Gerakan buruh identik “Kiri”? Sejarah tidak membuat buruh jadi “kiri”. Sejarah menunjukkan kenapa mereka tidak punya pilihan lain.

Tabooo.id: Deep – Gerakan buruh hampir selalu ditempatkan di sisi “kiri” dalam peta politik modern. Label ini terlihat begitu mapan, seolah tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun jika kita mundur dan melihat sejarahnya secara utuh, hubungan ini ternyata tidak lahir dari pilihan ideologi yang sadar, melainkan dari rangkaian peristiwa panjang yang membentuk posisi buruh dalam sistem ekonomi.
Masalahnya tidak bermula dari politik. Masalahnya berakar pada struktur. Ketika satu kelompok menguasai alat produksi dan kelompok lain hanya menjual tenaga kerjanya, sistem langsung menciptakan ketimpangan. Dalam konteks ini, dokumen menjelaskan bahwa identitas kiri dalam gerakan buruh lahir dari dialektika antara perkembangan kapitalisme dan kesadaran kelas yang tumbuh bersamanya.
Bukan Pilihan. Tapi Reaksi Sejak Awal
Sejak akhir abad ke-18, gerakan buruh tidak lahir dari teori atau ideologi. Ia muncul langsung dari pengalaman nyata para pekerja. Ketika Revolusi Industri berlangsung sekitar 1760 hingga 1830 di Britania Raya, perubahan ekonomi menghantam secara drastis dan mengubah cara manusia bekerja.
Sebelum periode itu, sistem gilda masih memberi perlindungan tertentu bagi pekerja. Namun setelah industrialisasi berkembang, pola lama runtuh. Produksi berpindah ke pabrik besar, pemilik modal mengumpulkan tenaga kerja dalam jumlah besar, dan hubungan kerja berubah menjadi impersonal tanpa ikatan sosial.
Dalam situasi ini, buruh tidak benar-benar punya pilihan selain melawan. Kondisi memaksa mereka bergerak. Pengusaha menekan upah serendah mungkin, jam kerja terus meningkat, dan negara tidak memberi perlindungan hukum yang memadai. Tekanan inilah yang akhirnya mendorong lahirnya gerakan buruh.
Revolusi Industri: 1760–1830, Titik Awal Ketimpangan Modern
Periode 1760 hingga 1830 menjadi titik balik dalam sejarah ekonomi dunia. Pada masa ini, mesin mulai menggantikan tenaga manusia, dan produksi massal menjadi norma baru.
Akibatnya, terjadi urbanisasi besar-besaran. Buruh dari desa berpindah ke kota untuk bekerja di pabrik. Namun karena jumlah tenaga kerja melimpah, posisi tawar mereka menjadi sangat lemah. Upah menjadi rendah, sementara jam kerja bisa mencapai 12 hingga 20 jam per hari.
Pada saat yang sama, pemerintah Inggris justru menghapus berbagai regulasi perlindungan tenaga kerja lama dan menerapkan kebijakan laissez-faire pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Di sinilah kesadaran mulai muncul. Buruh mulai melihat bahwa sistem tidak netral. Ia memiliki arah, dan arah itu tidak berpihak pada mereka.
1805 dan 1838: Dari Mogok ke Gerakan Politik
Pada tahun 1805, para penenun di Glasgow melakukan mogok besar untuk menuntut upah yang lebih adil. Namun aksi ini gagal karena negara berpihak pada pemilik modal dan menangkap para pemimpinnya.
Kegagalan ini menjadi pelajaran penting. Buruh mulai menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dilakukan di level ekonomi. Mereka membutuhkan kekuatan politik.
Kesadaran ini berkembang lebih jauh dalam gerakan Chartisme pada periode 1838 hingga 1848. Gerakan ini menuntut hak pilih universal dan reformasi parlemen sebagai cara untuk memperbaiki kondisi buruh.
Dari sini, arah gerakan berubah. Buruh tidak lagi hanya menuntut upah. Mereka mulai menuntut perubahan sistem.
1848: Marx dan Lahirnya Bahasa Perlawanan
Tahun 1848 menjadi titik penting dengan terbitnya Manifesto Komunis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Pemikiran ini memberikan kerangka teoritis untuk memahami apa yang dialami buruh.
Marx menjelaskan bahwa relasi antara buruh dan pemilik modal bersifat eksploitatif. Buruh menciptakan nilai, tetapi sebagian dari nilai itu diambil sebagai keuntungan oleh pemilik modal. Dengan cara ini, eksploitasi menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar perilaku individu.
Sejak saat itu, gerakan buruh mulai memiliki bahasa untuk menjelaskan realitas yang mereka hadapi. Ideologi tidak lagi sekadar wacana, tetapi menjadi alat analisis.
1886–1889: Haymarket dan Lahirnya May Day
Pada 1 Mei 1886, puluhan ribu buruh di Chicago melakukan demonstrasi untuk menuntut delapan jam kerja. Aksi ini mencapai puncaknya pada 4 Mei 1886 dalam peristiwa Haymarket, ketika ledakan bom memicu represi besar-besaran terhadap gerakan buruh.
Para aktivis buruh ditangkap dan dihukum, meskipun bukti terhadap mereka lemah. Peristiwa ini menciptakan martir bagi gerakan buruh global.
Sejak saat itu, perlawanan buruh menjadi simbol global, bukan lagi isu lokal.
Awal Abad 20: Buruh Indonesia dan Kolonialisme
Memasuki awal abad ke-20, gerakan buruh juga berkembang di Indonesia, terutama dalam konteks kolonialisme Belanda. Pada periode ini, organisasi seperti Sarekat Islam mulai mengorganisir buruh, terutama di sektor perkebunan dan transportasi.
Tokoh seperti Semaoen membawa pengaruh pemikiran kiri ke dalam gerakan ini, sehingga terjadi pertemuan antara perjuangan kelas dan perjuangan nasional. Di sisi lain, tokoh seperti Soekarno dan Hatta mengembangkan konsep yang menggabungkan keadilan sosial dengan konteks lokal Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa gerakan buruh di Indonesia tidak hanya melawan kapitalisme, tetapi juga imperialisme.
1965–1998: Orde Baru dan Represi Gerakan Buruh
Dalam periode ini, gerakan buruh kehilangan dimensi politiknya. Ideologi kiri distigmatisasi, dan buruh yang bersuara sering dianggap sebagai ancaman. Tragedi pembunuhan Marsinah pada tahun 1993 menjadi simbol kuat dari represi terhadap aktivis buruh.
Selama lebih dari tiga dekade, gerakan buruh berada dalam kondisi tertekan.
1998–Sekarang: Reformasi dan Tantangan Baru
Setelah jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, ruang demokrasi kembali terbuka. Buruh dapat berorganisasi dan menyuarakan tuntutan mereka secara lebih bebas. Namun pada saat yang sama, globalisasi dan neoliberalisme menciptakan tekanan baru.
Pada tahun 2003, lahir UU Ketenagakerjaan sebagai salah satu hasil perjuangan buruh. Kemudian, pembentukan BPJS pada 2010-an juga menjadi tonggak penting dalam perlindungan sosial.
Namun konflik tetap ada. Pada tahun 2020, pengesahan Omnibus Law kembali memicu gelombang protes besar dari buruh, yang melihat kebijakan ini sebagai ancaman terhadap hak-hak mereka.
Bukan Sekadar Ideologi. Tapi Pola Sejarah
Jika kita tarik garis dari 1760 hingga hari ini, pola yang muncul sangat jelas. Setiap kali sistem ekonomi berubah dan menciptakan ketimpangan, buruh akan bereaksi. Dan setiap kali mereka bereaksi, mereka diberi label.
Dalam politik modern, label itu adalah “kiri”.
Namun label ini sering kali menutupi realitas yang lebih dalam, yaitu adanya struktur yang tidak seimbang. Selama struktur ini tetap ada, gerakan buruh akan terus muncul.
Kenapa Kamu Mesti Peduli
Ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah realitas yang masih berlangsung.
Ketika kamu bekerja dengan upah yang tidak sebanding, ketika kamu merasa tidak punya kepastian kerja, atau ketika kamu melihat peluang mobilitas sosial semakin sempit, itu semua adalah bagian dari sistem yang sama.
Kamu mungkin tidak menyebut dirimu bagian dari gerakan buruh. Namun dalam banyak hal, kamu berada dalam posisi yang sama.
Bukan Ideologi. Ini Struktur Kekuasaan
Selama ini, banyak orang terjebak pada label ideologi. Mereka melihat gerakan buruh sebagai “kiri” tanpa mencoba memahami kenapa label itu muncul.
Padahal jika dilihat lebih dalam, ideologi hanyalah permukaan. Yang lebih penting adalah struktur yang menciptakan ketimpangan, yakni kekuasaan. Selama struktur itu tidak berubah, konflik akan terus terjadi, dengan nama yang berbeda-beda.
Pertanyaan sebenarnya bukan apakah buruh itu kiri atau tidak. Pertanyaannya adalah, kenapa dari tahun 1760 sampai hari ini, posisi buruh selalu berada di titik yang sama? @tabooo





