Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tukang Becak Klewer: Satu Hari Tanpa Penumpang, Kini Jadi Kenyataan

by eko
Agustus 6, 2026
in Reality
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Pendapatan tukang becak di Pasar Klewer terus menurun. Perubahan pola transportasi, belanja online, dan lesunya ekonomi membuat mereka semakin sulit mencari penumpang.

Tabooo.id – Dulu, lima hingga enam penumpang dalam sehari menjadi pemandangan biasa bagi tukang becak di Pasar Klewer, Surakarta. Kini, duduk berjam-jam tanpa mengantar satu penumpang pun menjadi kenyataan yang mereka hadapi hampir setiap hari. Di tengah perubahan wajah kota dan kebiasaan masyarakat, para pengayuh becak terus bertahan meski roda ekonomi yang mereka andalkan semakin pelan berputar.

Menunggu yang Tak Kunjung Datang

Setiap pagi sekitar pukul 08.00, Nuryadi (64) mengayuh becaknya dari Baki, Sukoharjo, menuju Pasar Klewer. Ia menghabiskan waktu hingga sekitar pukul 15.00 dengan harapan ada penumpang yang membutuhkan jasanya.

Namun, waktu kini lebih banyak berlalu tanpa transaksi. Becak tetap berjajar di tepi jalan, sementara para pengemudinya hanya saling menunggu keadaan berubah.

Nuryadi mengatakan hampir semua tukang becak di kawasan Pasar Klewer mengalami kondisi yang sama. Hari tanpa penumpang bukan lagi kejadian langka.

“Satu hari tidak menarik penumpang semua tukang becak di sini saat ini mengalami hal itu,” ujarnya kepada Tabooo.

Bagi mereka, pekerjaan kini lebih banyak diisi dengan menunggu daripada mengayuh.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Ketika Enam Penumpang Menjadi Kenangan

Nuryadi masih mengingat masa ketika Pasar Klewer menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi paling ramai di Kota Surakarta. Wisatawan, pembeli, hingga pedagang memenuhi kawasan pasar sejak pagi.

Saat itu, ia bisa mengantar lima hingga enam penumpang dalam sehari.

Kini, satu hingga tiga penumpang saja sudah terasa seperti keberuntungan.

“Satu tahun ini bisa menarik penumpang satu sampai tiga itu hal yang luar biasa. Dulu bisa lima sampai enam penumpang,” katanya.

Perubahan itu ikut memangkas pendapatan hariannya.

Menurut Nuryadi, membawa pulang Rp50 ribu kini menjadi pencapaian yang sulit diraih. Bahkan, tidak jarang ia hanya memperoleh sekitar Rp20 ribu setelah menunggu seharian.

“Harinya ini kita bisa bawa uang lima puluh ribu itu hebat. Kadang sehari bawa dua puluh ribu, terus dibagi sama istri dan untuk makan pun kurang,” ungkapnya.

Penghasilan itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan setiap hari.

Rugi Sebelum Mengayuh

Kesulitan para tukang becak tidak hanya datang dari minimnya penumpang.

Sebagian dari mereka masih menggunakan becak sewaan. Nuryadi menjelaskan biaya sewa mencapai sekitar Rp8 ribu setiap hari.

Artinya, saat tidak memperoleh penumpang sekalipun, mereka tetap harus mengeluarkan uang.

Beban itu membuat hari tanpa penumpang bukan sekadar kehilangan pemasukan, tetapi juga menghadirkan kerugian sejak pagi.

Bagi para tukang becak, bekerja kini berarti menghadapi risiko pulang tanpa hasil sambil tetap menanggung biaya operasional.

Kota Bergerak, Becak Tertinggal

Menurut Nuryadi, perubahan pola hidup masyarakat ikut menggeser peran becak sebagai transportasi harian.

Ojek online menawarkan layanan yang lebih cepat dan mudah diakses. Di sisi lain, semakin banyak masyarakat memilih berbelanja secara daring sehingga jumlah pengunjung Pasar Klewer ikut menurun.

Ia juga menilai kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat daya beli masyarakat melemah.

“Ya mungkin keadaan ekonomi yang sekarang lagi seperti ini semua merasakan. Mungkin karena adanya online, ojek online dan bemo yang mungkin membuat sepi,” jelasnya.

Perubahan tersebut tidak hanya mengurangi jumlah penumpang becak, tetapi juga mengubah ritme ekonomi pasar yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidup banyak pekerja sektor informal.

Pasar Sepi, Efeknya Menjalar ke Mana-Mana

Bagi Nuryadi, sepinya Pasar Klewer bukan hanya persoalan tukang becak.

Ia melihat pedagang, buruh angkut, hingga pelaku usaha kecil lain ikut merasakan dampaknya. Ketika jumlah pengunjung menurun, mata rantai ekonomi yang selama ini saling bergantung ikut melemah.

Keramaian pasar selama ini bukan sekadar tentang aktivitas jual beli, tetapi juga sumber penghasilan bagi ribuan orang yang bekerja di sekitarnya.

Karena itu, menurutnya, kebangkitan pasar akan membawa manfaat bagi banyak profesi sekaligus.

Yang Mereka Minta Bukan Belas Kasihan

Di usia 64 tahun, Nuryadi masih memilih mengayuh becak setiap hari. Ia tidak meminta kehidupan yang mewah. Ia hanya berharap kerja kerasnya kembali memberi hasil yang cukup untuk keluarganya.

Ia juga berharap aktivitas pasar kembali ramai sehingga pedagang, buruh angkut, dan tukang becak sama-sama memperoleh penghasilan.

“Ya semoga keadaan ini lekas pulih biar pedagang ramai lagi, kuli angkut ramai lagi, dan tukang becak juga kembali ramai. Semoga orang-orang kecil ini bisa makan dan semoga ada kebijakan dari pemerintah yang bisa membantu kami,” harapnya.

Saat Kemajuan Tidak Mengajak Semua Orang

Kota terus bergerak menuju masa depan. Aplikasi mempersingkat perjalanan, belanja digital memudahkan transaksi, dan teknologi membuat hidup terasa lebih praktis. Namun, di balik kemajuan itu, ada kelompok yang pelan-pelan kehilangan ruang hidupnya.

Di sudut Pasar Klewer, becak-becak masih berjejer menunggu penumpang. Rodanya masih siap berputar, tetapi kesempatan semakin jarang datang. Bagi Nuryadi dan banyak tukang becak lain, persoalannya bukan sekadar kehilangan pelanggan. Mereka sedang menghadapi perubahan zaman yang berjalan lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk ikut beradaptasi.

Di kota yang terus melaju, mereka tidak meminta dunia berhenti berubah. Mereka hanya berharap perubahan itu masih menyisakan ruang bagi orang-orang yang selama puluhan tahun ikut menggerakkan denyut kehidupan pasar. @eko

Tags: Buruh AngkutEkonomi PasarPasar KlewerPedagangTukang Becak

Kamu Melewatkan Ini

Di Balik Merah Putih, Ada Pedagang yang Mengejar Hari Ini

Di Balik Merah Putih, Ada Pedagang yang Mengejar Hari Ini

by eko
Agustus 19, 2026

Pagi 17 Agustus, merah putih memenuhi kawasan Sriwedari. Peserta upacara datang dengan seragam rapi untuk mengikuti peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan...

Rp5.000 yang Menggerakkan Ekonomi Kecil

Rp5.000 yang Menggerakkan Ekonomi Kecil

by eko
Agustus 18, 2026

Sebuah kabel bekas bisa berpindah tangan beberapa kali sebelum kembali menemukan pemilik baru. Bagi sebagian orang, benda itu mungkin sudah...

PGS Tutup, Pedagang Galabo Bergantung pada Wisatawan

PGS Tutup, Pedagang Galabo Bergantung pada Wisatawan

by dimas
Agustus 13, 2026

PGS tutup, tetapi pedagang Galabo tak terdampak langsung. Kini, mereka bergantung pada ramainya wisatawan untuk menggerakkan transaksi. Tabooo.id: Surakarta -...

Next Post
Bukan Malas Bekerja, Mereka Hanya Kehilangan Tempat untuk Memulai

Bukan Malas Bekerja, Mereka Hanya Kehilangan Tempat untuk Memulai

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id