Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

SI Merah, SI Putih: Dari Perbedaan Menjadi Perpecahan

by dimas
Juni 12, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Perpecahan SI Merah dan SI Putih bukan sekadar konflik organisasi. Ini kisah tentang ideologi, kekuasaan, dan pola politik yang masih berulang hingga hari ini.

Tabooo.id – Di awal abad ke-20, Hindia Belanda sedang bergerak menuju sebuah zaman baru. Kaum bumiputra mulai mengenal organisasi, pendidikan modern, dan gagasan tentang perlawanan. Namun, di tengah semangat kebangkitan itu, sebuah benih perpecahan perlahan tumbuh. Bukan karena agama. Bukan pula karena suku. Melainkan karena ideologi.

Tahun 1913, seorang aktivis sosialis Belanda bernama Henk Sneevliet tiba di Hindia Belanda. Awalnya ia dikenal dekat dengan lingkungan mistik Katolik, tetapi kemudian bertransformasi menjadi tokoh sosial-demokrat revolusioner yang aktif dalam gerakan buruh. Setahun kemudian, ia mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) di Surabaya, organisasi yang kelak menjadi cikal bakal gerakan komunis di Indonesia.

Saat itu, ISDV belum memiliki basis massa pribumi yang kuat. Anggotanya didominasi orang-orang Belanda dan Indo-Eropa progresif. Namun, Sneevliet memahami satu hal penting: revolusi tidak mungkin lahir tanpa dukungan rakyat bumiputra.

Karena itulah ISDV mulai menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi pribumi yang sedang berkembang. Salah satunya adalah Insulinde. Tetapi perhatian terbesar mereka akhirnya tertuju kepada Sarekat Islam (SI), organisasi perdagangan dan pergerakan terbesar yang dimiliki rakyat Indonesia saat itu.

Ketika Sarekat Islam Menjadi Medan Perebutan Ideologi

Sarekat Islam lahir sebagai wadah ekonomi dan sosial bagi kaum pribumi. Organisasi ini awalnya bertujuan melindungi kepentingan pedagang pribumi dari dominasi ekonomi yang mereka rasakan dari kelompok pedagang yang lebih kuat saat itu.

Ini Belum Selesai

Di Balik Seruan “Indonesia Bangkrut”, Ada Krisis yang Tak Terlihat

Melawan Simplifikasi Sejarah: Indonesia Sedang Menuju Reformasi Jilid 2?

Namun besarnya pengaruh SI membuat organisasi ini menjadi sasaran berbagai arus pemikiran politik.

ISDV masuk ke dalam tubuh Sarekat Islam. Di sinilah titik balik sejarah itu terjadi.

Perlahan, muncul dua kutub yang saling berhadapan.

Di satu sisi ada SI Putih, dipimpin oleh Haji Agus Salim, yang mempertahankan identitas Islam dan memilih jalur organisasi yang lebih moderat serta bertahap. Basis utamanya berada di Yogyakarta.

Di sisi lain muncul SI Merah, dipimpin Semaoen, yang semakin dipengaruhi gagasan sosialisme dan revolusi kelas. Basis gerakannya berkembang pesat di Semarang.

Perbedaan itu mula-mula tampak sebagai perbedaan strategi. Namun lama-kelamaan berubah menjadi benturan ideologi.

Yang satu percaya perubahan dilakukan melalui musyawarah dan konsolidasi organisasi.

Yang lain percaya bahwa kaum tertindas membutuhkan perubahan yang lebih cepat dan lebih radikal.

Perbedaan itu akhirnya memecah Sarekat Islam menjadi dua kubu besar.

Perpecahan yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Fenomena serupa bahkan muncul di Minangkabau pada 1916.

Di sana, perbedaan bukan hanya soal sosialisme atau Islam, tetapi juga menyangkut tafsir keagamaan.

Kelompok Islam modern menyebut diri mereka sebagai “SI Kartu Putih”, sementara kelompok tradisional yang banyak dipengaruhi jaringan surau dan kaum sufi dikenal sebagai “SI Kartu Merah”.

Artinya, bahkan di dalam satu agama sekalipun, perbedaan cara pandang mampu menciptakan sekat-sekat baru.

Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar sering kali runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pertarungan gagasan di dalam tubuhnya sendiri.

Ini Bukan Sekadar Kisah SI Merah dan SI Putih

Melihat peristiwa ini hanya sebagai konflik antara kelompok kiri dan kelompok Islam adalah penyederhanaan sejarah.

Yang terjadi sesungguhnya adalah perebutan arah masa depan.

Setiap kelompok merasa membawa kebenaran.

Setiap kelompok merasa mewakili kepentingan rakyat.

Dan setiap kelompok yakin bahwa jalan merekalah yang paling tepat.

Masalahnya, ketika keyakinan berubah menjadi kepentingan politik, perbedaan yang semula bisa didiskusikan sering berubah menjadi pertarungan kekuasaan.

Di sinilah sejarah memberi pelajaran yang pahit.

Perbedaan adalah sesuatu yang alamiah. Dalam tradisi keagamaan, perbedaan bahkan sering dipandang sebagai bagian dari sunnatullah—keniscayaan kehidupan manusia.

Namun ketika kepentingan politik mulai bermain, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai kekayaan gagasan. Ia berubah menjadi alat pemisah.

Dampaknya Masih Terasa Hingga Hari Ini

Lebih dari seabad telah berlalu sejak SI Merah dan SI Putih berpisah jalan.

Tetapi pola yang sama masih berulang.

Partai politik pecah karena faksi.

Organisasi masyarakat terbelah karena perbedaan pandangan.

Media sosial dipenuhi kubu-kubu yang saling menganggap paling benar.

Teknologi berubah. Generasi berganti. Namun pola konfliknya tetap sama.

Karena sesungguhnya masalah terbesar bukanlah perbedaan itu sendiri.

Masalah terbesar muncul ketika manusia lebih sibuk memenangkan kelompoknya daripada memahami kelompok lain.

Sejarah Sarekat Islam mengajarkan satu hal penting: sebuah gerakan bisa tumbuh besar karena persatuan, tetapi juga bisa melemah karena perebutan arah di dalam dirinya sendiri.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita belajar dari sejarah itu, atau justru sedang mengulanginya dalam bentuk yang berbeda? @dimas

Tags: Konflik IdeologiSarekat IslamSejarah Pergerakan IndonesiaSi MerahSi Putih

Kamu Melewatkan Ini

Islam Kiri: Kenapa Kita Takut pada “Kiri”, Tapi Tidak pada Ketidakadilan?

Islam Kiri: Kenapa Kita Takut pada “Kiri”, Tapi Tidak pada Ketidakadilan?

by dimas
Juni 12, 2026

Ketika kata "kiri" selalu dikaitkan dengan PKI, sejarah justru menunjukkan bahwa banyak tokoh Muslim pernah mengadopsi semangat sosialisme untuk membela...

Kiri: Musuh Bangsa atau Korban Narasi?

Kiri: Musuh Bangsa atau Korban Narasi?

by dimas
Juni 11, 2026

Kiri sering hadir sebagai ancaman dalam ingatan publik. Namun, benarkah ia musuh bangsa, atau hanya korban sejarah yang dipelintir? Tabooo.id...

Tan Malaka: Bisakah Islam dan Kiri Bersatu?

Tan Malaka: Bisakah Islam dan Kiri Bersatu?

by dimas
Juni 8, 2026

Satu abad lalu, Tan Malaka mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga kini: bisakah Islam dan kiri bersatu dalam perjuangan melawan...

Next Post
Islam Kiri: Kenapa Kita Takut pada “Kiri”, Tapi Tidak pada Ketidakadilan?

Islam Kiri: Kenapa Kita Takut pada “Kiri”, Tapi Tidak pada Ketidakadilan?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id