Tabooo.id: Regional – Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, lonjakan harga cabai langsung menekan kehidupan rumah tangga di Kabupaten Wonosobo. Cabai rawit merah melonjak hingga 46 persen dan kini dijual Rp 83.750 per kilogram. Kenaikan tajam ini memaksa banyak warga menimbang ulang belanja dapur, bahkan sebelum perayaan dimulai.
Bagi masyarakat Wonosobo, cabai bukan sekadar pelengkap rasa. Harga cabai kerap menjadi penentu apakah menu harian tetap lengkap atau harus disederhanakan.
Harga Ikut Naik, Tekanan Datang dari Hulu
Kenaikan cabai memicu efek berantai pada komoditas lain. Wortel naik 25 persen, daging ayam ras terkerek 12 persen, dan telur ayam ras bertambah 4 persen. Sementara itu, minyak goreng, beras premium, dan beras SPHP ikut merangkak naik meski dengan persentase kecil.
Pedagang menyebut hujan berkepanjangan menghambat panen dan mengurangi pasokan dari petani. Pada saat yang sama, permintaan melonjak menjelang akhir tahun. Kombinasi kedua faktor itu mendorong harga naik tanpa memberi ruang bagi konsumen untuk bernapas.
Pemerintah Datangi Pasar, Inflasi Jadi Taruhan
Menghadapi tekanan harga tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo bergerak cepat. Kepala Bagian Perekonomian Setda Wonosobo, Joko Widodo, menegaskan bahwa pemerintah daerah menjalankan instruksi pusat untuk menjaga inflasi tetap terkendali menjelang momen besar keagamaan dan pergantian tahun.
Pemkab Wonosobo menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) guna memastikan ketersediaan pangan dan energi tetap aman. Dua tim langsung menyisir Pasar Induk Wonosobo, Pasar Garung, sejumlah SPBU, hingga Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Melalui langkah ini, pemerintah ingin memastikan stok tersedia, distribusi berjalan lancar, dan pedagang tidak memainkan harga.
“Hasil pemantauan menunjukkan stok sembako masih aman dan harga relatif wajar. Kami mengingatkan pedagang agar tidak menimbun barang atau menaikkan harga secara tidak rasional,” ujar Joko, Jumat (12/12/2025).
Energi Stabil, Solar Tetap Perlu Pengawasan
Di sektor energi, pasokan BBM di SPBU terjaga tanpa antrean panjang. Elpiji 3 kilogram maupun non-subsidi juga tersedia cukup dan mengalir normal. Meski demikian, pengelola SPBU meminta pemerintah tetap mengawasi konsumsi solar subsidi karena penggunaan biasanya meningkat menjelang Nataru.
Stabilnya sektor energi memberi bantalan penting di tengah kenaikan harga pangan. Setidaknya, warga tidak perlu menghadapi tekanan tambahan dari biaya transportasi dan bahan bakar rumah tangga.
Suara Pasar: Harga Lari Lebih Kencang dari Daya Beli
Namun, cerita di lapangan tidak selalu sejalan dengan laporan pemerintah. Sejumlah pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan cabai dalam jumlah stabil. Di sisi lain, pembeli terus berdatangan. Kondisi ini membuat harga bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan warga menyesuaikan pengeluaran.
Pada titik ini, peta untung dan rugi terlihat jelas. Pedagang besar dan pemasok di hulu memegang kendali stok dan memiliki ruang bermain harga. Pemerintah daerah memperoleh ruang untuk menunjukkan kinerja pengawasan. Sebaliknya, warga kecil kembali menanggung beban paling berat menyiasati dapur di tengah harga yang terus naik.
Imbauan Bijak, Pertanyaan Tetap Menggantung
Pemerintah mengimbau masyarakat berbelanja secara bijak dan menahan diri dari panic buying. Pengawasan, menurut Joko, akan berlangsung hingga pergantian tahun. Meski begitu, pertanyaan lama kembali muncul di tengah hiruk-pikuk pasar Wonosobo.
Jika setiap akhir tahun harga selalu melonjak dengan alasan serupa cuaca, pasokan, dan permintaan apakah masalah ini benar-benar bersifat musiman? Atau justru sistem pangan kita terlalu sering membiarkan dapur rakyat menjadi korban pertama inflasi tahunan?
Di tengah aroma cabai yang semakin mahal, jawaban atas pertanyaan itu terasa semakin mendesak. @dimas




