Di sebuah tikungan jalan yang tak pernah benar-benar sepi, aroma gulai sapi mengepul dari tenda sederhana yang berdiri tanpa kemewahan. Tidak ada logo besar, tidak ada konsep restoran modern. Hanya uap panas, suara sendok beradu mangkuk, dan antrean orang yang datang tanpa banyak tanya.
Tabooo.id: Food – Di titik itu, gultik tidak hadir sebagai tren kuliner. Sebaliknya, ia menjadi saksi bagaimana makanan jalanan bertahan tanpa harus menyesuaikan diri dengan zaman. Dari pinggir tikungan Blok M, lahir sebuah identitas sederhana: gulai tikungan yang tidak pernah meminta untuk jadi istimewa, namun justru perlahan tumbuh menjadi legenda rasa yang terus dipanggil ulang oleh generasi baru. Sebelum all you can eat dan menu fusion yang bikin dompet megap-megap, semangkuk gulai sapi sederhana di pinggir jalan sudah lebih dulu mengisi perut tanpa drama. Namanya: gultik. Dan entah bagaimana, setelah puluhan tahun “diam di tikungan”, ia kembali muncul di timeline media sosialmu.
Namun pertanyaannya tetap menggantung: ini sekadar nostalgia, atau justru ada sesuatu dari gultik yang membuatnya tidak pernah benar-benar hilang?
Lahir dari Tikungan, Bukan Dapur Restoran
Gultik bukan produk branding mahal atau strategi marketing viral. Sebaliknya, ia tumbuh organik dari denyut jalanan Jakarta yang tidak pernah berhenti bergerak.
Nama “gultik” berasal dari gulai tikungan, yang merujuk langsung pada titik ikonik di pertemuan Jalan Mahakam-Bulungan, kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Sejak era 1980-an, para pedagang kaki lima mulai membuka tenda sederhana di area itu, lalu menjual gulai sapi hangat dengan harga yang tetap bersahabat bagi banyak orang.
Pada masa itu, Blok M tidak hanya berfungsi sebagai ruang transit. Terminalnya juga menjadi titik temu kehidupan anak muda Jakarta tempat mereka berkumpul, menunggu waktu malam turun, atau sekadar mencari percakapan tanpa rencana. Karena itu, gultik hadir secara alami di tengah ritme itu, bukan sebagai konsep, tetapi sebagai kebiasaan.
Selain itu, tidak ada peluncuran resmi, tidak ada kampanye, dan tidak ada strategi pemasaran. Sebaliknya, nama itu tumbuh dari obrolan ringan di pinggir jalan. Dari situ, gultik menyebar perlahan dari mulut ke mulut, seperti cerita kota yang hidup tanpa perlu ditulis ulang.
Sederhana, Tapi Punya Karakter
Jika banyak orang membayangkan gulai yang kental dan berminyak, gultik justru bergerak ke arah yang berbeda.
Kuahnya terasa ringan, namun tetap membawa rempah yang cukup kuat untuk meninggalkan jejak rasa. Selain itu, porsinya dibuat kecil, sehingga cepat habis, tetapi justru mendorong orang untuk kembali memesan. Dengan cara itu, gultik tidak pernah mencoba berlebihan.
Lebih jauh lagi, gultik tidak pernah berusaha tampil mewah. Ia tidak mengejar estetika atau validasi visual. Sebaliknya, ia memahami posisinya sebagai makanan kaki lima yang jujur, cepat, dan bisa dinikmati berulang kali tanpa rasa bersalah.
Di tengah hiruk pikuk Blok M, gultik akhirnya berfungsi sebagai jeda kecil. Ia memberi ruang bagi orang untuk makan tanpa harus memikirkan citra atau status.
Sempat Tenggelam, Lalu Kembali Lagi
Seiring waktu, seperti banyak kuliner jalanan lainnya, gultik sempat kehilangan sorotan. Tren makanan terus berubah dengan cepat mulai dari dessert estetik, ramen modern, hingga hidangan yang lebih menonjolkan visual daripada rasa.
Namun demikian, gultik tetap bertahan di tempat yang sama. Ia tidak mengikuti arus perubahan tersebut.
Justru karena itu, sesuatu berubah di luar dirinya. Di era TikTok dan algoritma FYP, makanan yang jujur dan tidak dikemas berlebihan mulai menarik perhatian baru. Gultik pun kembali muncul, bukan karena ia berubah, melainkan karena dunia di sekitarnya yang semakin cepat berubah.
Selain itu, fenomena ini tidak berhenti di Jakarta. Beberapa kota lain mulai mengadaptasi konsep serupa. Mereka menghadirkan tenda sederhana, kuah ringan, dan harga terjangkau. Meski begitu, “jiwa tikungan” khas Blok M tetap sulit ditiru.
Nostalgia atau Resistensi terhadap Tren?
Pada titik ini, pertanyaannya menjadi lebih dalam: mengapa gultik kembali ramai?
Di satu sisi, banyak orang melihatnya sebagai nostalgia. Mereka kembali pada Blok M lama yang penuh kenangan. Namun di sisi lain, ada juga kemungkinan bahwa masyarakat mulai lelah dengan makanan yang terlalu dipoles dan terlalu dikurasi.
Dengan kata lain, kedua hal itu bisa berjalan bersamaan. Gultik tidak perlu memilih salah satunya.
Di tengah industri kuliner yang semakin kompetitif secara visual, gultik justru hadir sebagai jeda. Ia tidak menawarkan narasi besar. Ia tidak menjual gaya hidup. Sebaliknya, ia hanya hadir, konsisten, dan apa adanya.
Karena itu, ia tetap bertahan.
Human Impact: Makan Tanpa Harus Menjadi Siapa-Siapa
Lebih dari sekadar makanan, gultik juga membentuk ruang sosial yang unik.
Di tikungan itu, orang dari latar belakang berbeda duduk di tempat yang sama. Tidak ada aturan berpakaian, tidak ada batasan sosial yang terlihat jelas, dan tidak ada eksklusivitas yang disembunyikan.
Semua orang datang dengan tujuan yang sama: makan, duduk sebentar, lalu melanjutkan hidup.
Di saat banyak pengalaman kuliner berubah menjadi simbol status, gultik justru menghapus simbol itu. Ia mengembalikan makan ke bentuk paling dasar: kebutuhan, bukan representasi.
Bukan Sekadar Viral
Pada akhirnya, gultik mungkin kembali muncul di FYP hari ini. Namun demikian, ia tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tetap berada di tikungan yang sama, dengan rasa yang sama, dan ritme yang sama. Sementara itu, generasi berganti, tren berubah, dan algoritma terus bergerak.
Dan justru di tengah perubahan itu, gultik mengingatkan satu hal sederhana: tidak semua yang bertahan harus berubah.
Yang jujur, sering kali, cukup untuk tetap hidup. @Sabrina Fidhi – Surabaya




