Minggu, November 1, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hardiknas, Harkitnas, dan Keberanian Membuka Titik Buta Kekuasaan

by dimas
Mei 19, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Hardiknas dan Harkitnas mengingatkan bahwa bangsa besar lahir dari keberanian rakyat membuka titik buta kekuasaan dan menjaga kebebasan berpikir.

Tabooo.id – Mei selalu datang membawa gema sejarah. Di tengah upacara, pidato resmi, dan slogan kebangsaan, ada satu pertanyaan yang diam-diam terus hidup di kepala bangsa ini: sebenarnya seperti apa manusia Indonesia yang baik?

Apakah manusia yang baik adalah mereka yang selalu diam dan patuh? Ataukah justru mereka yang berani bicara ketika keadaan terasa tidak adil?

Pertanyaan itu terasa penting ketika bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Dua momentum tersebut menghadirkan dua nama besar: Ki Hadjar Dewantara dan Soetomo. Keduanya tidak mengubah sejarah lewat kenyamanan. Sebaliknya, mereka bergerak lewat keberanian.

Ketika Kejujuran Membuat Kekuasaan Gelisah

Pada 1913, Ki Hadjar Dewantara menulis artikel terkenal berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” atau “Kalau Saya Seorang Belanda”. Tulisan itu muncul setelah pemerintah kolonial Belanda ingin merayakan kemerdekaannya dari Perancis di tanah Hindia Belanda.

Ironisnya, penjajah juga ingin rakyat pribumi ikut membiayai pesta tersebut.

Ini Belum Selesai

Kisah Jenderal Hoegeng: Integritas di Tengah Godaan Kekuasaan

Ibu Soed: Perempuan di Balik Semangat Sumpah Pemuda

Karena itu, Ki Hadjar Dewantara menolak logika kolonial dengan kalimat yang tajam dan menusuk. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin bangsa penjajah berpesta kemerdekaan di atas penderitaan bangsa yang masih mereka kuasai.

Tulisan itu langsung mengguncang pemerintah kolonial. Akibatnya, Belanda menghukumnya dengan pengasingan.

Namun sejarah sering bergerak dengan cara yang tidak terduga. Alih-alih membungkam perjuangannya, pengasingan justru mengubah arah hidupnya. Selama berada di Belanda, Ki Hadjar Dewantara mulai menekuni dunia pendidikan. Dari sanalah lahir gagasan besar yang kemudian berkembang menjadi Taman Siswa.

Di titik itu, kritik yang dulu dianggap ancaman malah melahirkan fondasi penting bangsa ini.

Soetomo dan Mimpi tentang Bangsa yang Mandiri

Sementara itu, Soetomo datang dari kelompok pribumi terdidik. Ia belajar di STOVIA, sekolah elite pada zamannya. Karena latar belakang itu, ia sebenarnya bisa memilih hidup aman dan nyaman.

Akan tetapi, Soetomo justru mengambil jalan berbeda.

Bersama teman-temannya, ia mendirikan Boedi Oetomo setelah terinspirasi oleh gagasan Wahidin Sudirohusodo tentang pentingnya pendidikan rakyat.

Mereka lalu membangun organisasi modern yang dikelola pribumi. Mereka mengadakan kongres, menyusun program kerja, dan membangun jaringan antardaerah. Dengan cara itu, mereka ingin menunjukkan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Karena itulah, kebangkitan nasional bukan hanya soal organisasi. Kebangkitan nasional menjadi simbol keberanian mental untuk berhenti bergantung kepada kolonialisme.

Sayangnya, keberanian seperti itu selalu memiliki harga.

Bangsa yang Sering Terlambat Menghargai Keberanian

Ki Hadjar Dewantara mengalami pengasingan. Selain itu, banyak pejuang lain menghadapi intimidasi dan penjara. Pada masa kolonial, kekuasaan memang menganggap kritik sebagai ancaman terhadap stabilitas.

Masalahnya, pola seperti itu tidak benar-benar hilang.

Hari ini bangsa ini hidup di negeri merdeka. Meski begitu, pertanyaannya tetap sama: apakah kritik masih dianggap bagian dari cinta kepada negara, atau justru dipandang sebagai gangguan?

Kontradiksi itu sering muncul di ruang publik.

Ketika bangsa lain membungkam rakyatnya, kita menyebutnya penindasan. Namun ketika pembungkaman terjadi di negeri sendiri, sebagian orang malah menyebutnya demi menjaga persatuan.

Di sinilah demokrasi mulai terasa rapuh.

Padahal kritik tidak selalu lahir dari kebencian. Sebaliknya, kritik sering muncul dari kepedulian. Orang yang peduli pada bangsanya biasanya tidak tahan melihat ketidakadilan tumbuh menjadi kebiasaan.

Kritik, Kekuasaan, dan Titik Buta Negara

Filsuf John Locke pernah menjelaskan gagasan tentang kontrak sosial. Menurut pandangan itu, rakyat menyerahkan sebagian kebebasannya kepada negara agar pemerintah menjaga hak-hak mereka.

Karena itu, hubungan rakyat dan pemerintah bukan hubungan tuan dan bawahan.

Rakyat membayar pajak, sedangkan pemerintah menjalankan amanat publik. Ketika rakyat merasa pemerintah tidak bekerja dengan baik, kritik muncul sebagai mekanisme pengawasan.

Selain menjaga keseimbangan, kritik juga membantu negara melihat titik buta yang sering tidak disadari penguasa.

Sayangnya, kekuasaan sering menyukai kenyamanan. Banyak penguasa lebih senang mendengar pujian daripada peringatan. Akibatnya, orang yang bicara jujur kerap dianggap terlalu berisik.

Padahal bangsa yang sehat tidak dibangun dari keseragaman suara. Sebaliknya, bangsa yang sehat tumbuh dari keberanian mendengar pendapat yang berbeda.

Nasionalisme Tidak Tumbuh dari Ketakutan

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini perlu mengingatkan bangsa bahwa nasionalisme bukan sekadar slogan yang diulang setiap Mei.

Nasionalisme tumbuh ketika rakyat merasa aman untuk berbicara.

Kemerdekaan yang sehat bukan tentang pemerintah yang paling kuat. Sebaliknya, kemerdekaan yang sehat lahir ketika rakyat tidak takut menyampaikan kritik.

Ki Hadjar Dewantara dan Soetomo tidak dikenang karena kepatuhan mereka. Bangsa ini mengenang mereka karena keberanian mereka melawan keadaan yang tidak adil.

Karena itu, manusia Indonesia yang baik bukan mereka yang selalu setuju dengan kekuasaan. Manusia Indonesia yang baik adalah mereka yang tetap peduli, tetap berpikir, dan tetap berani mengingatkan ketika bangsa mulai kehilangan arah.

Sebab sejarah selalu menunjukkan satu hal bangsa yang takut pada kritik perlahan akan kehilangan keberanian untuk bercermin. @dimas

Tags: Hari Kebangkitan NasionalKebebasan BerpendapatNasionalisme IndonesiaRuang Sipil

Kamu Melewatkan Ini

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

by dimas
November 1, 2026

TNI turun mengamankan demonstrasi memunculkan pertanyaan tentang batas kewenangan militer, supremasi sipil, dan perlindungan kebebasan berpendapat. Tabooo.id - Demonstrasi merupakan...

Malioboro Mencekam, Massa dan Aparat Terlibat Bentrokan

Polda DIY Pulangkan 34 Peserta Demo, Isu Penahanan Jadi Sorotan

by dimas
Oktober 30, 2026

Polda DIY pulangkan 34 peserta demo di Gedung DPRD DIY setelah kericuhan. Isu penahanan sempat beredar dan menjadi sorotan publik....

Sumpah Pemuda 2026 di Jogja: Massa Bersatu, Tuntutan Menumpuk

Sumpah Pemuda 2026 di Jogja: Massa Bersatu, Tuntutan Menumpuk

by Waras
Oktober 29, 2026

Demonstrasi tidak selalu dimulai dari satu kemarahan. Terkadang, ia tumbuh dari banyak persoalan yang menumpuk terlalu lama: penghasilan yang tak...

Next Post
Kerja Makin Keras, Hidup Tetap Pas-Pasan: Ini Bukan Malas, Ini Sistem

Kerja Makin Keras, Hidup Tetap Pas-Pasan: Ini Bukan Malas, Ini Sistem

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id