunya Beyond God the Father.
Menurut Daly, budaya patriarki sering mengajarkan perempuan bahwa mencintai berarti memberikan diri sepenuhnya kepada laki-laki. Dengan kata lain, cinta berubah menjadi bentuk pengorbanan total.
Akibatnya, relasi cinta sering mempertahankan ketimpangan yang sudah ada.
Perlawanan yang Tidak Sepenuhnya Bebas
Tidak ada yang meragukan posisi Chairil Anwar dalam sejarah sastra Indonesia. Ia menghadirkan gaya bahasa baru yang berani dan individualistik. Selain itu, puisinya memberi energi perlawanan bagi generasi setelahnya.
Namun pembacaan kritis menunjukkan satu hal penting. Kebebasan yang dirayakan oleh “aku” dalam beberapa sajak tidak selalu membuka ruang yang sama bagi perempuan.
Karena itu, momentum Hari Puisi Nasional memunculkan pertanyaan yang menarik apakah sajak-sajak Chairil benar-benar menjadi suara pembebasan universal?
Barangkali jawabannya tidak sederhana. Di satu sisi, puisi Chairil menghadirkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan zamannya. Namun di sisi lain, beberapa puisinya masih membawa jejak kuat tradisi patriarki.
Dengan demikian, pembacaan sastra tidak hanya merayakan kebebasan. Sebaliknya, pembacaan itu juga membuka ruang untuk mempertanyakan siapa yang benar-benar menikmati kebebasan tersebut. @dimas




