Hardiknas dan Harkitnas mengingatkan bahwa bangsa besar lahir dari keberanian rakyat membuka titik buta kekuasaan dan menjaga kebebasan berpikir.
Tabooo.id – Mei selalu datang membawa gema sejarah. Di tengah upacara, pidato resmi, dan slogan kebangsaan, ada satu pertanyaan yang diam-diam terus hidup di kepala bangsa ini: sebenarnya seperti apa manusia Indonesia yang baik?
Apakah manusia yang baik adalah mereka yang selalu diam dan patuh? Ataukah justru mereka yang berani bicara ketika keadaan terasa tidak adil?
Pertanyaan itu terasa penting ketika bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Dua momentum tersebut menghadirkan dua nama besar: Ki Hadjar Dewantara dan Soetomo. Keduanya tidak mengubah sejarah lewat kenyamanan. Sebaliknya, mereka bergerak lewat keberanian.
Ketika Kejujuran Membuat Kekuasaan Gelisah
Pada 1913, Ki Hadjar Dewantara menulis artikel terkenal berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” atau “Kalau Saya Seorang Belanda”. Tulisan itu muncul setelah pemerintah kolonial Belanda ingin merayakan kemerdekaannya dari Perancis di tanah Hindia Belanda.
Ironisnya, penjajah juga ingin rakyat pribumi ikut membiayai pesta tersebut.
Karena itu, Ki Hadjar Dewantara menolak logika kolonial dengan kalimat yang tajam dan menusuk. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin bangsa penjajah berpesta kemerdekaan di atas penderitaan bangsa yang masih mereka kuasai.
Tulisan itu langsung mengguncang pemerintah kolonial. Akibatnya, Belanda menghukumnya dengan pengasingan.
Namun sejarah sering bergerak dengan cara yang tidak terduga. Alih-alih membungkam perjuangannya, pengasingan justru mengubah arah hidupnya. Selama berada di Belanda, Ki Hadjar Dewantara mulai menekuni dunia pendidikan. Dari sanalah lahir gagasan besar yang kemudian berkembang menjadi Taman Siswa.
Di titik itu, kritik yang dulu dianggap ancaman malah melahirkan fondasi penting bangsa ini.
Soetomo dan Mimpi tentang Bangsa yang Mandiri
Sementara itu, Soetomo datang dari kelompok pribumi terdidik. Ia belajar di STOVIA, sekolah elite pada zamannya. Karena latar belakang itu, ia sebenarnya bisa memilih hidup aman dan nyaman.
Akan tetapi, Soetomo justru mengambil jalan berbeda.
Bersama teman-temannya, ia mendirikan Boedi Oetomo setelah terinspirasi oleh gagasan Wahidin Sudirohusodo tentang pentingnya pendidikan rakyat.
Mereka lalu membangun organisasi modern yang dikelola pribumi. Mereka mengadakan kongres, menyusun program kerja, dan membangun jaringan antardaerah. Dengan cara itu, mereka ingin menunjukkan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Karena itulah, kebangkitan nasional bukan hanya soal organisasi. Kebangkitan nasional menjadi simbol keberanian mental untuk berhenti bergantung kepada kolonialisme.
Sayangnya, keberanian seperti itu selalu memiliki harga.
Bangsa yang Sering Terlambat Menghargai Keberanian
Ki Hadjar Dewantara mengalami pengasingan. Selain itu, banyak pejuang lain menghadapi intimidasi dan penjara. Pada masa kolonial, kekuasaan memang menganggap kritik sebagai ancaman terhadap stabilitas.
Masalahnya, pola seperti itu tidak benar-benar hilang.
Hari ini bangsa ini hidup di negeri merdeka. Meski begitu, pertanyaannya tetap sama: apakah kritik masih dianggap bagian dari cinta kepada negara, atau justru dipandang sebagai gangguan?
Kontradiksi itu sering muncul di ruang publik.
Ketika bangsa lain membungkam rakyatnya, kita menyebutnya penindasan. Namun ketika pembungkaman terjadi di negeri sendiri, sebagian orang malah menyebutnya demi menjaga persatuan.
Di sinilah demokrasi mulai terasa rapuh.
Padahal kritik tidak selalu lahir dari kebencian. Sebaliknya, kritik sering muncul dari kepedulian. Orang yang peduli pada bangsanya biasanya tidak tahan melihat ketidakadilan tumbuh menjadi kebiasaan.
Kritik, Kekuasaan, dan Titik Buta Negara
Filsuf John Locke pernah menjelaskan gagasan tentang kontrak sosial. Menurut pandangan itu, rakyat menyerahkan sebagian kebebasannya kepada negara agar pemerintah menjaga hak-hak mereka.
Karena itu, hubungan rakyat dan pemerintah bukan hubungan tuan dan bawahan.
Rakyat membayar pajak, sedangkan pemerintah menjalankan amanat publik. Ketika rakyat merasa pemerintah tidak bekerja dengan baik, kritik muncul sebagai mekanisme pengawasan.
Selain menjaga keseimbangan, kritik juga membantu negara melihat titik buta yang sering tidak disadari penguasa.
Sayangnya, kekuasaan sering menyukai kenyamanan. Banyak penguasa lebih senang mendengar pujian daripada peringatan. Akibatnya, orang yang bicara jujur kerap dianggap terlalu berisik.
Padahal bangsa yang sehat tidak dibangun dari keseragaman suara. Sebaliknya, bangsa yang sehat tumbuh dari keberanian mendengar pendapat yang berbeda.
Nasionalisme Tidak Tumbuh dari Ketakutan
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini perlu mengingatkan bangsa bahwa nasionalisme bukan sekadar slogan yang diulang setiap Mei.
Nasionalisme tumbuh ketika rakyat merasa aman untuk berbicara.
Kemerdekaan yang sehat bukan tentang pemerintah yang paling kuat. Sebaliknya, kemerdekaan yang sehat lahir ketika rakyat tidak takut menyampaikan kritik.
Ki Hadjar Dewantara dan Soetomo tidak dikenang karena kepatuhan mereka. Bangsa ini mengenang mereka karena keberanian mereka melawan keadaan yang tidak adil.
Karena itu, manusia Indonesia yang baik bukan mereka yang selalu setuju dengan kekuasaan. Manusia Indonesia yang baik adalah mereka yang tetap peduli, tetap berpikir, dan tetap berani mengingatkan ketika bangsa mulai kehilangan arah.
Sebab sejarah selalu menunjukkan satu hal bangsa yang takut pada kritik perlahan akan kehilangan keberanian untuk bercermin. @dimas





