Tabooo.id: Deep – Pagi itu, layar konferensi Davos menyorot wajah Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Suaranya tegas “Kita tidak lagi hidup dalam dunia yang sepenuhnya netral.” Rantai pasok, sistem pembayaran, bahkan perdagangan bisa berubah menjadi alat tekanan politik “a vector of coercion.” Di dunia lama, ketergantungan ekonomi hanya jalur pasif. Kini, jalur itu memiliki arah, bisa memaksa, bisa menekan. Infrastruktur keuangan seperti SWIFT, aturan perdagangan WTO, bahkan rantai pasok global, Carney berkata, telah dipersenjatai. Stabilitas lama bukan lagi strategi.
Beberapa minggu kemudian, Ray Dalio, investor global dan pendiri Bridgewater Associates, menegaskan hal serupa di Munich Security Conference. Ia mengamati pola sejarah persaingan antarnegara besar merembet ke perdagangan, teknologi, keuangan, dan militer. Ketergantungan yang dulu dianggap kekuatan bersama kini menjadi kerentanan nyata.
Namun, pandangan optimistis muncul dari Gubernur California, Gavin Newsom. Politik isolasionis hanyalah fase sementara. Demokrasi Amerika memiliki mekanisme koreksi. Dunia, katanya, tidak memasuki babak gelap; hanya melalui periode keras. Tapi peringatan Carney dan Dalio sulit diabaikan. Sanksi ekonomi meluas, teknologi dibatasi, perdagangan terfragmentasi. Netralitas pasif tidak lagi cukup.
Ketergantungan Ekonomi: Ancaman atau Peluang?
Di tengah persaingan teknologi AS dan China, semikonduktor, kecerdasan buatan, dan mineral hijau menjadi garis depan peperangan baru. AS dengan proteksi teknologinya dan China dengan dominasi rantai pasok menciptakan risiko keamanan nasional bagi negara yang tergantung. Indonesia menghadapi dilema serupa.
Presiden Prabowo menekankan kedaulatan pangan dan energi, membangun apa yang bisa disebut “otonomi strategis”. Ketergantungan kini bukan sekadar risiko ekonomi; ia bisa menjadi alat tekanan politik. Oleh karena itu, memperkuat fondasi domestik adalah langkah rasional. Namun kedaulatan yang tangguh juga bersifat ofensif. Indonesia harus mampu membangun daya tawar yang membuat dunia menghitung ulang posisinya.
Contohnya terlihat jelas di sektor nikel. Pada akhir Januari 2026, harga di London Metal Exchange melonjak setelah pemerintah menyesuaikan kuota produksi. Uni Eropa yang semula menuntut melalui WTO kini menyadari ketergantungan mereka. Amerika Serikat, sebaliknya, lebih pragmatis: memberikan akses pada mineral kritis bagi industri Ford dan Tesla, sementara Indonesia tetap mengamankan pasar produk unggulannya dengan tarif lebih bersahabat.
Tarik-Ulur Ekonomi dan Kehidupan Rakyat
Meskipun ekspor ke AS hanya sekitar 10% dari total, sektor tekstil, garmen, dan alas kaki di Jawa Tengah dan Barat sangat rentan. Jutaan tenaga kerja, mayoritas perempuan, bekerja dengan margin tipis. Kenaikan tarif lebih dari 30% bisa memicu ledakan pengangguran. Ini bukan sekadar angka; ini tentang keluarga yang kehilangan penghasilan, tentang rumah tangga yang harus menunda kebutuhan dasar.
Dengan mengelola rantai pasok dan kekuatan negosiasi, Indonesia membangun “benteng kepentingan”. Ia bisa berkata “tidak” terhadap tekanan eksternal, sekaligus tetap menjadi simpul penting bagi perdagangan global. Strategi ini mensyaratkan kapasitas institusional tinggi tata kelola yang disiplin, kepastian hukum, dan reputasi sebagai mitra terpercaya. Tanpa itu, kedaulatan bisa berubah menjadi proteksionisme mahal, beban jangka panjang bagi rakyat.
Dinamika Kedaulatan: Antara Defensif dan Offensif
Kedaulatan sejati membutuhkan keseimbangan. Cukup kuat untuk menghadapi gangguan, cukup terbuka untuk memanfaatkan peluang, dan cukup disiplin untuk menghindari beban berlebihan. Dunia tidak akan kembali seperti sebelumnya, tetapi juga tidak runtuh. Yang terpenting adalah kemampuan membaca perubahan, menguji kebijakan sendiri, dan menjaga fleksibilitas strategis.
Indonesia menghadapi dunia yang lebih transaksional dan keras. Pemimpin paling siap bukan yang bereaksi keras, tapi yang jernih menilai risiko, yang memahami bahwa satu langkah salah bisa berdampak besar bagi jutaan warga, dan satu langkah tepat bisa mengamankan posisi bangsa di panggung global.
Refleksi Tabooo
Ketika alat ekonomi menjadi senjata, ketergantungan adalah risiko, dan peluang tersembunyi menanti di setiap kebijakan, muncul pertanyaan sederhana apakah kita cukup tangguh menghadapi tekanan luar, atau hanya menunda dampaknya? Dunia mungkin berubah, tapi rakyat Indonesia tetap menjadi tolok ukur sejati keberhasilan strategi nasional.
Dunia tidak lagi netral. Namun, ia selalu memberi ruang bagi yang cermat, bagi yang berani membaca arah angin geopolitik, dan bagi yang berani menyeimbangkan pertahanan dengan inisiatif. Di sinilah Indonesia menulis babak baru antara risiko, peluang, dan keberanian untuk berkata “tidak” sambil tetap mempertahankan relevansi global. @dimas




