Pendapatan tukang becak di Pasar Klewer terus menurun. Perubahan pola transportasi, belanja online, dan lesunya ekonomi membuat mereka semakin sulit mencari penumpang.
Tabooo.id – Dulu, lima hingga enam penumpang dalam sehari menjadi pemandangan biasa bagi tukang becak di Pasar Klewer, Surakarta. Kini, duduk berjam-jam tanpa mengantar satu penumpang pun menjadi kenyataan yang mereka hadapi hampir setiap hari. Di tengah perubahan wajah kota dan kebiasaan masyarakat, para pengayuh becak terus bertahan meski roda ekonomi yang mereka andalkan semakin pelan berputar.
Menunggu yang Tak Kunjung Datang
Setiap pagi sekitar pukul 08.00, Nuryadi (64) mengayuh becaknya dari Baki, Sukoharjo, menuju Pasar Klewer. Ia menghabiskan waktu hingga sekitar pukul 15.00 dengan harapan ada penumpang yang membutuhkan jasanya.
Namun, waktu kini lebih banyak berlalu tanpa transaksi. Becak tetap berjajar di tepi jalan, sementara para pengemudinya hanya saling menunggu keadaan berubah.
Nuryadi mengatakan hampir semua tukang becak di kawasan Pasar Klewer mengalami kondisi yang sama. Hari tanpa penumpang bukan lagi kejadian langka.
“Satu hari tidak menarik penumpang semua tukang becak di sini saat ini mengalami hal itu,” ujarnya kepada Tabooo.
Bagi mereka, pekerjaan kini lebih banyak diisi dengan menunggu daripada mengayuh.
Ketika Enam Penumpang Menjadi Kenangan
Nuryadi masih mengingat masa ketika Pasar Klewer menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi paling ramai di Kota Surakarta. Wisatawan, pembeli, hingga pedagang memenuhi kawasan pasar sejak pagi.
Saat itu, ia bisa mengantar lima hingga enam penumpang dalam sehari.
Kini, satu hingga tiga penumpang saja sudah terasa seperti keberuntungan.
“Satu tahun ini bisa menarik penumpang satu sampai tiga itu hal yang luar biasa. Dulu bisa lima sampai enam penumpang,” katanya.
Perubahan itu ikut memangkas pendapatan hariannya.
Menurut Nuryadi, membawa pulang Rp50 ribu kini menjadi pencapaian yang sulit diraih. Bahkan, tidak jarang ia hanya memperoleh sekitar Rp20 ribu setelah menunggu seharian.
“Harinya ini kita bisa bawa uang lima puluh ribu itu hebat. Kadang sehari bawa dua puluh ribu, terus dibagi sama istri dan untuk makan pun kurang,” ungkapnya.
Penghasilan itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan setiap hari.
Rugi Sebelum Mengayuh
Kesulitan para tukang becak tidak hanya datang dari minimnya penumpang.
Sebagian dari mereka masih menggunakan becak sewaan. Nuryadi menjelaskan biaya sewa mencapai sekitar Rp8 ribu setiap hari.
Artinya, saat tidak memperoleh penumpang sekalipun, mereka tetap harus mengeluarkan uang.
Beban itu membuat hari tanpa penumpang bukan sekadar kehilangan pemasukan, tetapi juga menghadirkan kerugian sejak pagi.
Bagi para tukang becak, bekerja kini berarti menghadapi risiko pulang tanpa hasil sambil tetap menanggung biaya operasional.
Kota Bergerak, Becak Tertinggal
Menurut Nuryadi, perubahan pola hidup masyarakat ikut menggeser peran becak sebagai transportasi harian.
Ojek online menawarkan layanan yang lebih cepat dan mudah diakses. Di sisi lain, semakin banyak masyarakat memilih berbelanja secara daring sehingga jumlah pengunjung Pasar Klewer ikut menurun.
Ia juga menilai kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat daya beli masyarakat melemah.
“Ya mungkin keadaan ekonomi yang sekarang lagi seperti ini semua merasakan. Mungkin karena adanya online, ojek online dan bemo yang mungkin membuat sepi,” jelasnya.
Perubahan tersebut tidak hanya mengurangi jumlah penumpang becak, tetapi juga mengubah ritme ekonomi pasar yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidup banyak pekerja sektor informal.
Pasar Sepi, Efeknya Menjalar ke Mana-Mana
Bagi Nuryadi, sepinya Pasar Klewer bukan hanya persoalan tukang becak.
Ia melihat pedagang, buruh angkut, hingga pelaku usaha kecil lain ikut merasakan dampaknya. Ketika jumlah pengunjung menurun, mata rantai ekonomi yang selama ini saling bergantung ikut melemah.
Keramaian pasar selama ini bukan sekadar tentang aktivitas jual beli, tetapi juga sumber penghasilan bagi ribuan orang yang bekerja di sekitarnya.
Karena itu, menurutnya, kebangkitan pasar akan membawa manfaat bagi banyak profesi sekaligus.
Yang Mereka Minta Bukan Belas Kasihan
Di usia 64 tahun, Nuryadi masih memilih mengayuh becak setiap hari. Ia tidak meminta kehidupan yang mewah. Ia hanya berharap kerja kerasnya kembali memberi hasil yang cukup untuk keluarganya.
Ia juga berharap aktivitas pasar kembali ramai sehingga pedagang, buruh angkut, dan tukang becak sama-sama memperoleh penghasilan.
“Ya semoga keadaan ini lekas pulih biar pedagang ramai lagi, kuli angkut ramai lagi, dan tukang becak juga kembali ramai. Semoga orang-orang kecil ini bisa makan dan semoga ada kebijakan dari pemerintah yang bisa membantu kami,” harapnya.
Saat Kemajuan Tidak Mengajak Semua Orang
Kota terus bergerak menuju masa depan. Aplikasi mempersingkat perjalanan, belanja digital memudahkan transaksi, dan teknologi membuat hidup terasa lebih praktis. Namun, di balik kemajuan itu, ada kelompok yang pelan-pelan kehilangan ruang hidupnya.
Di sudut Pasar Klewer, becak-becak masih berjejer menunggu penumpang. Rodanya masih siap berputar, tetapi kesempatan semakin jarang datang. Bagi Nuryadi dan banyak tukang becak lain, persoalannya bukan sekadar kehilangan pelanggan. Mereka sedang menghadapi perubahan zaman yang berjalan lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk ikut beradaptasi.
Di kota yang terus melaju, mereka tidak meminta dunia berhenti berubah. Mereka hanya berharap perubahan itu masih menyisakan ruang bagi orang-orang yang selama puluhan tahun ikut menggerakkan denyut kehidupan pasar. @eko








