Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Esok Tanpa Ibu: Saat AI Menjadi Pelukan, Bukan Sekadar Mesin

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Pernah membayangkan hidup tanpa ibu namun ditemani versi digitalnya?
Di satu sisi, terdengar canggih. Di sisi lain, terasa mengganggu. Bukan sekadar chatbot kaku. Bukan pula hologram futuristik ala sci-fi murahan. Yang hadir di sini adalah ibu versi AI: wajah sama, suara sama, bahkan cara menenangkan yang terasa akrab.

Karena itulah Esok Tanpa Ibu (2026) terasa langsung menusuk sejak awal. Film drama futuristik garapan Hadrah Daeng Ratu ini menandai perubahan arah yang cukup berani. Jika sebelumnya Hadrah dikenal lewat horor, kali ini ia memilih jalur emosi. Alih-alih mengejar teriakan, ia justru menekan perasaan penonton secara perlahan dan efeknya bertahan lama.

Teknologi Masuk ke Ruang Paling Pribadi

Pada dasarnya, cerita berpusat pada Rama (Ali Fikri), remaja yang hidupnya terasa setengah kosong. Hubungannya dengan sang ayah (Ringgo Agus Rahman) dingin dan penuh jarak. Sebaliknya, kedekatan dengan ibunya (Dian Sastrowardoyo) menjadi satu-satunya pegangan emosional.

Namun, masalah datang tanpa aba-aba.
Sang ibu jatuh koma.

Sejak saat itu, rumah Rama berubah sunyi. Akibatnya, kehilangan menekan dari segala arah. Di tengah kekosongan itulah i-BU muncul—sebuah teknologi AI canggih yang meniru wajah, suara, dan kepribadian ibunya dengan presisi tinggi.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Pada awalnya, i-BU berfungsi sebagai penopang. Rama bisa berbicara, mendengar nasihat, dan merasakan kehangatan yang nyaris nyata. Selain itu, Rama juga percaya teknologi ini mampu merangsang pemulihan saraf ibunya.

Akan tetapi, batas perlahan mengabur.
Lambat laun, Rama tidak lagi sekadar berharap ibunya sadar. Sebaliknya, ia mulai nyaman hidup bersama versi digitalnya.

Antara Pelukan Digital dan Kenyataan yang Menyakitkan

Di titik inilah Esok Tanpa Ibu terasa relevan dan mengusik. Film ini tidak serta-merta memusuhi teknologi. Justru sebaliknya, film ini mengakui bahwa AI dapat menjadi penopang emosi manusia modern. Teknologi bisa menenangkan. Bahkan, teknologi juga bisa menyelamatkan.

Meski demikian, Hadrah menyelipkan pertanyaan yang lebih tajam: sampai kapan?

Apakah AI benar-benar membantu proses menerima kehilangan, atau malah menahannya? Di sisi lain, apakah kenangan yang terus “hidup” membuat seseorang lebih kuat, atau justru membuatnya enggan melangkah ke depan?

Melalui Rama, film ini merepresentasikan generasi yang tumbuh bersama layar dan algoritma. Generasi yang terbiasa mencari solusi cepat, termasuk untuk urusan duka. Karena itu, kritiknya terasa halus namun mengena: tidak semua luka bisa dibereskan lewat pembaruan sistem.

Akting Kuat dan Alasan Wajib ke Bioskop

Dari sisi akting, Ali Fikri tampil emosional tanpa berlebihan. Dengan begitu, Rama hadir sebagai remaja rapuh yang terasa nyata. Sementara itu, Dian Sastrowardoyo meski banyak muncul sebagai AI tetap memancarkan kehangatan khas sosok ibu. Di sisi lain, Ringgo Agus Rahman melengkapi dinamika keluarga dengan performa yang tenang namun menggigit.

Secara teknis, visual i-BU tampil rapi dan meyakinkan. Tidak norak, tidak berisik. Selain itu, audio yang imersif membuat momen sunyi terasa lebih menyayat. Karena alasan itulah film ini jauh lebih pas dinikmati di bioskop ketimbang lewat layar ponsel sambil scroll.

Esok Tetap Datang, Mau atau Tidak

Mengusung judul internasional Mothernet, Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Pada akhirnya, film ini tidak sibuk memberi jawaban. Sebaliknya, ia mengajak penonton merenung.

Tentang kehilangan. Tentang teknologi. Dan tentu saja, tentang keberanian untuk benar-benar melepaskan.

Karena bagaimanapun, esok akan tetap datang.
Pertanyaannya kini sederhana: kita mau menyambutnya dengan kenangan digital, atau dengan hati yang siap menerima kenyataan?

Kalau kamu di posisi Rama, pilihanmu apa? @eko

Tags: film 2026Film Baru

Kamu Melewatkan Ini

“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

by jeje
April 8, 2026

Tabooo.id: Vibes - Horor Indonesia sering mengandalkan visual. Jumpscare, suara keras, dan sosok menyeramkan jadi senjata utama. Tapi “Songko” memilih...

Empat Musim Pertiwi: Pulang ke Rumah atau Kembali ke Luka?

Empat Musim Pertiwi: Pulang ke Rumah atau Kembali ke Luka?

by jeje
April 8, 2026

Tabooo.id: Film - Pulang seharusnya terasa hangat. Tapi bagaimana jika rumah justru menjadi tempat paling asing? Film Empat Musim Pertiwi mengangkat pertanyaan...

Tujuh Tahun Menunggu Maaf: Film Reminders of Him Menguji Arti Kesempatan Kedua

Tujuh Tahun Menunggu Maaf: Film Reminders of Him Menguji Arti Kesempatan Kedua

by eko
Mei 8, 2026

Tabooo.id: Film - Pernah nggak sih hidup terasa seperti tombol undo di keyboard yang rusak? Mau menyesal sekeras apa pun,...

Next Post
Bukan PHK, Tapi Jurang Skill: Peringatan Indonesia di WEF

Bukan PHK, Tapi Jurang Skill: Peringatan Indonesia di WEF

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id