Festival Udin 2026 kembali membuka kasus wartawan Udin yang belum tuntas setelah tiga dekade. Mengapa kebenaran masih belum menemukan ujung?
Tabooo.id – Tiga dekade berlalu, tetapi nama Udin belum benar-benar pergi. Kasus kematian wartawan Bernas itu masih menyisakan pertanyaan yang belum memperoleh jawaban tuntas.
Festival Udin 2026 kembali membuka pertanyaan tersebut. Festival berlangsung di Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, 13–15 Agustus 2026. AJI Yogyakarta menginisiasi kegiatan ini bersama sejumlah lembaga media, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas.
Agenda festival mencakup pameran, aktivitas ruang, diskusi publik, pemutaran film, Album Udin, dan panggung seni. Namun, inti festival bukan sekadar mengenang Udin.

Festival ini menghidupkan kembali satu pertanyaan lama mengapa kasus kekerasan terhadap Udin belum menemukan titik terang?
Ketika Wartawan Dibungkam
Pada 13 Agustus 1996, seseorang menyerang Udin di rumahnya di Bantul. Serangan itu membuatnya mengalami luka parah.
Udin kemudian menjalani perawatan di rumah sakit. Tiga hari setelah serangan, ia meninggal dunia.
Kematian tersebut segera memunculkan dugaan bahwa pekerjaan jurnalistik Udin berkaitan dengan serangan itu.
Dugaan tersebut tidak muncul tanpa konteks. AJI mencatat Udin pernah menulis sejumlah isu sensitif di Bantul, termasuk dugaan penyimpangan dana pembangunan dan persoalan politik pemerintahan daerah.
Namun, proses hukum kasus ini justru menghadirkan persoalan baru.
Penyidikan yang Tidak Menemukan Jawaban
Polisi pernah menetapkan Dwi Sumaji alias Iwik sebagai terdakwa. Pengadilan Negeri Bantul kemudian membebaskannya karena tidak menemukan bukti yang cukup untuk menyatakan Iwik sebagai pelaku pembunuhan.
Istri Udin, Marsiyem, juga menyatakan Iwik bukan pembunuh suaminya.
Sejak saat itu, pertanyaan publik semakin panjang.
Siapa pelaku sebenarnya?
Apa motif serangan terhadap Udin?
Lalu, mengapa penyelidikan belum mampu menemukan jawaban yang meyakinkan?
AJI mencatat proses penyidikan kasus Udin sejak awal menghadapi persoalan. Mantan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman bahkan menyebut pengusutan kasus tersebut telah salah sejak awal.
Masalahnya bukan sekadar kegagalan menemukan pelaku.
Kasus yang berlarut-larut juga membuat publik kehilangan kepastian.
Festival Udin Membuka Kembali Kasus Lama
Festival Udin 2026 kembali membawa kasus tersebut ke ruang publik melalui diskusi dan pemutaran film The Years of Blur (2014).
Pada hari pertama festival, Ketua Tim Kijang Putih Investigasi Kasus Penganiayaan Udin, Heru Prasetya, mendorong kepolisian memeriksa kembali tiga nama.
Nama tersebut ialah Sri Roso Sudarmo, Sri Kuncoro, dan Edy Wuryanto.
“Agar tidak terus jalan di tempat, Sri Roso Sudarmo, Sri Kuncoro, dan Edy Wuryanto perlu diperiksa kembali,” kata Heru dalam siaran pers Festival Udin, 13 Agustus 2026.
Pernyataan itu tentu tidak sama dengan penetapan tersangka.
Pemeriksaan ulang juga tidak otomatis menunjukkan keterlibatan seseorang dalam tindak pidana.
Namun, desakan tersebut menunjukkan satu hal penting: masih ada pihak yang menilai penyelidikan kasus Udin perlu bergerak kembali.
Di sinilah Festival Udin menemukan relevansinya.
Festival tidak hanya menghidupkan memori. Festival juga menguji kembali pertanyaan yang belum selesai.
Mengapa Kasus Udin Masih Penting?
Ada kecenderungan untuk melihat kasus Udin sebagai tragedi lama.
Tiga puluh tahun memang cukup panjang untuk membuat sebuah kasus kehilangan perhatian publik. Generasi baru juga mungkin mengenal Udin hanya melalui arsip dan cerita dari generasi sebelumnya.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada masa lalu.
Budi Santoso, Direktur LBH Yogyakarta periode 1991–2001, melihat kasus Udin dari perspektif yang lebih luas.
“Lho kan, kasus Udin saja tidak tuntas. Ada kemungkinan kasus yang sama berulang,” ujarnya.
Pernyataan itu menyentuh persoalan paling penting.
Kekerasan terhadap wartawan tidak hanya melukai korban. Kekerasan juga mengancam keberanian profesi jurnalistik.
Seorang wartawan harus bertanya. Ia harus mencari dokumen. Ia harus menguji pernyataan pejabat. Ia juga harus menulis ketika sebuah fakta membuat pihak tertentu tidak nyaman.
Karena itu, ketika kekerasan terhadap wartawan tidak menemukan penyelesaian, rasa aman profesi ikut terganggu.
Dari Udin ke Wartawan Hari Ini
Dunia jurnalistik telah berubah sejak Udin meninggal.
Pada masa Udin, media cetak menjadi salah satu sumber informasi utama. Kini, wartawan bekerja di tengah media sosial, kamera ponsel, platform digital, dan algoritma.
Bentuk tekanannya pun berkembang.
Wartawan kini dapat menghadapi intimidasi langsung, serangan digital, doxing, tekanan hukum, hingga kekerasan fisik.
Teknologinya berubah. Tantangannya belum tentu hilang.
Karena itu, penyelesaian kasus Udin memiliki arti lebih besar daripada menemukan satu nama pelaku.
Penyelesaian kasus juga menyangkut pesan negara kepada wartawan yang bekerja hari ini.
Pesannya sederhana ketika wartawan mengalami kekerasan karena pekerjaannya, negara harus hadir mencari kebenaran.
Jika negara gagal memberikan kepastian, rasa takut dapat tumbuh di ruang redaksi.
Wartawan mungkin mulai bertanya sebelum menulis.
Bukan karena mereka tidak memiliki fakta, tetapi karena mereka menghitung risiko.
Ingatan Tidak Boleh Berhenti di Festival
Festival Udin menghadirkan pameran, film, diskusi, seni, dan ruang perjumpaan. Semua itu membuat kasus Udin kembali hadir di tengah generasi yang berbeda.
Namun, festival tentu tidak dapat menggantikan proses hukum.
Pameran tidak bisa menetapkan pelaku. Film tidak bisa menggantikan penyidikan. Diskusi publik juga tidak bisa menggantikan pembuktian di pengadilan.
Semua itu memiliki fungsi lain menjaga agar pertanyaan publik tidak mati.
Ingatan menjadi penting ketika institusi belum memberikan jawaban.
Sebab, kasus yang terlupakan akan semakin sulit mendapatkan perhatian.
Sebaliknya, kasus yang terus dibicarakan memberi tekanan moral agar institusi tidak berhenti bekerja.
Di sinilah Festival Udin memiliki arti.
Ia mengubah ingatan menjadi pertanyaan.
Ia mengubah pertanyaan menjadi percakapan.
Dan percakapan publik dapat menjadi pengingat bahwa sebuah kasus belum selesai hanya karena waktu terus berjalan.
Ini Bukan Sekadar Kasus Lama. Ini Pola.
Kasus Udin menunjukkan persoalan yang lebih besar daripada misteri pembunuhan seorang wartawan.
Ini bukan sekadar kasus lama. Ini tentang bagaimana negara menghadapi kekerasan terhadap orang yang bekerja mencari dan menyampaikan kebenaran.
Tiga dekade telah berlalu.
Nama Udin mungkin semakin jauh dari ingatan generasi baru. Namun, pertanyaan tentang kematiannya tetap memiliki relevansi.
Sebab, ketika satu kasus kekerasan tidak memperoleh penyelesaian yang jelas, publik bisa kehilangan kepercayaan.
Ketika kepercayaan hilang, keberanian untuk berbicara ikut terancam.
Dampaknya juga terasa bagi pembaca.
Tanpa wartawan yang berani bertanya, publik kehilangan satu mata untuk melihat kekuasaan.
Tanpa redaksi yang berani mengusut, publik kehilangan satu ruang untuk menguji informasi.
Karena itu, Festival Udin 2026 bukan sekadar acara mengenang seorang wartawan.
Festival ini menjadi pengingat bahwa waktu tidak otomatis menyelesaikan keadilan.
Udin sudah meninggal tiga dekade lalu.
Namun, pertanyaan yang ditinggalkannya masih berdiri di depan kita:
Jika kasus ini belum selesai, sebenarnya siapa yang sedang menunggu siapa untuk bicara? @anisa








