Perpecahan SI Merah dan SI Putih bukan sekadar konflik organisasi. Ini kisah tentang ideologi, kekuasaan, dan pola politik yang masih berulang hingga hari ini.
Tabooo.id – Di awal abad ke-20, Hindia Belanda sedang bergerak menuju sebuah zaman baru. Kaum bumiputra mulai mengenal organisasi, pendidikan modern, dan gagasan tentang perlawanan. Namun, di tengah semangat kebangkitan itu, sebuah benih perpecahan perlahan tumbuh. Bukan karena agama. Bukan pula karena suku. Melainkan karena ideologi.
Tahun 1913, seorang aktivis sosialis Belanda bernama Henk Sneevliet tiba di Hindia Belanda. Awalnya ia dikenal dekat dengan lingkungan mistik Katolik, tetapi kemudian bertransformasi menjadi tokoh sosial-demokrat revolusioner yang aktif dalam gerakan buruh. Setahun kemudian, ia mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) di Surabaya, organisasi yang kelak menjadi cikal bakal gerakan komunis di Indonesia.
Saat itu, ISDV belum memiliki basis massa pribumi yang kuat. Anggotanya didominasi orang-orang Belanda dan Indo-Eropa progresif. Namun, Sneevliet memahami satu hal penting: revolusi tidak mungkin lahir tanpa dukungan rakyat bumiputra.
Karena itulah ISDV mulai menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi pribumi yang sedang berkembang. Salah satunya adalah Insulinde. Tetapi perhatian terbesar mereka akhirnya tertuju kepada Sarekat Islam (SI), organisasi perdagangan dan pergerakan terbesar yang dimiliki rakyat Indonesia saat itu.
Ketika Sarekat Islam Menjadi Medan Perebutan Ideologi
Sarekat Islam lahir sebagai wadah ekonomi dan sosial bagi kaum pribumi. Organisasi ini awalnya bertujuan melindungi kepentingan pedagang pribumi dari dominasi ekonomi yang mereka rasakan dari kelompok pedagang yang lebih kuat saat itu.
Namun besarnya pengaruh SI membuat organisasi ini menjadi sasaran berbagai arus pemikiran politik.
ISDV masuk ke dalam tubuh Sarekat Islam. Di sinilah titik balik sejarah itu terjadi.
Perlahan, muncul dua kutub yang saling berhadapan.
Perbedaan itu mula-mula tampak sebagai perbedaan strategi. Namun lama-kelamaan berubah menjadi benturan ideologi.
Yang satu percaya perubahan dilakukan melalui musyawarah dan konsolidasi organisasi.
Yang lain percaya bahwa kaum tertindas membutuhkan perubahan yang lebih cepat dan lebih radikal.
Perbedaan itu akhirnya memecah Sarekat Islam menjadi dua kubu besar.
Perpecahan yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Fenomena serupa bahkan muncul di Minangkabau pada 1916.
Di sana, perbedaan bukan hanya soal sosialisme atau Islam, tetapi juga menyangkut tafsir keagamaan.
Kelompok Islam modern menyebut diri mereka sebagai “SI Kartu Putih”, sementara kelompok tradisional yang banyak dipengaruhi jaringan surau dan kaum sufi dikenal sebagai “SI Kartu Merah”.
Artinya, bahkan di dalam satu agama sekalipun, perbedaan cara pandang mampu menciptakan sekat-sekat baru.
Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar sering kali runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pertarungan gagasan di dalam tubuhnya sendiri.
Ini Bukan Sekadar Kisah SI Merah dan SI Putih
Melihat peristiwa ini hanya sebagai konflik antara kelompok kiri dan kelompok Islam adalah penyederhanaan sejarah.
Yang terjadi sesungguhnya adalah perebutan arah masa depan.
Setiap kelompok merasa membawa kebenaran.
Setiap kelompok merasa mewakili kepentingan rakyat.
Dan setiap kelompok yakin bahwa jalan merekalah yang paling tepat.
Masalahnya, ketika keyakinan berubah menjadi kepentingan politik, perbedaan yang semula bisa didiskusikan sering berubah menjadi pertarungan kekuasaan.
Di sinilah sejarah memberi pelajaran yang pahit.
Perbedaan adalah sesuatu yang alamiah. Dalam tradisi keagamaan, perbedaan bahkan sering dipandang sebagai bagian dari sunnatullah—keniscayaan kehidupan manusia.
Namun ketika kepentingan politik mulai bermain, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai kekayaan gagasan. Ia berubah menjadi alat pemisah.
Dampaknya Masih Terasa Hingga Hari Ini
Lebih dari seabad telah berlalu sejak SI Merah dan SI Putih berpisah jalan.
Tetapi pola yang sama masih berulang.
Partai politik pecah karena faksi.
Organisasi masyarakat terbelah karena perbedaan pandangan.
Media sosial dipenuhi kubu-kubu yang saling menganggap paling benar.
Teknologi berubah. Generasi berganti. Namun pola konfliknya tetap sama.
Karena sesungguhnya masalah terbesar bukanlah perbedaan itu sendiri.
Masalah terbesar muncul ketika manusia lebih sibuk memenangkan kelompoknya daripada memahami kelompok lain.
Sejarah Sarekat Islam mengajarkan satu hal penting: sebuah gerakan bisa tumbuh besar karena persatuan, tetapi juga bisa melemah karena perebutan arah di dalam dirinya sendiri.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita belajar dari sejarah itu, atau justru sedang mengulanginya dalam bentuk yang berbeda? @dimas







