• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Entertainment

Esok Tanpa Ibu: Saat AI Menjadi Pelukan, Bukan Sekadar Mesin

Januari 21, 2026
in Entertainment, Film
A A
Esok Tanpa Ibu: Saat AI Menjadi Pelukan, Bukan Sekadar Mesin

Poster Film Esok Tanpa Ibu 2026. (Foto:Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Pernah membayangkan hidup tanpa ibu namun ditemani versi digitalnya?
Di satu sisi, terdengar canggih. Di sisi lain, terasa mengganggu. Bukan sekadar chatbot kaku. Bukan pula hologram futuristik ala sci-fi murahan. Yang hadir di sini adalah ibu versi AI: wajah sama, suara sama, bahkan cara menenangkan yang terasa akrab.

Karena itulah Esok Tanpa Ibu (2026) terasa langsung menusuk sejak awal. Film drama futuristik garapan Hadrah Daeng Ratu ini menandai perubahan arah yang cukup berani. Jika sebelumnya Hadrah dikenal lewat horor, kali ini ia memilih jalur emosi. Alih-alih mengejar teriakan, ia justru menekan perasaan penonton secara perlahan dan efeknya bertahan lama.

Teknologi Masuk ke Ruang Paling Pribadi

Pada dasarnya, cerita berpusat pada Rama (Ali Fikri), remaja yang hidupnya terasa setengah kosong. Hubungannya dengan sang ayah (Ringgo Agus Rahman) dingin dan penuh jarak. Sebaliknya, kedekatan dengan ibunya (Dian Sastrowardoyo) menjadi satu-satunya pegangan emosional.

Namun, masalah datang tanpa aba-aba.
Sang ibu jatuh koma.

Sejak saat itu, rumah Rama berubah sunyi. Akibatnya, kehilangan menekan dari segala arah. Di tengah kekosongan itulah i-BU muncul—sebuah teknologi AI canggih yang meniru wajah, suara, dan kepribadian ibunya dengan presisi tinggi.

Pada awalnya, i-BU berfungsi sebagai penopang. Rama bisa berbicara, mendengar nasihat, dan merasakan kehangatan yang nyaris nyata. Selain itu, Rama juga percaya teknologi ini mampu merangsang pemulihan saraf ibunya.

Akan tetapi, batas perlahan mengabur.
Lambat laun, Rama tidak lagi sekadar berharap ibunya sadar. Sebaliknya, ia mulai nyaman hidup bersama versi digitalnya.

Antara Pelukan Digital dan Kenyataan yang Menyakitkan

Di titik inilah Esok Tanpa Ibu terasa relevan dan mengusik. Film ini tidak serta-merta memusuhi teknologi. Justru sebaliknya, film ini mengakui bahwa AI dapat menjadi penopang emosi manusia modern. Teknologi bisa menenangkan. Bahkan, teknologi juga bisa menyelamatkan.

Meski demikian, Hadrah menyelipkan pertanyaan yang lebih tajam: sampai kapan?

Apakah AI benar-benar membantu proses menerima kehilangan, atau malah menahannya? Di sisi lain, apakah kenangan yang terus “hidup” membuat seseorang lebih kuat, atau justru membuatnya enggan melangkah ke depan?

Melalui Rama, film ini merepresentasikan generasi yang tumbuh bersama layar dan algoritma. Generasi yang terbiasa mencari solusi cepat, termasuk untuk urusan duka. Karena itu, kritiknya terasa halus namun mengena: tidak semua luka bisa dibereskan lewat pembaruan sistem.

Akting Kuat dan Alasan Wajib ke Bioskop

Dari sisi akting, Ali Fikri tampil emosional tanpa berlebihan. Dengan begitu, Rama hadir sebagai remaja rapuh yang terasa nyata. Sementara itu, Dian Sastrowardoyo meski banyak muncul sebagai AI tetap memancarkan kehangatan khas sosok ibu. Di sisi lain, Ringgo Agus Rahman melengkapi dinamika keluarga dengan performa yang tenang namun menggigit.

RelatedPosts

Dilan ITB 1997: Antara Nostalgia dan Realita yang Nyelekit

Riot Games Rilis Miks, Agent Valorant yang Membawa Beat ke Medan Tempur

Secara teknis, visual i-BU tampil rapi dan meyakinkan. Tidak norak, tidak berisik. Selain itu, audio yang imersif membuat momen sunyi terasa lebih menyayat. Karena alasan itulah film ini jauh lebih pas dinikmati di bioskop ketimbang lewat layar ponsel sambil scroll.

Esok Tetap Datang, Mau atau Tidak

Mengusung judul internasional Mothernet, Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Pada akhirnya, film ini tidak sibuk memberi jawaban. Sebaliknya, ia mengajak penonton merenung.

Tentang kehilangan. Tentang teknologi. Dan tentu saja, tentang keberanian untuk benar-benar melepaskan.

Karena bagaimanapun, esok akan tetap datang.
Pertanyaannya kini sederhana: kita mau menyambutnya dengan kenangan digital, atau dengan hati yang siap menerima kenyataan?

Kalau kamu di posisi Rama, pilihanmu apa? @eko

Tags: AIDian SastroEsok tanpa ibufilm 2026Film Baru
Next Post
Bukan PHK, Tapi Jurang Skill: Peringatan Indonesia di WEF

Bukan PHK, Tapi Jurang Skill: Peringatan Indonesia di WEF

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.