Sejarah sering kembali lewat nama lama yang tak pernah hilang. Salah satunya Roro Mendut, perempuan dalam legenda Jawa yang berani menantang kuasa feodal. Ketika Historia.id kembali mengangkat kisahnya, publik pun ingat bahwa keberanian perempuan sudah hidup sejak lama. Di tengah zaman yang ramai bicara kesetaraan, banyak perempuan masih menghadapi tekanan serupa. Bentuknya memang berubah. Namun, pola lamanya tetap bertahan.
Tabooo.id: Life – Legenda Jawa menggambarkan Roro Mendut sebagai perempuan pesisir yang masuk ke lingkungan Mataram pada abad ke-17, masa Sultan Agung. Lalu, Tumenggung Wiraguna terpikat dan ingin menjadikannya milik pribadi. Namun, Mendut menolak.
Ia memahami risiko dari keputusan itu. Meski begitu, ia tetap memilih martabat daripada kenyamanan.
Karena gagal mendapat jawaban yang diinginkan, Wiraguna lalu menekan hidup Mendut lewat pajak tinggi. Akan tetapi, Mendut tidak menyerah. Sebaliknya, ia menjual rokok untuk menopang hidup.
Langkah itu tampak kecil. Namun, maknanya besar. Ia tak menunggu belas kasihan. Justru dengan caranya sendiri, ia berdiri dan melawan.
Wiraguna Modern Masih Berkeliaran
Hari ini, sosok seperti Wiraguna tidak selalu memakai gelar bangsawan. Sebaliknya, mereka hadir dalam banyak bentuk.
Seorang atasan merasa berhak mengatur tubuh bawahan. Pasangan posesif menganggap cinta sama dengan kepemilikan.
Lingkungan sosial kerap menyerang perempuan vokal. Media sosial sering menghakimi perempuan yang berbeda suara.
Sosiolog Pierre Bourdieu pernah berkata:
“Dominasi paling efektif adalah dominasi yang dianggap wajar.”
Ucapan itu terasa dekat dengan kondisi sekarang. Sebab, ketidakadilan sering lolos karena orang menganggapnya biasa.
Saat korban pelecehan diminta diam, sistem sedang bekerja. Ketika perempuan sukses dicap arogan, standar ganda sedang hidup. Jika perempuan tegas disebut kasar, bias lama terus berulang.
Jadi, masalahnya bukan satu orang. Akar persoalannya berada pada pola pikir yang terus hidup.
Tubuhku, Pilihanku, Martabatku
Budayawan Y.B. Mangunwijaya lewat trilogi Rara Mendut melihat tokoh ini sebagai simbol manusia kecil yang melawan kuasa besar. Karena itu, makna kisah tersebut masih relevan hari ini.
Banyak perempuan terus memperjuangkan hak dasar untuk menentukan hidup sendiri. Ada yang ingin memilih pasangan tanpa tekanan. Ada pula yang ingin menata karier tanpa stigma. Selain itu, banyak juga yang ingin bicara tanpa ancaman.
Filsuf feminis bell hooks menulis:
“Patriarki tidak punya gender.”
Artinya, siapa pun bisa menjaga sistem tidak adil jika terus membiarkannya hidup.
Pelajaran dari Mendut
1. Berani menolak adalah bentuk merdeka
Tak semua orang sanggup berkata tidak saat tekanan datang dari pihak berkuasa.
2. Kemandirian bisa menjadi perlawanan
Ketika akses menyempit, kemampuan bertahan justru berubah menjadi kekuatan.
3. Martabat tidak punya harga
Jabatan dan uang sering merasa bisa membeli segalanya. Namun, kenyataannya tidak.
4. Sejarah juga milik rakyat biasa
Bukan hanya raja yang layak dikenang. Sebaliknya, orang berani pun pantas mendapat tempat.
Kalau Mendut Hidup Hari Ini
Mungkin ia menjadi pegawai yang melawan pelecehan di kantor. Bisa jadi ia menjadi mahasiswi yang menuntut keadilan di kampus.
Di rumah lain, ia menjadi ibu yang keluar dari hubungan abusif. Di tempat kerja, ia menjadi pekerja yang menolak dibungkam.
Jadi, ia bisa saja hidup di sekitar kita. Sebab, setiap zaman selalu melahirkan perempuan yang menolak orang lain memperlakukannya sebagai barang.
Penutup
Roro Mendut mungkin hidup dalam legenda, tetapi semangatnya nyata. Ia mengajarkan bahwa keberanian sering lahir dari satu kata sederhana yaitu, tidak.
Tolak pemaksaan, Lawan penghinaan, Jaga martabat. Di dunia yang masih suka mengatur hidup perempuan, kata tidak tetap terdengar revolusioner. @teguh





