Jauh sebelum serikat buruh lahir, para nabi telah berdiri di sisi pekerja, melawan eksploitasi, menuntut keadilan, dan memuliakan martabat manusia.
Tabooo.id – Suara palu menghantam kayu. Debu menempel di telapak tangan. Keringat menetes sebelum matahari tenggelam.
Pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Namun, di baliknya tersimpan satu kisah panjang tentang kerja, martabat, dan perjuangan manusia. Jauh sebelum serikat buruh lahir dan Hari Buruh diperingati setiap 1 Mei, para tokoh agama sudah berbicara tentang hak pekerja dan keadilan sosial.
Menariknya, banyak nabi dan tokoh suci tidak tumbuh di istana. Mereka hidup di tengah masyarakat pekerja. Mereka menggembala ternak, berdagang, membuat perabot kayu, hingga memimpin perlawanan terhadap penindasan.
Karena itu, sejarah agama juga menyimpan sejarah panjang tentang keberpihakan kepada kaum pekerja.
Nabi Muhammad: Menghormati Keringat Manusia
Di tengah masyarakat Arab yang masih mengenal perbudakan dan ketimpangan sosial, Nabi Muhammad SAW membawa pandangan yang berbeda tentang kerja.
Beliau menegaskan bahwa pekerja memiliki hak yang wajib dihormati. Salah satu hadis yang paling terkenal berbunyi:
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.”
Pesan itu sederhana, tetapi dampaknya besar. Nabi Muhammad menempatkan upah bukan sebagai belas kasihan majikan, melainkan sebagai hak yang harus dipenuhi. Banyak kajian ekonomi Islam menjadikan hadis tersebut sebagai fondasi etika hubungan kerja dan perlindungan hak buruh.
Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad pernah menggembala kambing dan berdagang. Pengalaman itu membuat beliau memahami kerasnya kehidupan pekerja dari dekat. Karena itu, beliau tidak hanya mengajarkan keadilan, tetapi juga merasakan langsung realitas yang dihadapi kaum pekerja.
Beliau juga melarang perlakuan yang merendahkan pekerja. Sebaliknya, beliau mendorong masyarakat untuk memperlakukan pekerja sebagai sesama manusia yang memiliki martabat yang sama.
Nabi Musa: Melawan Sistem Kerja Paksa
Jika Nabi Muhammad mengajarkan penghormatan terhadap pekerja, Nabi Musa AS menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan.
Dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi, Musa memimpin Bani Israil keluar dari Mesir setelah bertahun-tahun hidup di bawah kekuasaan Firaun. Mereka tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga menjalani kerja paksa yang berat dan tidak manusiawi.
Kisah ini tidak berhenti sebagai cerita keagamaan. Banyak gerakan sosial dan gerakan buruh modern melihat perjuangan Musa sebagai simbol pembebasan dari sistem yang menindas manusia demi kepentingan kekuasaan.
Di balik kisah Eksodus, tersimpan satu pesan penting: manusia tidak boleh hidup hanya sebagai alat produksi.
Santo Yusuf: Kesucian dalam Dunia Kerja
Di kota kecil Nazaret, seorang tukang kayu bekerja setiap hari untuk menghidupi keluarganya.
Ia bukan penguasa. Ia bukan panglima perang. Ia hanya seorang pekerja biasa.
Namun justru karena itulah Santo Yusuf mendapat tempat istimewa dalam tradisi Katolik.
Sebagai tukang kayu, Santo Yusuf menunjukkan bahwa kerja bukan sekadar cara mencari nafkah. Kerja juga menjadi sarana menjaga martabat dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga serta masyarakat.
Pada tahun 1955, Paus Pius XII menetapkan 1 Mei sebagai Hari Raya Santo Yusuf Pekerja. Keputusan itu memperkuat pesan bahwa dunia kerja memiliki nilai spiritual yang luhur.
Pandangan tersebut kemudian berkembang dalam ajaran sosial Katolik yang menegaskan hak pekerja atas upah layak, perlindungan sosial, dan kebebasan membentuk serikat pekerja.
Nabi Syuaib: Mengkritik Keserakahan Ekonomi
Nabi Syuaib AS menghadapi masyarakat yang gemar mengurangi timbangan dan mengambil keuntungan dengan cara tidak jujur.
Beliau menentang praktik tersebut secara terbuka. Ia mengingatkan bahwa keuntungan yang lahir dari kecurangan hanya akan melahirkan ketidakadilan.
Pesan Nabi Syuaib tetap relevan hingga sekarang. Dunia kerja modern masih menghadapi persoalan serupa, mulai dari manipulasi upah hingga eksploitasi tenaga kerja.
Melalui dakwahnya, Syuaib menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan hak manusia.
Umar bin Khattab: Mengawasi Keadilan dari Dekat
Sebagai khalifah, Umar bin Khattab RA tidak hanya memimpin dari pusat pemerintahan.
Ia turun langsung ke pasar. Ia memeriksa praktik perdagangan. Ia memastikan masyarakat tidak mengalami penindasan ekonomi.
Umar memandang negara sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar pengelola kekuasaan. Karena itu, ia berusaha menjaga agar kekayaan tidak berputar hanya di kalangan elite.
Prinsip tersebut terasa dekat dengan gagasan negara kesejahteraan modern yang menempatkan perlindungan sosial sebagai tanggung jawab bersama.
Ini Bukan Sekadar Kisah Masa Lalu
Ketika kita menyandingkan kisah-kisah itu, muncul satu benang merah yang kuat.
Muhammad membela hak pekerja.
Musa melawan kerja paksa.
Syuaib mengkritik kecurangan ekonomi.
Yusuf memuliakan kerja sebagai panggilan hidup.
Umar mengawasi agar kekuasaan tidak menindas rakyat kecil.
Mereka hidup dalam zaman yang berbeda. Mereka menghadapi situasi yang berbeda. Namun mereka berhadapan dengan masalah yang sama: ketimpangan kekuasaan yang menghilangkan martabat manusia.
Inilah yang membuat kisah mereka tetap relevan.
Sejarah agama ternyata tidak hanya berbicara tentang ibadah, surga, atau keselamatan spiritual. Sejarah agama juga berbicara tentang upah yang adil, kerja yang manusiawi, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Di tengah gelombang PHK, meningkatnya kerja kontrak, dan kesenjangan ekonomi yang terus melebar, pesan itu terasa semakin dekat.
Karena pada akhirnya, setiap peradaban selalu menghadapi pertanyaan yang sama, ketika hak pekerja terancam, siapa yang berani berdiri di sisi mereka? @dimas







