Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan, dan perebutan narasi sejarah.
Tabooo.id – Ada satu kata yang sampai hari ini masih membuat banyak orang menurunkan volume suara saat mengucapkannya: sosialisme.
Sebagian besar orang tidak takut karena memahami gagasannya. Mereka takut karena hanya mengenal bayangan yang diwariskan selama puluhan tahun.
Negara membingkai sosialisme sebagai ancaman melalui buku pelajaran, film propaganda, dan pidato politik. Akibatnya, beberapa generasi tumbuh dengan keyakinan bahwa sosialisme adalah sesuatu yang berbahaya bahkan sebelum mereka sempat mempelajarinya.
Padahal sejarah menyimpan cerita yang jauh lebih rumit.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, banyak tokoh pergerakan berdialog dengan gagasan sosialisme. Mereka mempelajari konsepnya, memperdebatkan arahnya, lalu memanfaatkannya untuk membaca ketidakadilan yang lahir dari kolonialisme.
Pertanyaan penting kemudian muncul.
Bagaimana sebuah gagasan yang pernah ikut menggerakkan perlawanan anti-kolonial berubah menjadi kata yang nyaris terlarang?
Awal Mula Sebuah Gagasan
Jejaknya dapat ditelusuri ke tahun 1914.
Sekelompok sosialis Belanda mendirikan ISDV di Hindia Belanda. Salah satu tokoh pentingnya adalah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet yang melihat kolonialisme bukan hanya sebagai penjajahan politik, tetapi juga sebagai mesin ekonomi yang menguntungkan elite Eropa.
Pandangan itu membedakan ISDV dari banyak organisasi pergerakan lain pada masanya.
Alih-alih hanya berbicara tentang bangsa, kelompok ini juga mengangkat isu kelas sosial, ketimpangan ekonomi, dan eksploitasi tenaga kerja. Melalui berbagai penerbitan dan aktivitas politik, para aktivis ISDV menyebarkan gagasan tersebut ke kalangan pergerakan pribumi.
Ketika Sosialisme Bertemu Massa
Perubahan besar terjadi saat ide-ide sosialisme masuk ke organisasi rakyat.
Serikat Islam menjadi salah satu ruang paling penting dalam proses itu. Dari organisasi inilah lahir tokoh-tokoh seperti Semaun, Darsono, dan Alimin yang kemudian memainkan peran besar dalam perkembangan gerakan kiri Indonesia.
Pada saat yang hampir bersamaan, Revolusi Rusia 1917 mengguncang dunia.
Gelombang peristiwa itu mencapai Hindia Belanda. Banyak pemimpin pergerakan mulai membaca karya Karl Marx dan Friedrich Engels. Perdebatan mengenai keadilan sosial, kemerdekaan ekonomi, dan kesetaraan manusia berkembang semakin luas.
Masa itu tidak hanya melahirkan nasionalisme.
Ruang politik Indonesia juga menjadi arena pertarungan berbagai gagasan besar tentang masa depan masyarakat.
Dari Perdebatan Menjadi Ketakutan
Sejarah kemudian membawa sosialisme ke persimpangan yang rumit.
ISDV berubah menjadi PKI pada tahun 1920. Sesudah itu, berbagai kelompok mulai berdebat mengenai strategi politik, hubungan dengan gerakan nasionalis, dan arah perjuangan kemerdekaan.
Perbedaan pandangan semacam itu sebenarnya lazim dalam hampir semua gerakan politik besar.
Situasi berubah drastis setelah tragedi 1965.
Peristiwa tersebut tidak hanya menghancurkan sebuah partai politik. Tragedi itu juga mengubah cara masyarakat memandang satu spektrum gagasan secara keseluruhan.
Sejak masa itu, publik sering menyamakan sosialisme, komunisme, dan PKI sebagai satu kesatuan. Nuansa sejarah menghilang. Ruang diskusi menyempit. Ketakutan menggantikan perdebatan.
Pertarungan Memori
Kekuasaan selalu memahami satu hal penting.
Menghapus organisasi jauh lebih mudah daripada mengendalikan ingatan.
Karena alasan itulah banyak rezim berusaha menguasai sejarah.
Narasi resmi Orde Baru memperkenalkan sosialisme hampir semata-mata dari sisi yang paling gelap. Pada saat yang sama, ruang publik makin jarang membahas kontribusi banyak tokoh kiri dalam perjuangan anti-kolonial, organisasi buruh, pendidikan politik rakyat, dan gerakan kemerdekaan.
Dampaknya masih terasa sampai sekarang.
Publik mengenal ketakutannya, tetapi tidak mengenal seluruh latar belakang sejarahnya.
Ini Bukan Sekadar Ideologi
Ironi muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian masyarakat menolak sosialisme sebagai istilah politik. Pada saat yang sama, mereka mendukung keadilan sosial, pendidikan yang terjangkau, layanan kesehatan yang merata, dan perlindungan hak-hak buruh.
Kontradiksi itu menunjukkan sesuatu yang menarik.
Yang sering ditolak bukan selalu substansi gagasannya. Stigma yang menempel selama puluhan tahun justru lebih sering memengaruhi cara orang memandangnya.
Di titik inilah diskusi menjadi lebih penting.
Mengapa kekayaan terus terkonsentrasi pada segelintir orang,
Kenapa ketimpangan selalu muncul kembali dalam hampir setiap krisis?
Mengapa kelompok pekerja, petani, dan masyarakat rentan terus memikul beban paling besar?
Pertanyaan-pertanyaan itu tetap hidup meskipun banyak orang menghindari kata sosialisme.
Sejarah Tidak Pernah Mati
Tulisan ini tidak mengajak pembaca menerima atau menolak sosialisme.
Tujuan utamanya jauh lebih sederhana.
Kita perlu membaca sejarah secara utuh.
Bangsa yang percaya diri tidak takut meninjau kembali masa lalunya. Bangsa yang matang juga mampu membedakan penelitian sejarah dari propaganda politik.
Pada akhirnya, perdebatan ini tidak hanya berbicara tentang sosialisme.
Perdebatan ini berbicara tentang siapa yang berhak menentukan cerita masa lalu.
Ketika satu kelompok menguasai narasi sejarah, generasi berikutnya mungkin masih mengenal faktanya. Namun mereka sering kehilangan konteks yang membuat fakta itu bermakna.
Karena itulah beberapa gagasan terus bertahan meskipun banyak pihak berusaha menyingkirkannya.
Orang bisa melarang simbol.
Penguasa bisa membatasi diskusi.
Namun pertanyaan yang melahirkan sebuah gagasan selalu menemukan jalan untuk kembali. @dimas







