Film Laris Kok Malah Bikin Gelisah?
Tabooo.id: Entertainment – Biasanya, angka 10 juta penonton itu alasan pesta. Konfeti beterbangan. Caption Instagram panjang. Tapi kali ini berbeda.
Di tengah sukses besar Agak Laen 2 yang menyusul Jumbo menembus 10 juta penonton sutradara dan produser Angga Dwimas Sasongko justru merasa tidak tenang.
Bukan karena filmnya kurang laku. Justru karena terlalu laku dan sendirian. Menurut Angga, capaian itu bukan sekadar prestasi, tapi tanda bahaya yang perlu dibaca pelan-pelan.
Dua Film, Puluhan Juta Penonton
Angga menyebut, dari sekitar 120 juta tiket bioskop yang terjual sepanjang 2025, 21 juta tiket hanya berasal dari dua film.
Angka ini memang belum dikunci data resminya. Namun, pesannya sudah jelas.
Bioskop ramai. Industri terlihat sehat. Tapi distribusi penonton timpang.
Sementara dua judul berpesta, puluhan film lain harus bertarung demi bertahan beberapa hari di layar.
Bioskop Jalan Pakai Mesin Hitung
Pengamat film Hikmat Darmawan melihat kegelisahan Angga sebagai suara jujur dari masalah yang lebih besar. Masalahnya bukan soal kualitas film. Masalahnya ada di sistem.
Saat ini, industri film berjalan dengan logika yang dingin dan mekanis.
Terlalu banyak film ingin tayang.
Layar bioskop tetap terbatas.
Jika tingkat okupansi di bawah 10 persen, bioskop langsung mencoret film dari jadwal. Sistem tidak peduli kualitas. Mesin hanya membaca angka. Kamis tayang, Jumat sepi, Sabtu bisa hilangn
Bertahan Hidup dengan Cara Terpaksa
Tekanan itu mendorong praktik ekstrem. Beberapa produser membeli tiket filmnya sendiri. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi demi menyelamatkan jam tayang.
Targetnya sederhana: bertahan sampai akhir pekan, saat penonton biasanya datang.
Menurut Hikmat, praktik ini jelas tidak sehat. Antrean film makin panjang. Persaingan jatah layar makin brutal. Sementara itu, sistem tetap memanjakan pemain bermodal besar dan bereputasi lama.
Ada film yang menunggu enam tahun untuk tayang. Ada juga yang baru muncul judulnya, langsung dapat tanggal rilis strategis.
Ketika Cerita Jadi Seragam
Dampaknya terasa sampai ke penonton. Film yang hadir di bioskop terasa mirip. Formula berulang. Genre saling meniru.
Hikmat menegaskan, jangan buru-buru menyalahkan penonton. Mayoritas orang hanya menonton apa yang tersedia. Selera dibentuk oleh sistem, bukan sebaliknya.
Gatekeeper memegang kendali. Pemain baru sulit masuk. Regenerasi tersendat. Akhirnya, cerita yang beredar makin sempit.
Ironisnya, Indonesia punya penonton yang sangat beragam. Namun film yang sampai ke layar justru diseragamkan.
Saat Film Laris Jadi Alarm Bahaya
Kegelisahan Angga membuka obrolan penting. Film laris memang kabar baik. Tapi ketika pasar hanya dikuasai segelintir judul, industri sedang berjalan pincang.
Solusi tidak berhenti di produksi film bagus. Industri perlu menambah layar, memperbaiki sistem penjadwalan, dan membuka akses distribusi yang adil.
Kalau tidak, kejenuhan tinggal menunggu waktu. Penonton akan bosan. Potensi pasar besar akan terbuang.
Jadi sekarang pertanyaannya sederhana Kita mau industri film yang ramai tapi sempit, atau ramai dan sehat?
Diskusinya jangan berhenti di “film apa yang laris,” tapi lanjut ke “sistem apa yang bikin film lain tenggelam.” @teguh








