Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Buruh Tolak Omnibus Law: Sekadar Demo atau Tanda Krisis Sistem?

by Tabooo
April 24, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Rencana aksi buruh tolak Omnibus Law kembali memanas menjelang May Day 2026. Gelombang aksi ini bukan sekadar demonstrasi tahunan, tapi sinyal bahwa konflik antara kebijakan ekonomi dan perlindungan pekerja belum benar-benar selesai.

Tabooo.id: Nasional – Gelombang aksi buruh kembali naik. Dan kali ini, skalanya tidak kecil.

Menjelang 1 Mei 2026, ratusan ribu buruh bersiap turun ke jalan dalam aksi serentak di 38 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota. Ini bukan sekadar peringatan tahunan. Ini konsolidasi nasional.

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, sudah memastikan arah gerakan ini.

“Aksi ini adalah aksi konstitusional, damai, dan tertib. Kami pastikan seluruh peserta menjaga disiplin dan tidak melakukan tindakan anarkis,” jelasnya melalui keterangan tertulis, Senin (6/4/2026) lalu.

Namun di balik kata “damai”, tekanannya jelas.

Ini Belum Selesai

77 Ribu Calon Siswa Belum Tertampung Sekolah Negeri Jabar Cari Solusi

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Ini Bukan Sekadar Aksi. Ini Tekanan Terbuka

Di Jabodetabek saja, sekitar 50.000 buruh akan memusatkan aksi di depan Gedung DPR RI mulai pukul 10.00 WIB. Sementara itu, di daerah lain, buruh akan menggelar aksi di kantor gubernur hingga DPRD.

Said menegaskan bahwa skala aksi ini bukan kebetulan.

Ia menyebut ratusan ribu buruh dari seluruh Indonesia akan ikut dalam peringatan May Day 2026 bersama KSPI dan organisasi pelanjut Partai Buruh.

Namun pesan paling keras justru muncul dari tuntutan yang mereka bawa.

“Kalau tuntutannya sama seperti tahun lalu, artinya pemerintah tidak serius menyelesaikan masalah buruh. Ini bukan sekadar kritik, ini alarm,” ungkap Said.

Persoalannya: UU Baru, Outsourcing, dan PHK

Isu utama yang mereka bawa langsung menyasar jantung kebijakan.

Pertama, mereka mendesak pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan baru, bukan sekadar revisi Omnibus Law.

Said menegaskan bahwa Mahkamah Konstitusi sudah memberi waktu dua tahun untuk menyusun regulasi baru.

“Kurang dari enam bulan menuju batas waktu, tapi belum ada progres nyata. Ini jelas pelanggaran konstitusi,” tegasnya.

Bahkan, KSPI dan Partai Buruh sudah menyerahkan konsep RUU setebal 700 halaman yang memuat prinsip job security, income security, dan social security.

Sistem Kerja Jadi Target Utama

Isu kedua langsung menyentuh realitas pekerja.

Buruh menolak sistem outsourcing dan kebijakan upah murah yang semakin menguat dalam praktik Omnibus Law.

“Kami hanya mengingatkan janji Presiden. Outsourcing itu membuat buruh tidak punya masa depan. Bisa di-PHK kapan saja, tanpa kepastian kerja,” ujarnya.

Masalahnya tidak berhenti di situ.

Ancaman PHK juga menjadi sorotan serius.

“PHK itu bukan lagi ancaman, tapi sudah di depan mata. Banyak perusahaan sudah memberi sinyal akan melakukan efisiensi,” katanya.

Pajak, PRT, dan Korupsi Ikut Diseret

Aksi ini tidak hanya bicara soal buruh formal.

Said juga menyoroti reformasi pajak dengan tuntutan menaikkan PTKP dari Rp4,5 juta menjadi Rp7,5 juta.

“Kalau PTKP naik, buruh punya ruang untuk menabung dan belanja. Konsumsi naik, ekonomi juga ikut bergerak,” jelasnya.

Selain itu, buruh mendesak pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

“Pekerja rumah tangga adalah kelompok paling rentan. Mereka butuh perlindungan hukum sekarang, bukan janji,” tegasnya.

Dan satu lagi, mereka juga membawa isu besar lain.

“Ini juga janji yang pernah disampaikan. Kami akan terus dorong agar segera disahkan,” ujar Said, terkait RUU Perampasan Aset.

Pra-May Day Sudah Dimulai

Tekanan tidak dimulai pada 1 Mei. Pada 16 April 2026, sekitar 5.000 buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) akan menggelar aksi Pra-May Day di depan DPR RI.

Ini menjadi sinyal awal bahwa konflik akan terus meningkat menjelang puncaknya.

Pengamat Hukum: Konflik Ini Lebih Dalam

Pengamat hukum, Jery Satria B. P., S. H., melihat situasi ini bukan sekadar dinamika aksi jalanan.

“Masalahnya bukan pada konsep omnibus law itu sendiri, tapi pada implementasinya yang cenderung mengorbankan perlindungan konstitusional pekerja demi percepatan investasi,” jelas Head of Legal PT Tabooo Network Indonesia tersebut, Jumat (24/4/2026).

Ia menilai konflik ini menunjukkan benturan dua arah kebijakan.

“Di satu sisi ada dorongan pertumbuhan ekonomi, tapi di sisi lain ada kewajiban negara untuk melindungi hak warga. Ketika dua ini tidak seimbang, konflik seperti ini pasti muncul,” tegasnya.

Omnibus Law Memang Bertujuan Mempercepat Investasi

Jika ditarik lebih jauh, konflik ini bukan peristiwa baru.

Sejak awal, pemerintah menerapkan Omnibus Law untuk mempercepat investasi dengan menyederhanakan regulasi. Namun dalam prosesnya, kebijakan ini ikut mengurangi banyak perlindungan tenaga kerja.

Akibatnya, ketegangan tidak pernah benar-benar hilang.

Setiap tahun, isu yang sama muncul kembali. Dan setiap tahun, buruh kembali turun ke jalan.

Semua Merasakan Efeknya

Dampaknya tidak hanya menyentuh buruh pabrik.

Ketika perusahaan membuat sistem kerja lebih fleksibel, kepastian kerja langsung melemah. Ketika pengusaha menekan biaya tenaga kerja, daya tawar pekerja ikut turun.

Artinya, siapa pun yang bekerja, akan merasakan efeknya.

Sinyal Ketegangan Struktural

Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar aksi tahunan.

Ini sinyal bahwa ada ketegangan struktural yang belum terselesaikan.

Dan selama kebijakan ekonomi terus berbenturan dengan realitas pekerja, konflik seperti ini tidak akan berhenti.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah buruh akan turun ke jalan. Tapi, apakah pemerintah benar-benar akan menjawab tuntutan mereka, atau konflik ini akan kembali terulang tahun depan? @tabooo

Tags: buruh IndonesiaDemo BuruhKSPIMay Day 2026NewsOutsourcingPHKSaid Iqbal

Kamu Melewatkan Ini

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

by Tabooo
Mei 21, 2026

Spanduk bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” muncul di Bundaran UGM, Yogyakarta. Isinya mengkritik pemerintahan Prabowo-Gibran dan sempat mencuri perhatian pengguna jalan...

Next Post
Bukan Cuma Tarik Uang: Saat Hujan, Tukang Parkir Ini Bekerja Lebih

Bukan Cuma Tarik Uang: Saat Hujan, Tukang Parkir Ini Bekerja Lebih

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id