Pasar Klewer pernah menjadi denyut ekonomi Kota Solo hingga senja tiba. Kini, pembeli terus berkurang dan para kuli panggul ikut kehilangan pekerjaan. Di balik troli yang tetap berdiri, ada manusia yang berjuang mempertahankan martabatnya.
Tabooo.id – Pukul lima sore pernah menjadi waktu yang paling dinanti Djiman. Pada jam itu, Pasar Klewer mencapai puncak keramaiannya. Pedagang masih sibuk melayani pembeli. Mobil bak terbuka keluar masuk membawa barang.
Gulungan kain batik berpindah dari kios ke kendaraan pelanggan. Di tengah kesibukan itu, Djiman terus mendorong trolinya dari satu lorong ke lorong lain. Tubuhnya lelah, tetapi pekerjaannya tidak pernah berhenti.
Hari ini suasananya berbeda. Matahari belum turun sepenuhnya, tetapi lorong pasar sudah mulai lengang. Beberapa pedagang memilih menutup kios lebih awal karena pembeli semakin sedikit. Troli yang dulu hampir tidak pernah berhenti bergerak kini lebih sering terparkir di sudut pasar. Djiman hanya bisa memperhatikan orang-orang yang melintas sambil berharap seseorang memanggilnya.
“Dahulu jam lima sore masih banyak pekerjaan untuk diangkut. Sekarang jam dua belas siang sudah tidak ada barang yang diangkut,” kata Djiman.
Kalimat itu tidak sekadar membandingkan dua waktu. Kalimat itu menggambarkan perubahan yang pelan-pelan mengubah hidupnya.
Hidup dari Keramaian Pasar
Djiman tidak memiliki kios. Ia juga tidak menjual batik seperti pedagang lain. Ia menggantungkan hidup pada tenaga yang ia miliki. Setiap hari ia datang membawa troli dan menunggu orang yang membutuhkan jasanya. Semakin ramai pasar, semakin besar peluangnya memperoleh penghasilan. Sebaliknya, ketika pembeli berkurang, kesempatan bekerja ikut menghilang.
Banyak orang melihat pasar hanya sebagai tempat jual beli. Namun Djiman melihat pasar sebagai sumber kehidupan. Setiap pembeli yang datang berarti kesempatan baru. Setiap barang yang berpindah berarti ada uang yang bisa ia bawa pulang. Karena itu, sepinya Pasar Klewer langsung memengaruhi hidupnya.
Menunggu Lebih Berat daripada Mengangkat Barang
Orang sering mengira pekerjaan kuli panggul hanya mengangkat beban. Kenyataannya, pekerjaan paling berat justru menunggu. Djiman menghabiskan sebagian besar harinya dengan berdiri di dekat trolinya. Ia menunggu pedagang membutuhkan bantuan. Ia juga menunggu pembeli yang membawa banyak barang.
Namun, penantian itu sering berakhir tanpa hasil.
“Kalau zaman dahulu ya cukup untuk kebutuhan. Sekarang turun banyak,” ujarnya.
Penghasilannya tidak pernah tetap. Kadang ia membawa pulang Rp20 ribu. Kadang hanya Rp10 ribu. Bahkan, tidak jarang ia hanya memperoleh Rp5 ribu setelah menunggu sejak pagi.
“Pendapatan ya tidak menentu. Kadang Rp5.000, Rp10.000, ada juga Rp20.000 tergantung barang yang diangkut.”
Nominal itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Djiman, angka tersebut menentukan apakah ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya pada hari itu.
Sebuah Troli dan Harga Sebuah Harapan
Troli yang selalu berada di samping Djiman bukan sekadar alat kerja. Ia membeli troli itu dengan harga sekitar Rp1,5 juta ketika mulai menjadi kuli panggul. Saat itu, ia percaya troli tersebut akan menjadi jalan untuk menghidupi keluarga.
Harapan itu pernah menjadi kenyataan. Pasar Klewer selalu ramai. Pekerjaan datang tanpa henti. Djiman pulang dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kini, trolinya masih sama. Rodanya masih berputar. Namun pasar tidak lagi memberi kesempatan seperti dulu. Yang berubah bukan alat kerjanya, melainkan keadaan di sekitarnya.
Ketika Perubahan Zaman Menyentuh Orang Kecil
Perubahan cara masyarakat berbelanja memang membawa banyak kemudahan. Orang bisa membeli barang tanpa harus datang ke pasar. Namun, perubahan itu juga membawa dampak yang jarang terlihat. Semakin sedikit orang datang ke pasar, semakin sedikit pula pekerjaan bagi para kuli panggul.
Djiman tidak pernah menyalahkan siapa pun. Ia hanya berharap keadaan membaik. Ia ingin melihat Pasar Klewer kembali ramai seperti dulu. Ia juga berharap pemerintah menghadirkan solusi agar pasar tradisional kembali menjadi tujuan masyarakat.
Harapan itu bukan sekadar tentang bertambahnya pembeli. Harapan itu berkaitan dengan kesempatan bekerja dan mempertahankan martabat.
Di Balik Troli yang Masih Berdiri
Menjelang magrib, Djiman kembali menggenggam gagang trolinya. Hari itu hampir selesai. Ia belum tahu berapa uang yang akan ia bawa pulang. Namun ia tetap akan datang lagi esok pagi. Ia percaya selalu ada harapan selama pasar masih membuka pintunya.
Banyak orang mengenang Pasar Klewer sebagai pusat batik terbesar di Solo. Djiman mengenangnya sebagai tempat yang pernah memberinya kehidupan. Kini, ia hanya ingin mendengar lagi suara roda troli yang saling bersahutan hingga senja tiba.
Sebab ketika troli berhenti bergerak, yang sesungguhnya kehilangan arah bukan hanya roda besinya. Seorang manusia juga perlahan kehilangan ruang untuk bekerja, berharap, dan merasa bahwa tenaganya masih dibutuhkan. @eko








