Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

74 Kg Emas di Sentul, Brankas Rahasia di Cipete: Dugaan Korupsi BUMN Makin Berbau Besar

by Tabooo
Juli 10, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
74 Kg Emas di Sentul menjadi temuan paling mencolok dalam penggeledahan rumah mewah terkait dugaan korupsi besar BUMN. Namun, ketika brankas rahasia di Cipete juga menyimpan uang puluhan miliar, kasus ini mulai terlihat bukan sekadar soal barang bukti, tapi peta gelap aliran uang.

Tabooo.id: Jakarta – Polisi membuka satu lagi lapisan gelap dalam pengusutan dugaan korupsi besar yang menyeret isu batu bara PLN, ASABRI, Jiwasraya, dan Krakatau Steel.

Bukan cuma dokumen. Bukan cuma handphone. Kali ini, penyidik menemukan emas batangan 74 kilogram dan uang asing dalam penggeledahan sebuah rumah mewah di kawasan Sentul, Bogor, Rabu (8/7/2026). Temuan itu disebut berkaitan dengan dugaan korupsi, tindak pidana pencucian uang, suap, dan gratifikasi.

“Iya betul, ditemukan emas dan uang. Perkiraan ratusan miliar rupiah,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (8/7/2026).

Saat Rumah Mewah Menyimpan Jawaban yang Tidak Mewah

Dalam penggeledahan rumah di Sentul itu, polisi kembali menemukan brankas di balik pintu tersembunyi. Di dalamnya, penyidik menemukan emas batangan seberat 74 kilogram serta uang dalam pecahan dollar Singapura dan dollar Amerika Serikat.

Uang dan emas itu tersimpan di dalam koper. Setelah itu, penyidik membawa barang bukti tersebut untuk dihitung lebih lanjut. Berdasarkan dokumentasi yang beredar, beberapa uang juga tampak tersimpan dalam amplop kertas.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Dalam salah satu koper, terlihat sejumlah dustbag dengan logo merek fashion ternama, Louis Vuitton. Dari ujung salah satu dustbag, tampak tumpukan uang lainnya.

Namun, Budi belum menjelaskan siapa pemilik rumah tersebut saat ditanya.

Di titik ini, publik tidak hanya melihat angka. Publik melihat pola lama yang terlalu sering muncul dalam kasus korupsi: uang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Brankas Rahasia di Kafe, Uang Asing, dan Dinding yang Tiba-Tiba Bicara

Sebelum temuan di Sentul, penyidik juga menyita uang sekitar Rp60 miliar dari kafe De’Clan Signature di Cipete, Jakarta Selatan. Di lokasi lain, yakni money changer di Cipete, polisi menyita uang sekitar Rp7,2 miliar.

Dalam penggeledahan di kafe De’Clan Signature, polisi menemukan brankas besar tersembunyi di balik dinding. Sejumlah petugas tampak menggeser lemari kayu yang menempel di dinding kafe. Setelah lemari dipindahkan, brankas berwarna hitam terlihat tertanam di balik dinding.

“Tadi mungkin juga sudah ada ya dokumentasi tentang brankas yang ini. Ya memang itu terselubung di balik satu lemari, ada suatu brankas dan ini sudah dibuka,” kata Budi Hermanto di lokasi penggeledahan.

Kakortas Tipikor Polri, Irjen Totok Suharyanto, mengatakan penyidik menyita dokumen, barang elektronik, handphone, serta uang tunai dalam beberapa mata uang. Dari lokasi De’Clan, polisi menyebut ada SGD 3.130.000, USD 889.965, dan uang tunai Rp259.159.000. Jika dikonversi, nilainya mendekati Rp60 miliar.

“Untuk penggeledahan di lokasi The Club, jadi untuk penggeledahan di lokasi The Club kita telah melakukan penyitaan beberapa dokumen dan beberapa elektronik termasuk handphone,” ujar Totok.

Kasusnya Banyak, Tapi Polanya Terlihat Satu

Penggeledahan ini terkait penyidikan dugaan tindak pidana korupsi, pencucian uang, dan suap oleh sejumlah pihak.

“Penggeledahan ini dilakukan terkait penyidikan dua laporan polisi, tentang dugaan tindak pidana korupsi dan atau tindak pidana pencucian uang serta dugaan tindak pidana suap,” kata Dirreskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Victor Dean Mackbon.

Mackbon merinci, dua laporan tersebut berkaitan dengan proses penanganan hukum PT ASABRI dan Asuransi Jiwasraya dalam kurun waktu 2020 sampai 2025.

Selain itu, penggeledahan juga berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dan TPPU dalam proses penyelesaian uang PT CBS kepada PT KNI, anak perusahaan Krakatau Steel, oleh penyelenggara negara dalam kurun waktu yang sama.

Totok juga menyebut penyidikan dilakukan melalui skema joint investigation antara Kortas Tipikor Polri dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Perkara yang ditangani mencakup dugaan korupsi batu bara PLN, proses hukum ASABRI, serta dugaan korupsi dalam penyelesaian utang PT CBS kepada PT KNI periode 2020–2025.

Blackout PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel Masuk Satu Peta Pengusutan

Kasus blackout PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel merupakan objek perkara yang berbeda. Namun, polisi mengusutnya secara bersamaan karena menduga ada keterhubungan melalui aliran dana suap, gratifikasi, dan pencucian uang.

Pada kasus PLN, penyidik menelusuri dugaan korupsi pengadaan batu bara untuk sejumlah PLTU. Dugaan penyelewengan kualitas batu bara disebut berkaitan dengan gangguan listrik massal atau blackout di wilayah Sumatera beberapa waktu lalu.

Pada perkara ASABRI dan Jiwasraya, penyidik membidik dugaan korupsi dan TPPU dalam proses penanganan hukum perkara pada periode 2020 sampai 2025.

Sementara itu, pada perkara Krakatau Steel, penyidik menelusuri dugaan penyimpangan dalam proses penyelesaian utang atau kewajiban PT CBS kepada PT KNI.

Masalahnya, ketika tiga perkara besar bertemu di jalur uang yang sama, publik wajar bertanya: ini sekadar kasus berbeda, atau satu ekosistem gelap yang saling terhubung?

Saat IPW Menyebut Nama Besar di Lingkaran Penegak Hukum

Indonesia Police Watch atau IPW menilai penggeledahan yang dilakukan Kortastipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya menarik perhatian karena diduga berkaitan dengan rangkaian perkara yang saling berhubungan.

“Penggeledahan yang dilakukan melalui joint committee antara Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya menarik perhatian karena diduga berkaitan dengan rangkaian perkara yang saling berhubungan,” ujar Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Menurut Sugeng, salah satu lokasi yang digeledah adalah kafe De’Clan Signature di Cipete, Jakarta Selatan. IPW mensinyalir kafe itu berkaitan dengan Febrie Adriansyah, yang saat ini menjabat Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI.

“Hal ini sangat menarik karena penggeledahan tersebut melibatkan joint committee antara Kortastipidkor Polri dan penyidik Polda Metro Jaya. Pertanyaannya, sesungguhnya mereka sedang menyelidiki perkara apa?” ujar Sugeng.

IPW juga mengaitkan penggeledahan tersebut dengan perkara yang pernah ditangani Polda Metro Jaya terhadap Feriyanto Hong Keriwang. Dalam catatan IPW, Feriyanto pernah diperiksa dalam penyidikan yang berawal dari laporan dugaan penganiayaan dan penyekapan terhadap seorang anggota Densus 88 setelah yang bersangkutan diduga melakukan penguntitan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh IPW, saat pemeriksaan berlangsung muncul keterangan yang menyebut Feriyanto Hong Keriwang diduga berperan sebagai perantara pengurusan perkara di Kejaksaan Agung, khususnya perkara yang ditangani Jampidsus.

“IPW juga menduga terdapat aliran dana dalam jumlah besar dari praktik tersebut. Bahkan, menurut Sugeng, salah satu perkara yang diduga dibrokeri adalah perkara Tankian,” katanya.

Namun, bagian ini tetap harus dibaca sebagai dugaan dan pernyataan IPW. Ia belum menjadi kesimpulan hukum. Dalam perkara sebesar ini, redaksi wajib membedakan mana fakta penyitaan, mana pernyataan lembaga pemantau, dan mana yang masih harus dibuktikan penyidik.

Rumah Jampidsus Dijaga Ketat TNI, Situasi Makin Panas

Sementara itu, rumah Jampidsus Febrie Adriansyah di Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mendadak dijaga ketat oleh puluhan prajurit TNI pada Rabu malam. Penjagaan itu terlihat bersamaan dengan munculnya isu akan adanya penggeledahan di rumah Febrie setelah polisi menggeledah kafe De’Clan Signature.

Prajurit TNI tampak berjaga di luar dan di dalam rumah. Beberapa terlihat berada di depan gerbang. Sebagian lain bergerombol di beberapa sudut luar rumah.

Namun, Mabes TNI kemudian menyatakan pengamanan tersebut dilakukan atas permintaan Kejaksaan Agung. TNI juga menyebut pengamanan itu mengacu pada Perpres Nomor 66 Tahun 2025 tentang perlindungan terhadap jaksa dalam menjalankan tugas, serta tidak berkaitan dengan isu penggeledahan Polri.

Klarifikasi itu penting. Sebab, tanpa penjelasan resmi, publik mudah membaca situasi ini sebagai benturan antarlembaga. Dan ketika aparat hukum saling berhadapan dalam isu korupsi besar, kepercayaan publik ikut dipertaruhkan.

Dari Balik Dinding, Publik Menunggu Jawaban

Temuan emas 74 kilogram, uang asing, brankas tersembunyi, dan lokasi penggeledahan yang tersebar membuat kasus ini terasa lebih besar dari sekadar penyitaan barang bukti.

Ini bukan cuma cerita tentang koper berisi emas. Ini cerita tentang bagaimana uang dugaan korupsi bisa bergerak dari proyek negara, proses hukum, tempat usaha, money changer, sampai rumah mewah.

Di sinilah masalahnya menjadi lebih serius. Jika dugaan ini terbukti, publik tidak hanya sedang melihat korupsi biasa. Publik sedang melihat dugaan pertemuan antara uang besar, perkara besar, dan akses kekuasaan.

Kalimat nyentilnya sederhana: korupsi paling berbahaya bukan yang bersembunyi di tempat gelap, tapi yang merasa cukup aman untuk menyimpan emas di balik tembok.

Kerugian Negara Selalu Kembali ke Rakyat

Kasus seperti ini bukan hanya urusan polisi, jaksa, dan pejabat. Dampaknya sampai ke hidup publik.

Jika dugaan korupsi batu bara benar memengaruhi kualitas pasokan listrik, rakyat ikut membayar lewat gangguan layanan. Dalam perkara BUMN, kerugian negara juga akhirnya kembali menjadi beban publik. Lebih berbahaya lagi, ketika proses hukum bisa dibarter, keadilan berubah menjadi barang dagangan.

Karena itu, pengusutan kasus ini harus terang. Bukan hanya soal siapa menyimpan uang. Tapi siapa memberi, siapa menerima, siapa melindungi, dan siapa selama ini pura-pura tidak tahu.

Publik tidak butuh drama institusi. Publik butuh jawaban. Sebab brankas bisa dibuka dalam hitungan jam. Tapi jaringan kekuasaan yang menyimpannya bisa jauh lebih sulit dibongkar. @tabooo

Tags: ASABRIFebrie AdriansyahGratifikasiIPWJampidsusJiwasrayaKortas Tipikor PolriKorupsi Batu BaraKorupsi BUMNKorupsi PLNKrakatau SteelNewsPolda Metro JayaRealityTPPU

Kamu Melewatkan Ini

Polri Tetapkan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sebagai Tersangka

Di Balik Kasus Febrie: Hukum atau Pertarungan Elite?

by dimas
Juli 16, 2026

Kasus Febrie Adriansyah memicu pertanyaan besar: murni penegakan hukum atau pertarungan elite? Transparansi kini menjadi taruhan kepercayaan publik. Tabooo.id -...

Negara Meminta Percaya, Tapi Momentum Memilih Bertanya

Negara Meminta Percaya, Tapi Momentum Memilih Bertanya

by dimas
Juli 15, 2026

Negara meminta publik percaya, tetapi penghentian pendataan MBG di tengah kasus Febrie justru memunculkan tanda tanya baru. Tabooo.id - Ada...

Kasus Febrie dan Penghentian Pendataan MBG, Mengapa Berbarengan?

Kasus Febrie dan Penghentian Pendataan MBG, Mengapa Berbarengan?

by dimas
Juli 14, 2026

Kasus Febrie dan penghentian pendataan MBG terjadi hampir bersamaan. Kebetulan atau sekadar momentum? Simak fakta dan penjelasan resminya. Tabooo.id -...

Next Post
TABOOO Cinema Lab: Belajar Mendengar Sebelum Merekam

TABOOO Cinema Lab: Belajar Mendengar Sebelum Merekam

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id