Harga ayam merah di Pasar Ayam Silir, Surakarta, tetap Rp20.000 per ekor. Namun, pedagang mengaku penjualan turun hingga satu ton per hari dalam tiga tahun terakhir karena daya beli masyarakat melemah.
Tabooo.id – Harga ayam merah di Pasar Ayam Silir, Surakarta, tetap bertahan di Rp20.000 per ekor. Padahal, peternak masih mengeluhkan mahalnya harga jagung sebagai bahan baku pakan. Namun, persoalan yang paling dirasakan pedagang bukan kenaikan harga. Mereka justru kehilangan pembeli. Dalam tiga tahun terakhir, penjualan ayam terus menurun. Kondisi itu membuat omzet ikut menyusut meski harga jual tetap stabil.
Harga Ayam Belum Bergerak
Alif, salah satu pedagang ayam di Pasar Hewan Sikit, mengatakan harga ayam merah belum berubah. Ia masih menjual ayam dengan harga Rp20.000 per ekor.
“Untuk ayam yang saya jual, ayam merah hari ini tidak mengalami kenaikan dan stabil di harga Rp20.000 per ekor,” kata Alif.
Menurut Alif, harga tersebut masih mampu bertahan karena pasokan ayam tetap tersedia. Selain itu, biaya yang ia keluarkan juga belum mengalami perubahan besar.
Karena itu, ia belum melihat alasan untuk menaikkan harga jual kepada konsumen.
Harga Jagung Belum Berpengaruh
Beberapa peternak sebelumnya menyampaikan keluhan tentang mahalnya harga jagung. Mereka menilai kenaikan harga pakan meningkatkan biaya produksi.
Namun, Alif belum merasakan dampaknya secara langsung.
Ia menjelaskan bahwa ayam yang ia jual berasal dari peternakan yang sudah tidak lagi memanfaatkan ayam tersebut sebagai ayam petelur.
“Kalau terkait harga pakan jagung yang mahal kami tidak merasakan dampaknya, karena kami pedagang mengambil ayam dari peternakan yang sudah tidak bertelur lalu kami jual,” ujarnya.
Karena sistem itu, kenaikan harga jagung belum memengaruhi harga ayam yang ia beli dari peternak.
Meski begitu, ia menyadari kondisi tersebut bisa berubah. Jika biaya produksi terus naik, harga di tingkat pedagang juga berpotensi ikut bergerak.
Pembeli Terus Berkurang
Meski harga tetap stabil, penjualan tidak ikut meningkat.
Alif mengatakan jumlah pembeli terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Akibatnya, volume penjualan ikut berkurang.
Sebelumnya, ia mampu menjual sekitar empat ton ayam setiap hari. Kini, jumlah itu turun sekitar satu ton.
“Dari tiga tahun terakhir ini pemesanan dan penjualan ayam turun kira-kira satu ton. Dulu bisa menjual empat ton sehari,” ungkapnya.
Penurunan itu tidak hanya terlihat dari angka penjualan.
Suasana pasar juga berubah. Aktivitas jual beli masih berjalan setiap hari. Namun, keramaian tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.
Banyak pelanggan datang lebih jarang. Sebagian lainnya membeli dalam jumlah yang lebih sedikit.
Daya Beli Menjadi Persoalan
Alif menduga kondisi ekonomi menjadi penyebab utama turunnya penjualan.
Menurutnya, masyarakat kini lebih berhati-hati saat mengeluarkan uang. Mereka lebih memilih memenuhi kebutuhan yang dianggap paling penting.
Akibatnya, permintaan ayam ikut menurun meski harga tidak berubah.
Kondisi tersebut menunjukkan satu hal. Harga yang stabil belum tentu membuat pasar kembali ramai.
Jika daya beli masyarakat melemah, pedagang tetap kesulitan meningkatkan penjualan.
Tantangan Pedagang Berbeda dengan Peternak
Peternak dan pedagang kini menghadapi tantangan yang berbeda.
Peternak harus menanggung biaya produksi yang semakin tinggi akibat mahalnya harga jagung.
Sementara itu, pedagang harus menghadapi pasar yang semakin sepi.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa persoalan sektor perunggasan tidak hanya berkaitan dengan harga pakan.
Daya beli masyarakat juga memegang peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi di pasar tradisional.
Berharap Ekonomi Segera Membaik
Alif berharap kondisi ekonomi segera pulih.
Ia ingin pasar kembali ramai seperti beberapa tahun lalu. Dengan begitu, pedagang dapat meningkatkan penjualan dan memperbaiki pendapatan.
“Ya semoga ke depannya ekonomi stabil dan pedagang ayam kembali ramai kembali,” harapnya.
Cerita Alif menjadi gambaran sederhana tentang kondisi pasar tradisional saat ini. Harga ayam memang belum naik. Namun, stabilnya harga belum mampu mengembalikan pembeli. Pada akhirnya, tantangan terbesar pedagang bukan hanya menjaga harga tetap terjangkau, tetapi juga menunggu daya beli masyarakat kembali pulih. @eko








