G30S dan PKI bukan hanya soal tragedi 1965. Ini adalah kisah tentang bagaimana kekuasaan membentuk sejarah, mengelola ketakutan, dan mengarahkan ingatan kolektif bangsa.
Tabooo.id – Ada kata-kata tertentu yang mampu menghidupkan ketakutan bahkan sebelum seseorang memahami maknanya. Di Indonesia, salah satunya adalah PKI.
Bagi banyak orang, termasuk saya, PKI bukan sekadar nama partai politik yang pernah berdiri di negeri ini. Kata itu langsung memunculkan bayangan tentang pengkhianatan, pembunuhan, dan kekejaman. Sejak sekolah dasar, guru, buku pelajaran, televisi, hingga film sejarah menanamkan gambaran yang sama berulang kali.
Ketika memasuki lingkungan pesantren, keyakinan itu semakin kuat. Saat suhu politik memanas menjelang pemilu, berbagai tuduhan tentang kebangkitan PKI bermunculan. Isu tersebut beredar dari mimbar ke mimbar, dari grup pesan singkat ke media sosial. Banyak orang menerimanya sebagai kebenaran tanpa pernah memeriksa ulang asal-usul narasi itu.
Namun seiring waktu, sebuah pertanyaan mulai muncul.
Komunisme yang Selalu Dianggap Hantu
Banyak orang memandang komunisme sebagai ancaman sebelum memahami apa sebenarnya ideologi tersebut.
Komunisme lahir dari gagasan filsuf Jerman, Karl Marx, yang menyaksikan ketimpangan besar pada masa Revolusi Industri. Saat itu, pemilik modal menguasai alat produksi, sementara buruh bekerja dalam kondisi yang sering kali tidak manusiawi.
Marx melihat konflik antara kelas pekerja dan pemilik modal sebagai motor perubahan sejarah. Dari pengamatan itu lahir gagasan tentang masyarakat tanpa kelas sosial dan kepemilikan bersama atas alat produksi.
Kemudian, Vladimir Lenin mengembangkan pemikiran tersebut menjadi gerakan politik yang berhasil merebut kekuasaan di Rusia pada 1917. Revolusi itu melahirkan Uni Soviet dan menjadikan komunisme sebagai salah satu kekuatan politik terbesar abad ke-20.
Sebagian masyarakat melihat komunisme sebagai jalan menuju kesetaraan ekonomi. Di sisi lain, banyak negara menilainya sebagai pintu masuk menuju pemerintahan yang otoriter.
Perdebatan itu berlangsung selama puluhan tahun di berbagai belahan dunia.
Indonesia memilih jalan yang berbeda. Di sini, kata “komunis” sering kali berfungsi sebagai cap politik, bukan bahan diskusi intelektual.
Dari Sarekat Islam ke Partai Komunis
Awal abad ke-20 menjadi titik masuk gagasan komunisme ke Hindia Belanda.
Perkembangan berikutnya melahirkan Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Partai ini bergerak agresif membangun dukungan di kalangan petani, buruh, dan masyarakat miskin. Mereka menawarkan janji perubahan sosial di tengah ketimpangan ekonomi yang masih lebar.
Hasilnya terlihat jelas pada Pemilu 1955.
PKI berhasil meraih sekitar 16 persen suara nasional dan menjelma menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia.
Fakta ini penting untuk diingat. Jauh sebelum masyarakat mengenalnya sebagai musuh negara, jutaan warga Indonesia pernah memberikan dukungan politik kepada partai tersebut melalui mekanisme demokrasi.
Satu Malam yang Mengubah Sejarah
Malam 30 September 1965 mengubah segalanya.
Sekelompok pasukan menculik dan membunuh tujuh perwira tinggi Angkatan Darat. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S.
Dalam waktu singkat, opini publik bergerak ke satu arah.
PKI segera muncul sebagai tersangka utama.
Militer, media, dan berbagai saluran informasi menyebarkan narasi yang menggambarkan PKI sebagai pelaku tunggal di balik tragedi tersebut. Masyarakat lalu mengenal cerita tentang penyiksaan sadis, pencungkilan mata, hingga berbagai tindakan yang dianggap melampaui batas kemanusiaan.
Narasi itu menyebar sangat cepat.
Masalahnya, sejumlah penelitian dan laporan forensik yang muncul kemudian tidak menemukan banyak bukti yang mendukung cerita-cerita paling ekstrem tersebut.
Di sinilah perdebatan sejarah mulai muncul.
Sebagian peneliti mempertanyakan detail yang selama puluhan tahun dianggap fakta. Sebagian lain tetap mempertahankan versi resmi yang berkembang pada masa Orde Baru.
Perbedaan pandangan itu menunjukkan satu hal penting: sejarah tidak selalu sesederhana yang terlihat dalam buku pelajaran.
Ketika Pemenang Menulis Ingatan
Setelah G30S terjadi, Soeharto bergerak cepat mengendalikan narasi publik.
Media yang dekat dengan militer mempublikasikan berbagai kisah mengenai kebiadaban PKI. Sekolah mengajarkan versi sejarah yang sama. Film wajib tahunan memperkuat gambaran tersebut di benak masyarakat.
Generasi demi generasi tumbuh dengan satu cerita yang nyaris tidak memiliki ruang untuk diperdebatkan.
Akibatnya, banyak orang menerima sejarah sebagai sesuatu yang selesai, bukan sebagai ruang kajian yang terus berkembang.
Padahal sejumlah sejarawan menawarkan berbagai kemungkinan lain mengenai aktor dan kepentingan di balik G30S. Mereka tidak selalu sampai pada kesimpulan yang sama. Namun hampir semuanya sepakat bahwa peristiwa tersebut jauh lebih kompleks daripada narasi hitam-putih yang selama ini beredar.
Tragedi yang Tenggelam di Balik Tragedi
Publik terus mengingat tujuh jenderal yang gugur pada malam G30S.
Sayangnya, perhatian yang sama jarang diberikan kepada korban yang berjatuhan setelahnya.
Gelombang kekerasan merebak di berbagai daerah sejak akhir 1965. Aparat, kelompok sipil, dan massa anti-komunis memburu orang-orang yang mereka anggap terkait dengan PKI.
Banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.
Ribuan orang mendekam di penjara tanpa proses pengadilan yang jelas.
Ratusan ribu lainnya kehilangan pekerjaan, hak politik, dan masa depan.
Sejumlah penelitian memperkirakan jumlah korban tewas mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta jiwa.
Angka itu menjadikan tragedi pasca-1965 sebagai salah satu pembunuhan massal terbesar abad ke-20.
Namun pembicaraan mengenai korban-korban tersebut sering muncul dalam ruang yang jauh lebih sempit dibandingkan narasi tentang G30S itu sendiri.
Hantu yang Terus Dipanggil
Uni Soviet runtuh pada 1991.
Sebagian besar negara komunis di dunia berubah arah.
Akan tetapi, isu PKI tetap hidup di Indonesia.
Setiap kali suhu politik meningkat, tuduhan tentang kebangkitan PKI kembali bermunculan. Lawan politik menerima cap komunis. Aktivis mendapat stigma serupa. Bahkan diskusi akademik tentang sejarah pun kadang memicu kecurigaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa PKI tidak lagi berfungsi sebagai organisasi politik.
Banyak pihak justru memanfaatkannya sebagai simbol ketakutan.
Ketika rasa takut berhasil menguasai ruang publik, orang tidak lagi fokus pada fakta. Mereka lebih sibuk mencari musuh yang sebenarnya belum tentu ada.
Ini Bukan Sekadar Soal PKI
Perdebatan tentang PKI sesungguhnya bukan hanya soal komunisme.
Persoalan yang lebih besar terletak pada cara sebuah bangsa mengingat masa lalunya.
Siapa yang berhak menulis sejarah?
Siapa yang menentukan cerita mana yang boleh dikenang?
dan siapa yang memutuskan korban mana yang layak mendapat ruang dalam ingatan kolektif?
Pertanyaan-pertanyaan itu masih relevan hingga hari ini.
Sebab sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Sejarah juga menentukan cara masyarakat memahami masa kini.
Inilah alasan mengapa pembahasan tentang PKI tidak pernah benar-benar selesai.
Ini bukan sekadar cerita tentang sebuah partai yang sudah lama bubar.
Ini adalah cerita tentang kekuasaan, ingatan, dan cara sebuah narasi membentuk kesadaran publik selama puluhan tahun.
Karena ketika sebuah bangsa hanya mendengar satu versi cerita, yang hilang bukan hanya fakta.
Yang hilang adalah kemampuan untuk bertanya. @dimas







