Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hujan, Tanah, Koin-Koin Mengajarkan Kita Membaca Waktu

by teguh
Desember 7, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pada suatu sore musim hujan, lapangan SDN Pejagan IV di Madura berubah menjadi cekungan lumpur. Hujan turun tanpa jeda, membentuk genangan yang mengilap seperti cermin pecah. Anak-anak tak bisa bermain, guru tak bisa lewat tanpa menjejak tanah lengket. Dari kekacauan kecil itu, sebuah cerita besar mulai bergerak.

Nuryasin guru sekaligus kepala sekolah mengambil cangkul tanpa banyak bicara. Ia menyingkirkan becek dengan cara paling sederhana menggali tanah kering, memindahkannya, lalu menutup titik berlumpur satu per satu. “Saya cuma ingin lapangan kembali layak dipakai,” katanya suatu ketika. Gerakannya spontan, jujur, dan sama sekali tidak mengundang keajaiban. Namun tanah selalu punya rencana sendiri.

Beberapa titik berhasil ia rapikan. Tinggal beberapa lubang yang perlu ia cangkul sedikit lebih dalam. Ketika mata cangkulnya menyentuh kedalaman sekitar 25–30 sentimeter, waktu seperti menghentikan langkah. Di sana, di perut bumi yang lembap, sepotong gerabah kuno menunggu, berdiam diri seperti pesan yang terpendam ratusan tahun.

Koin-Koin Yang Membawa Kisah

Nuryasin mengangkat gerabah itu dengan hati-hati. Ia tak menduga bahwa benda itu menyimpan harta karun koin perak VOC, lengkap dengan cap tiga huruf yang dulu ditakuti di lautan Nusantara. Catatan pewarta Suara Karya (1 Februari 1991) menyebut, koin-koin tersebut bertuliskan VOC dengan tahun pemakaian 1746–1760, berdimensi 2,1 sentimeter. Ada pula varian lain berukuran 2,9 sentimeter dengan cap Indiae Batav tahun 1819–1828.

Kabar itu menyebar seperti api yang menjilat alang-alang. Madura gempar. Indonesia ikut geger. Arkeolog, pejabat pemerintah, dan wartawan datang berbondong-bondong. Temuan itu sah sebagai peninggalan bersejarah 13 kilogram koin perak VOC, nilai yang kalau dikonversikan ke uang hari ini bisa mencapai miliaran rupiah.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Orang-orang yakin Nuryasin akan menjadi miliarder. Banyak yang mendorongnya menjual harta karun itu. Tapi ia memilih jalan yang lain. “Itu tidak mungkin saya lakukan. Uang temuan ini kami serahkan ke museum,” ucapnya. Bukan karena tidak butuh uang. Tapi karena ia percaya ada hal-hal yang tak boleh dibarter.

Ia mungkin tidak menjadi kaya, tetapi namanya melekat dalam sejarah. Dan sejarah, tidak seperti uang, tidak pernah habis ditukar.

Menggali Waktu: Ketika Uang Tak Hanya Nilai, Tapi Jejak Peradaban

Kisah ini membawa kita kembali ke masa ketika Nusantara masih menjadi panggung perebutan rempah. Sejak era kerajaan Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia sudah memakai koin emas sebagai alat transaksi. Koin itu dipakai untuk urusan besar jual beli tanah dan perdagangan skala tinggi. Untuk keseharian, orang mungkin masih menukar barang, tetapi konsep uang sudah hadir lama sebelum VOC muncul.

Ketika VOC datang, mereka merapikan atau tepatnya memonopoli sistem moneter yang beredar. Kongsi dagang itu ingin seluruh nilai tukar tunduk pada satu standar. Mereka menekan uang asing, lalu mengisi pasar dengan koin baru rijksdaalder, dukat, stuiver, gulden, doit.

Koin-koin ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga simbol kekuasaan. Dengan bahan emas, perak, tembaga, dan nikel, VOC mengatur siapa bisa membeli apa, siapa bisa berdagang dengan siapa, dan siapa yang berhak menentukan harga. Satu kata yang paling berhasil bertahan adalah doit yang kemudian berubah menjadi “duit,” kata yang kita pakai sampai hari ini.

Setelah VOC bubar pada 1799, koin-koin itu pelan-pelan menghilang dari pasar. Namun, banyak di antaranya tidak lenyap mereka memilih tidur di bawah tanah, menunggu orang seperti Nuryasin untuk membangunkan mereka kembali.

Konteks Masa Kini: Ketika Sebutir Koin Bisa Mengajarkan Banyak Hal

Fenomena penemuan harta karun ini relevan dengan zaman sekarang. Kita hidup di era digital, di mana uang hadir dalam bentuk yang tak lagi bisa kita genggam saldo aplikasi, QR code, atau token kripto. Kita bertransaksi lebih cepat daripada kita berkedip, tetapi kita jarang bertanya apa sebenarnya arti uang bagi kita hari ini?

Koin VOC yang muncul dari tanah itu memberi kontras yang tajam. Dahulu, uang dibuat dari logam berharga hari ini, uang diproduksi dari kode dan kepercayaan. Dahulu, nilai uang bisa kita lihat dari beratnya kini, nilainya bergantung pada stabilitas sistem yang bahkan tak terlihat.

Penemuan di Madura itu seperti pengingat bahwa uang selalu mengikuti kekuasaan. VOC memaksa Nusantara memakai koin mereka. Sekarang, platform-platform raksasa memaksa kita memakai metode pembayaran tertentu. Dulu, koin menentukan siapa menguasai jalur dagang. Kini, data menentukan siapa menguasai pasar.

Dari koin perak hingga dompet digital, cerita yang sama terus bergulir uang selalu memantulkan siapa yang berkuasa.

Refleksi Tabooo: Kita Mencangkul, Waktu Menawarkan Cerita

Kisah Nuryasin mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu ditemukan oleh arkeolog kadang, sejarah muncul di tangan orang yang hanya ingin membersihkan lapangan sekolah. Kadang, masa lalu memilih orang paling biasa untuk menceritakan hal luar biasa.

Dan dari semua hal yang muncul dari tanah saat hujan deras, koin-koin VOC itu membawa pesan yang puitis kita mungkin hidup dalam zaman serba digital, tetapi masa lalu tetap hadir, menunggu kita menggali lebih dalam.

Harta karun itu bukan sekadar nilai ekonomi, tetapi bukti betapa panjangnya perjalanan konsep uang di Indonesia. Dari emas kerajaan hingga perak VOC, dari doit hingga “duit,” dari koin hingga QR code semuanya mengalir dalam satu arus cara manusia memberikan nilai pada sesuatu.

Penutup: Kadang Kita Mencari Makna di Langit, Padahal Ia Terpendam di Tanah

Pada akhirnya, hujan hanya ingin membasahi bumi. Nuryasin hanya ingin membersihkan lapangan. Namun, tanah memilih menceritakan sesuatu yang lebih tua dari sekolah itu, lebih tua dari desa, bahkan lebih tua dari Indonesia itu sendiri.

Mungkin, itulah yang membuat kisah ini terasa magis kita menggali lumpur untuk menyingkirkan genangan, tetapi yang muncul justru sejarah yang menyingkirkan lupa. @teguh

Tags: ArkeologguruMaduramuseumSejarah

Kamu Melewatkan Ini

Benarkah Kemendikbud Batasi Guru Miliki Barang Mewah?

Benarkah Kemendikbud Batasi Guru Miliki Barang Mewah?

by eko
Oktober 4, 2026

Benarkah Kemendikbud batasi guru miliki barang mewah? Cek faktanya. Tidak ada aturan yang melarang guru membeli atau memiliki barang mewah....

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026

Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan,...

Next Post
Pamit Sang Ayah, Arhan Menangis, Sepak Bola Indonesia Ikut Hening

Pamit Sang Ayah, Arhan Menangis, Sepak Bola Indonesia Ikut Hening

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id