Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perempuan Menolak Dimiliki: Dari Roro Mendut ke Perempuan Hari Ini

by teguh
April 27, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Sejarah sering kembali lewat nama lama yang tak pernah hilang. Salah satunya Roro Mendut, perempuan dalam legenda Jawa yang berani menantang kuasa feodal. Ketika Historia.id kembali mengangkat kisahnya, publik pun ingat bahwa keberanian perempuan sudah hidup sejak lama. Di tengah zaman yang ramai bicara kesetaraan, banyak perempuan masih menghadapi tekanan serupa. Bentuknya memang berubah. Namun, pola lamanya tetap bertahan.

Tabooo.id: Life – Legenda Jawa menggambarkan Roro Mendut sebagai perempuan pesisir yang masuk ke lingkungan Mataram pada abad ke-17, masa Sultan Agung. Lalu, Tumenggung Wiraguna terpikat dan ingin menjadikannya milik pribadi. Namun, Mendut menolak.

Ia memahami risiko dari keputusan itu. Meski begitu, ia tetap memilih martabat daripada kenyamanan.

Karena gagal mendapat jawaban yang diinginkan, Wiraguna lalu menekan hidup Mendut lewat pajak tinggi. Akan tetapi, Mendut tidak menyerah. Sebaliknya, ia menjual rokok untuk menopang hidup.

Langkah itu tampak kecil. Namun, maknanya besar. Ia tak menunggu belas kasihan. Justru dengan caranya sendiri, ia berdiri dan melawan.

Wiraguna Modern Masih Berkeliaran

Hari ini, sosok seperti Wiraguna tidak selalu memakai gelar bangsawan. Sebaliknya, mereka hadir dalam banyak bentuk.

Ini Belum Selesai

Jejak yang Tertinggal: Ketika Generasi Kehilangan Akar Kehidupan

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Seorang atasan merasa berhak mengatur tubuh bawahan. Pasangan posesif menganggap cinta sama dengan kepemilikan.
Lingkungan sosial kerap menyerang perempuan vokal. Media sosial sering menghakimi perempuan yang berbeda suara.

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata:

“Dominasi paling efektif adalah dominasi yang dianggap wajar.”

Ucapan itu terasa dekat dengan kondisi sekarang. Sebab, ketidakadilan sering lolos karena orang menganggapnya biasa.

Saat korban pelecehan diminta diam, sistem sedang bekerja. Ketika perempuan sukses dicap arogan, standar ganda sedang hidup. Jika perempuan tegas disebut kasar, bias lama terus berulang.

Jadi, masalahnya bukan satu orang. Akar persoalannya berada pada pola pikir yang terus hidup.

Tubuhku, Pilihanku, Martabatku

Budayawan Y.B. Mangunwijaya lewat trilogi Rara Mendut melihat tokoh ini sebagai simbol manusia kecil yang melawan kuasa besar. Karena itu, makna kisah tersebut masih relevan hari ini.

Banyak perempuan terus memperjuangkan hak dasar untuk menentukan hidup sendiri. Ada yang ingin memilih pasangan tanpa tekanan. Ada pula yang ingin menata karier tanpa stigma. Selain itu, banyak juga yang ingin bicara tanpa ancaman.

Filsuf feminis bell hooks menulis:

“Patriarki tidak punya gender.”

Artinya, siapa pun bisa menjaga sistem tidak adil jika terus membiarkannya hidup.

Pelajaran dari Mendut

1. Berani menolak adalah bentuk merdeka

Tak semua orang sanggup berkata tidak saat tekanan datang dari pihak berkuasa.

2. Kemandirian bisa menjadi perlawanan

Ketika akses menyempit, kemampuan bertahan justru berubah menjadi kekuatan.

3. Martabat tidak punya harga

Jabatan dan uang sering merasa bisa membeli segalanya. Namun, kenyataannya tidak.

4. Sejarah juga milik rakyat biasa

Bukan hanya raja yang layak dikenang. Sebaliknya, orang berani pun pantas mendapat tempat.

Kalau Mendut Hidup Hari Ini

Mungkin ia menjadi pegawai yang melawan pelecehan di kantor. Bisa jadi ia menjadi mahasiswi yang menuntut keadilan di kampus.
Di rumah lain, ia menjadi ibu yang keluar dari hubungan abusif. Di tempat kerja, ia menjadi pekerja yang menolak dibungkam.

Jadi, ia bisa saja hidup di sekitar kita. Sebab, setiap zaman selalu melahirkan perempuan yang menolak orang lain memperlakukannya sebagai barang.

Penutup

Roro Mendut mungkin hidup dalam legenda, tetapi semangatnya nyata. Ia mengajarkan bahwa keberanian sering lahir dari satu kata sederhana yaitu, tidak.

Tolak pemaksaan, Lawan penghinaan, Jaga martabat. Di dunia yang masih suka mengatur hidup perempuan, kata tidak tetap terdengar revolusioner. @teguh

Tags: BudayawanLegendaMartabatPatriarkiperempuanSejarahSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

Malam 1 Suro dan Jejak Sultan Agung Menyatukan Peradaban Jawa

by dimas
Juni 13, 2026

Malam 1 Suro bukan sekadar kisah mistis. Di baliknya tersimpan sejarah Sultan Agung menyatukan Jawa melalui budaya, tradisi, dan kalender...

Tjokroaminoto: Sosialisme, Islam, dan Keadilan Sosial

Tjokroaminoto: Sosialisme, Islam, dan Keadilan Sosial

by dimas
Juni 2, 2026

Tjokroaminoto memadukan Islam dan sosialisme sebagai jalan menuju keadilan sosial. Gagasan yang lahir seabad lalu itu masih relevan untuk Indonesia...

Monarki Absolut: Saat Titah Raja Lebih Kuat daripada Suara Rakyat

Monarki Absolut: Saat Titah Raja Lebih Kuat daripada Suara Rakyat

by Tabooo
Mei 29, 2026

Monarki absolut memperlihatkan bentuk kekuasaan paling telanjang: negara bergerak mengikuti kehendak penguasa, hukum sulit mengawasi takhta, dan rakyat hadir tanpa...

Next Post
Hari Tari Sedunia 2026 Dirayakan Global, Nasib Penari Masih Lokal

Hari Tari Sedunia 2026 Dirayakan Global, Nasib Penari Masih Lokal

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id