Tabooo.id: Check – Sebuah undangan di Facebook langsung membuat banyak orang ngegas. Undangan itu menuduh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sedang melelang Gunung Lawu untuk proyek listrik tenaga panas bumi. Narasinya begitu meyakinkan, sampai-sampai orang bisa membayangkan beli gunung seolah beli sepeda bekas di marketplace.
Padahal, semua itu cuma cerita ngadi-ngadi.
Fakta dari Kementerian ESDM
Kementerian ESDM sudah menjelaskan semuanya secara terang. Gunung Lawu tidak masuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Pemerintah tidak membuka lelang dan tidak menjalankan eksplorasi apa pun di kawasan itu.
Rencana WKP Lawu yang muncul pada 2018 pun gugur pada 2023 setelah evaluasi menyeluruh. Tahun 2024, pemerintah menggelar audiensi bersama Pemkab Karanganyar dan akademisi UNS. Mereka kemudian mengusulkan lokasi alternatif jauh di Kecamatan Jenawi area yang tidak bersinggungan dengan situs budaya, jalur spiritual, atau kawasan sakral Gunung Lawu.
Dengan kata lain, tidak ada aktivitas yang menjual-belikan gunung. Klaim itu sama absurdnya dengan ide “pajak awan per liter”.
Kenapa Hoaksnya Gampang Laku?
Hoaks ini laris karena pakai trik lama yang selalu berhasil. Pertama, judulnya ngotot seperti poster diskon besar-besaran, padahal isinya fiksi. Kedua, desain undangan yang tampil formal membuat orang mudah percaya. Banyak yang tidak mengecek ulang padahal strukturnya sudah janggal sejak awal. Ketiga, Facebook tetap menjadi ruang favorit untuk menyebarkan kabar yang belum tentu benar cepat, luas, dan jarang dibaca tuntas.
Yang paling kocak, banyak warganet langsung marah sebelum sempat membuka Google. Mereka memperlakukan hoaks ini seperti thriller, bukan informasi publik yang perlu diverifikasi.
Visualisasi Meme yang Lebih Masuk Akal
Bayangkan sebuah foto Gunung Lawu dengan label harga besar bertuliskan:
“Tidak untuk dijual. Ini gunung, bukan dagangan.”
Atau meme petugas keamanan mall yang memeriksa tas sambil berkata:
“Maaf Pak, Gunung Lawu tidak bisa dilelang.”
Setidaknya, meme itu lebih jujur daripada undangan palsu yang beredar.
Akhir Kata: Rem yang Paling Penting Ada di Jempol Kita
Hoaks seperti ini hadir karena imajinasi netizen kadang lebih panas daripada energi geotermal itu sendiri. Karena itu, kita perlu menahan diri sebelum ikut menyebarkan. Jangan biarkan drama liar tampil seperti fakta.
Di era semua orang mudah menekan tombol “bagikan”, kendali terakhir ada di jempol kita.
Sebelum share, cek dulu biar nggak ikut dosa digital. @dimas




