Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

May Day 2026: Perayaan atau Peringatan Keras untuk Pemerintah?

by eko
April 18, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: News – May Day 2026 tidak hanya meriah situasinya juga berpotensi panas. Ratusan ribu buruh dari berbagai daerah di Indonesia kini bersiap turun ke jalan pada 1 Mei untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Selain itu, mereka juga membawa tuntutan lama yang belum pemerintah selesaikan.

Alih-alih mengikuti seremoni resmi pemerintah, massa buruh yang dimotori Partai Buruh dan KSPI memilih memusatkan aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta. Setelah itu, mereka akan bergerak ke Istora Senayan untuk mengikuti agenda May Day Fiesta.

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menegaskan bahwa buruh memaknai May Day sebagai momentum perjuangan, bukan sekadar perayaan simbolis.

“Kami hanya akan melakukan aksi May Day di DPR RI, bukan di Monas. Karena bagi kami, May Day adalah perjuangan, bukan sekadar seremoni,” ujar Said Iqbal, Jumat (17/4/2026).

Buruh Tagih Janji Lama yang Belum Tuntas

Said Iqbal menilai pemerintah masih menyisakan enam janji dari May Day 2025 yang belum mereka wujudkan hingga saat ini. Karena itu, buruh memutuskan untuk kembali turun ke jalan.

Beberapa tuntutan utama meliputi:

Ini Belum Selesai

Modus Miras Gelasan Terbongkar di Solo

OTT KPK: Bupati Lombok Barat Terseret Korupsi Rp9,06 Miliar

  • Pengesahan RUU Ketenagakerjaan
  • Penghapusan sistem outsourcing
  • Reformasi pajak THR dan bonus tahunan

Pemerintah sempat mengundang buruh untuk merayakan May Day di Monas bersama presiden. Namun, Said Iqbal menegaskan bahwa ia hanya akan hadir jika pemerintah membuka ruang dialog langsung untuk membahas janji yang macet tersebut.

Di sisi lain, KSPI juga menolak bergabung dalam struktur Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional (DKBN) dan Satgas PHK yang baru pemerintah bentuk. Mereka menilai proses pembentukan lembaga itu tidak transparan.

“Kalau hasil musyawarah saja tidak dihormati, bagaimana lembaga itu bisa berjalan dengan baik?” sindir Said Iqbal.

Ancaman PHK Menghantui Dunia Industri

Sementara itu, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terasa di berbagai sektor industri. Akibatnya, kekhawatiran buruh terhadap masa depan pekerjaan terus meningkat.

Laporan lapangan menunjukkan sekitar 9.000 buruh di sektor tekstil, otomotif, hingga petrokimia berpotensi kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan ke depan. Selain itu, sejumlah indikator juga menunjukkan tekanan industri yang semakin berat.

Beberapa data penting mencatat:

  • 65% perusahaan memilih tidak merekrut karyawan baru
  • 50% perusahaan menunda rencana ekspansi bisnis

Kenaikan harga BBM industri dan lonjakan harga bahan baku impor akibat konflik global terus mendorong kenaikan biaya produksi. Karena kondisi itu, banyak perusahaan mulai mencari cara untuk menekan biaya operasional.

“Kalau biaya produksi naik dari dua sisi BBM dan bahan baku maka perusahaan pasti melakukan efisiensi. Dan biasanya buruh yang pertama terkena dampaknya,” jelas Said Iqbal.

Tiga Langkah untuk Menahan Gelombang PHK

Untuk meredam potensi gelombang PHK, Partai Buruh mengajukan tiga langkah konkret kepada pemerintah. Langkah ini, menurut mereka, dapat menjaga stabilitas industri sekaligus melindungi pekerja.

Tiga langkah tersebut meliputi:

  1. Menahan kenaikan BBM industri selama minimal tiga bulan
  2. Menurunkan PPN dari 11% menjadi 9% atau 10%
  3. Menaikkan PTKP menjadi Rp7,5 juta per bulan

Selain menjaga daya beli masyarakat, Partai Buruh juga berharap kebijakan tersebut mampu memberi ruang bagi industri untuk bertahan di tengah tekanan biaya produksi.

May Day 2026 Bisa Jadi Alarm Ekonomi Nasional

May Day 2026 berpotensi menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Sebaliknya, aksi ini dapat berubah menjadi peringatan keras bagi pemerintah tentang kondisi ekonomi yang mulai menekan sektor tenaga kerja.

Melalui aksi tersebut, buruh ingin menunjukkan kegelisahan yang semakin nyata di lapangan. Jika pemerintah tidak segera merespons tuntutan tersebut, gelombang aksi berikutnya berpotensi tumbuh lebih besar.

Pada akhirnya, May Day tahun ini bukan hanya soal perayaan solidaritas buruh. Lebih dari itu, aksi ini bisa menjadi sinyal awal tentang tekanan ekonomi yang mulai terasa hingga ke tingkat pekerja.@eko

Tags: buruh Indonesiadaya beli masyarakatDPR RIHari Buruh 2026KSPIMay Day 2026OutsourcingPartai BuruhRUU KetenagakerjaanSaid Iqbal

Kamu Melewatkan Ini

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Yang Membuat Publik Gerah Bukan Kipas Angin, Tapi Transparansi Anggarannya

Yang Membuat Publik Gerah Bukan Kipas Angin, Tapi Transparansi Anggarannya

by teguh
Juli 17, 2026

Kipas angin seharusnya mengusir gerah. Namun kali ini, justru kabar pengadaannya yang membuat ruang publik terasa semakin panas. Tabooo.id -...

Heboh Kipas Angin Rp1,8 Triliun, Agrinas Tantang DPR Buka Data

Heboh Kipas Angin Rp1,8 Triliun, Agrinas Tantang DPR Buka Data

by teguh
Juli 17, 2026

Polemik dugaan pengadaan 1,8 juta kipas angin senilai Rp1,8 triliun untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) terus bergulir. Isu...

Next Post
Dari Tragedi ke Gelar Pahlawan: Sejarah Marsinah yang Belum Tuntas

Dari Tragedi ke Gelar Pahlawan: Sejarah Marsinah yang Belum Tuntas

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id